Tulisan sebelumnya…
Sepotong Kisah Memoar yang Berakhir Senyap
Dan begitulah yang terjadi.
Sekira sepekan setelah buku selesai cetak, keberatan datang. Bukan dari penguasa. Dari keluarga besar Pak Moestahal sendiri. Anak menantu beliau datang ke kantor Syarikat di Yogyakarta. Memohon sangat agar buku tidak diedarkan, atau segera ditarik.
Saya tahu kabar itu dari staf penerbitan Syarikat. Kaget. Sebab saat naskah rampung, Pak Moestahal sudah bilang clear: izin keluarga sudah dikantongi. Ia sampaikan itu di kantor P3M, simpul Syarikat di Jakarta.
Tak lama, saya terima pesan tertulis darinya. Isinya tanggapan keluarga, dan satu nomor telepon rumah. “Kalau mau menghubungi, pagi-pagi saja, lewat nomor ini.” Dari pesan itu saya menduga beliau resah luar biasa. Biasanya, kalau penting, ia datang langsung ke kantor.
Berharap dapat mnedapat kabar kondisi baik-baik saja dari Pak Moes ( begitu biasanya saya memanggil pak Achmadi Moestahal), hari-hari itu saya telepon nomor tersebut. Di seberang, yang mengangkat istrinya. Suaranya patah, tidak runtut. Jelas masih ada trauma masa lalu yang meliputinya. Lalu gagang telepon beralih. Anak lelakinya bicara—langsung marah, mendamprat, mengancam saya. Saya hanya diam mendengarkan sampai telepon ditutup. Terus terang, saya sedikit shock. Tak membayangkan akan seperti ini. Detail ancamannya tak etis saya ceritakan. Saya hanya laporkan ke Mas Imam, terutama soal kondisi traumatik keluarga Pak Moestahal.
Beberapa media sempat memberitakan. Mungkin karena jeda antara keberatan dan penarikan sekitar seminggu hingga setengah bulan. Syarikat di Yogya sudah telanjur siapkan launching dan diskusi buku. Publikasi menyebar. Ketika acara diurungkan, media mengendus. Tahulah mereka sebabnya. Saya yang masih bingung dengan kabar Pak Moestahal ditanya wartawan, suatu media. Saya jawab belum tahu persis duduk soal keberatan itu. Dan kalau memang masalah keberatan dari keluarga, saya meminta agar tidak diulik terlalu dalam.
Akibat penerbitan memoar ini, terjadi silang pendapat, mungkin perpecahan di keluarga Pak Moestahal. Kami hanya bisa berharap ketegangan reda, ada saling memahami. Tentu kami tak mungkin mencampuri.
Di sini saya melihat kebesaran hati Mas Imam. Sebagai koordinator, ia segera menyanggupi: tarik semua buku. “Yang utama jangan sampai ada luka baru lagi ke Pak Moestahal,” katanya. Tak ada pikiran rugi finansial. Ia ingin menunjukkan: dampak 65 dan pembunuhan massal serta stigma membuat banyak keluarga tapol hancur, trauma berlapis. Kalau kita ikut menyelesaikan, pemahaman dan penyapaan harus sampai ke level itu.
Mas Imam mengambil sikap prinsipil. Ini soal kemanusiaan. Luka baru bisa lahir untuk kesekian kali pada Pak Moestahal. Di telepon ia bahkan bilang, “Kita temui Pak Moestahal kalau situasi keluarganya sudah adem.” Ia memberi contoh rekonsiliasi itu sendiri. Lebih memakai hati daripada kalkulasi program.
Sikap itu saya lihat di semua simpul. Anak muda NU menyambangi rumah penyintas, menjalankan oral history, berakhir pada persaudaraan. Dan itu terjadi di daerah-daerah sampai sekarang.
Kisah ber-Syarikat dengan Mas Imam terkait penerbitan memoar Pak Moestahal masih bersambung. Pada awal 2007, setelah hilang kontak lama, sejak penerbitan memoarnya pada tahun 2002, Pak Moestahal di suatu pagi hari menelepon saya dari wartel. Suaranya terburu-buru, penuh harap ingin bertemu. Tercatat alamat dan sebuah lokasi; tapi demikian samar, sebab selain terburu-buru, juga karena kendala kualitas jelek hubungan suara telponnya. Pak Moes singkat bercerita, ia sudah pisah dengan keluarga, tinggal dengan perawat di sebuah perumahan di Bogor.
