Pagi itu, hawa dingin berkabut pasca hujan mengguyur Desa Tangkeno. Sailan bersiap menuju hutan hendak pergi menyadap nira. Lelaki 61 tahun ini membawa sebilah golok sebagai alat mengiris bunga enau dan bambu penampung nira. Biasanya, dia menyadap nira manis, pagi dan sore. Pukul 07.00 dan 16.00 WITA adalah waktu paling cocok. “Kalau telat, rasanya sudah beda, tidak cocok untuk gula aren,” katanya, 24 Februari 2026. Sailan adalah Ketua Adat Desa Tangkeno, Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Desa yang terkenal dengan sebutan “Negeri di atas Awan” ini berada di perbukitan terapit pegunungan. Kampung ini pun jadi ikon wisata. Setelah parkir motor di pinggir hutan, Sailan berjalan kaki menuju tanaman enau. Dia memanjat enau, sesampainya di atas mengiris bagian ujung bunga jantan hingga tetesan nira mulai mengucur. Dia pun memasang bambu penampung. Bambu Sailan biarkan menggantung sampai esok siap panen. Dia panjat belasan enau di beda lokasi satu per satu, sembari mengecek bambu-bambu yang telah tergantung sejak kemarin. Bambu-bambu berisi nira itu dia bawa ke gubuk untuk olah menjadi gula aren. Nurbiah, istri Sailan sudah memanaskan tungku kayu. Nira segar dalam bambu terlebih dulu perempuan 59 tahun ini campur air rendaman kapur sirih dan kayu pohon nangka. Kemudian dia tuang ke kuali satu per satu. Peta ini menunjukkan IUP PT BBS berada dalam kawasan hutan yang turut mencangkup wilayah desa adat Tangkeno dengan konsesi perusahaan. Satya Bumi Proses memasak nira berlangsung sekitar satu jam, sambil aduk tanpa henti hingga mengental. Kemudian mereka cetak dengan tempurung kelapa. Setelah mengeras, sudah jadi gula aren dan…This article was originally published on Mongabay
Kuasa Nikel Lukai Hutan dan Masyarakat Kabaena
Kuasa Nikel Lukai Hutan dan Masyarakat Kabaena





Comments are closed.