Mubadalah.id – Perempuan menghadapi risiko terkena penyakit dan mengalami masalah kesehatan lebih besar ketimbang laki-laki. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kondisi tubuh perempuan dan laki-laki serta belum adanya kesetaraan mendasar antara perempuan dan laki-laki.
Di bawah ini kami paparkan problem kesehatan yang paling memengaruhi perempuan:
Pertama, kurang gizi. Di negara-negara miskin, masalah kesehatan yang paling merongrong kehidupan perempuan adalah kekurangan gizi. Sejak masa kanak-kanak, sering kali anak-anak perempuan diberi makanan lebih sedikit dibandingkan anak laki-laki.
Akibatnya, tidak jarang anak perempuan tumbuh lebih lambat, sementara tulang-tulangnya tidak berkembang sebagaimana mestinya sehingga kelak ia mengalami kesulitan ketika melahirkan anak.
Ketika anak perempuan menginjak usia remaja, problem ini semakin memburuk karena pada masa itu beban kerjanya meningkat dan kebutuhan pangannya juga bertambah.
Terlebih lagi, remaja putri mulai mengalami haid atau datang bulan. Kemudian mengalami kehamilan dan menyusui yang membuatnya memerlukan pangan lebih banyak dan gizi yang lebih tinggi.
Bila anak perempuan tidak memperoleh makanan yang baik dalam jumlah yang memadai, ia akan mengalami gangguan kesehatan secara umum, termasuk kelelahan yang luar biasa, rasa lemah, serta anemia.
Jika seorang perempuan semasa hidupnya kurang mendapat makanan yang sebanding dengan energi yang ia keluarkan. Kemudian hamil, pada waktu melahirkan nanti mungkin saja ia mengalami berbagai kesulitan. Antara lain perdarahan yang tidak normal, infeksi, atau bayinya lahir terlalu kecil.
HIV/AIDS
Kedua, HIV/AIDS. Secara fisik, seorang perempuan lebih berisiko terkena penyakit yang menular melalui hubungan seksual dibandingkan laki-laki, misalnya kemungkinan terjangkit virus HIV/AIDS.
Hal ini terjadi lantaran air mani laki-laki berada di dalam tubuh perempuan dan kuman penyakit yang dibawa oleh cairan tersebut dapat melewati vagina perempuan lalu masuk ke aliran darahnya.
Selain itu, karena sering kali perempuan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi yang dapat segera terlihat dari luar, bisa jadi ia tidak memperoleh perawatan.
Tetapi, ini lebih merupakan persoalan sosial ketimbang sekadar masalah pribadi. Perempuan sering tidak bisa mengendalikan keputusan mengenai hubungan seksual dan sering kali tidak bisa menolak melakukan hubungan seks yang tidak aman atau tanpa perlindungan.
Akibatnya, setiap tahun terdapat 165 juta perempuan terjangkit penyakit-penyakit yang tertularkan melalui hubungan seksual.
Jika tidak tertangani dengan segera, penyakit-penyakit itu dapat menyebabkan rasa sakit yang melumpuhkan, peradangan atau infeksi organ-organ reproduktif.
Bahkan ketidaksuburan atau kemandulan, berbagai kesulitan saat hamil, serta peningkatan risiko terkena kanker rahim. Secara khusus, harus kita waspadai penularan HIV/AIDS yang pasti akan menyebabkan kematian. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 4.





Comments are closed.