Ketika hutan di Taman Nasional Tesso Nilo nyaris habis tergerus jadi kebun sawit, di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau, berlaku sebaliknya. Di kawasan penyangga Tesso Nilo ini, warga terutama para perempuan menanam beragam pohon buah-buahan yang berfungsi konservasi sekaligus bernilai ekonomi. Ada buah jeruk, sebagai tanaman yang tak gajah sukai di area kebun yang perlu mereka lindungi. Warga juga tanam buah-buahan yang gajah senangi seperti nangka, dan cempedak, petai, dan lain-lain sebagai kawasan tempat satwa tambun ini cari makan. Ernita, kini merasa tenang. Gajah tak lagi rusak kebun sawitnya. Bukan karena mengusir satwa di lindungi itu, cukup dengan menanam jeruk di sekeliling kebun. Ia jadi pagar ramah satwa untuk melindungi tanaman sawit yang baru memasuki masa panen. “Sebelum tanam jeruk, sawit kami selalu dimakan gajah. Sudah tanam ulang empat sampai lima kali. Memang tak banyak (yang dimakan). Sekitar 15 sampai 20 pokok. Alhamdulillah, setelah buat pagar jeruk, belum pernah dimakan gajah lagi (sawitnya),” kata perempuan 33 tahun ini. Saat ini, Erni melihat gajah justru lebih sering di kebun sawit warga sekitar yang tak berpagar jeruk. Dia bilang, belum semua pemilik kebun sawit warga Desa Lubuk Kembang Bunga (LKB), Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau ini tertarik dan berminat praktik serupa. Erni, mulai melakukan cara alami agar tetap hidup harmoni dengan gajah Sumatera sejak tiga tahun belakangan. Mengingat LKB adalah satu dari sekian desa yang bersinggungan dengan Tesso Nilo. Ini satu kantong gajah Sumatera terbanyak di Riau. Wilayah masyarakat adat, juga pintu masuk taman nasional itu. Rumah Erni, tak…This article was originally published on Mongabay
Upaya Kelompok Tani Perempuan Pulihkan Hutan dan Jaga Tesso Nilo
Upaya Kelompok Tani Perempuan Pulihkan Hutan dan Jaga Tesso Nilo





Comments are closed.