Sat,1 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Kuasa Nikel Lukai Hutan dan Masyarakat Kabaena

Kuasa Nikel Lukai Hutan dan Masyarakat Kabaena

kuasa-nikel-lukai-hutan-dan-masyarakat-kabaena
Kuasa Nikel Lukai Hutan dan Masyarakat Kabaena
service

Pagi itu, hawa dingin berkabut pasca hujan mengguyur Desa Tangkeno. Sailan bersiap menuju hutan hendak pergi menyadap nira. Lelaki 61 tahun ini membawa sebilah golok sebagai alat mengiris bunga enau dan bambu penampung nira. Biasanya,  dia menyadap nira manis,  pagi dan sore.  Pukul 07.00 dan 16.00 WITA adalah waktu paling cocok. “Kalau telat, rasanya sudah beda, tidak cocok untuk gula aren,” katanya, 24 Februari 2026. Sailan adalah Ketua Adat Desa Tangkeno, Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Desa yang terkenal dengan sebutan “Negeri di atas Awan” ini berada di perbukitan terapit pegunungan. Kampung ini pun jadi ikon wisata. Setelah parkir motor di pinggir hutan, Sailan berjalan kaki menuju tanaman enau. Dia memanjat enau,  sesampainya di atas  mengiris bagian ujung bunga jantan hingga tetesan nira mulai mengucur. Dia pun memasang bambu penampung. Bambu Sailan biarkan menggantung sampai esok siap panen. Dia panjat belasan enau di beda lokasi satu per satu, sembari mengecek bambu-bambu yang telah tergantung sejak kemarin. Bambu-bambu berisi nira itu dia bawa ke gubuk untuk olah menjadi gula aren. Nurbiah, istri Sailan sudah memanaskan tungku kayu. Nira segar dalam bambu terlebih dulu perempuan 59 tahun ini campur air rendaman kapur sirih dan kayu pohon nangka. Kemudian dia tuang ke kuali satu per satu. Peta ini menunjukkan IUP PT BBS berada dalam kawasan hutan yang turut mencangkup wilayah desa adat Tangkeno dengan konsesi perusahaan. Satya Bumi Proses memasak nira berlangsung sekitar satu jam, sambil aduk tanpa henti hingga mengental. Kemudian mereka cetak dengan tempurung kelapa. Setelah mengeras, sudah jadi gula aren dan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.