Saya segera mengabari Mas Imam. Besoknya kami menetapkan janjian temu di Jakarta untuk langsung ke Bogor. Hampir seharian penuh, kami memutari kota Bogor dengan angkot, bertanya dari satu perumahan ke perumahan lain. Sampai menjelang malam, alamat tak diketemukan. Data dari suara telepon terlalu samar. Akhirnya kami putuskan pulang. Dengan janji di hati akan kembali jika Pak Moestahal menelpun lagi entah kapan itu.
Pulang balik ke Jakarta.Di kereta KRL, Mas Imam hanya bilang, “Wis tha, Bur, dewe wis ikhtiar.” Perjalanan dan menyusuri perumahan di kota Bogor itu membekas. Kerja-kerja Syarikat masih akan panjang. Kami belum dapat bertemu beliau, tapi kami sudah mencobanya. Menemui seorang penyintas tua renta yang pernah diperlakukan tidak manusiawi oleh rezim orba. Biar tidak kembali merasa sendirian.
Menghadirkan Suara Perempuan Korban (Penyintas) Tragedi 65
Sejak mula, “Stroom” Mas Imam memang kuat untuk menyambangi para penyintas—tokoh atau bukan. Tahun 2001, ia dari Yogya ke Jakarta hanya untuk bertemu mereka. YPKP 65/66, LPKROB, dan forum lain yang baru lahir paska-Reformasi. Karena saya tinggal di Jakarta, pada sambangan ini saya diminta bersama sama beliau. Tiga hari penuh silaturahmi itu.
Terakhir, kami menemui penyintas perempuan. Salah satunya Bu Sulami. Korban yang ditahan di Bukitduri dan penjara lain selama 14 tahun tanpa pengadilan karena tercatat pengurus Gerwani. Kami dapat alamat dari Bapak-bapak YPKP. Ke rumahnya naik bus kota, lanjut bajaj. Rumahnya tak besar, sederhana, bersih. Entah rumah beliau atau saudaranya.
Bu Sulami, 70 tahun, berkebaya putih, menyambut: “Oh, ini anak-anak muda dari NU.” Sekilas saya tahu, ia belum pernah bertemu Mas Imam. Tapi namanya seperti pernah ia dengar. Bicaranya pelan, tenang, tegas. Saya membayangkan masa mudanya: pasti cerdas.
Obrolan tak lama, tapi hangat. Mas Imam takzim, banyak mendengarkan, seperti santri menyimak ibunya. Cerita ini penting. Tampak sekali Mas Imam suka dan terkesan. Ada percakapan batin. Sepanjang pulang, di bus kota, ia banyak menerawang ke langit, ke jendela. Sesekali seperti menyimpan magma. Lalu bisa tidur di tengah deru dan sesak. Saya yang terjaga hanya membatin, “Mbuh ah,” sambil ikut menerawang, memutar ulang detail pertemuan.
Di sumur terdalam saya, Mas Imam tak sekadar menjalankan program. Ia melakukan percakapan hati. Pertemuan dengan Bu Sulami—yang wafat 2005 dan dikenang sebagai simbol ketahanan perempuan politik Indonesia—benar-benar membekas.
Paska itu, akhir 2001, Syarikat mulai menjalankan agenda oral history, sembari ritus ke tetua NU. Program jalan sampai awal 2004, jeda gempa Yogya. Awal 2005, percakapan batin itu seperti “nyambung” kembali. Fokus Syarikat ke “penelitian” yang lebih melibatkan suara perempuan korban.
Tahun-tahun itu Syarikat intens bekerja sama dengan lembaga dan aktivis perempuan di daerah. Juga dengan Komnas Perempuan dan Lingkar Tutur Perempuan untuk advokasi ke DPR RI. Seperti ada “pembagian tugas”: Syarikat menyuarakan korban di kota/kabupaten, Komnas Perempuan di level nasional. Semua kerja sama itu seolah “ditakdirkan”. Sejak 2005 mereka audiensi bersama ke DPR dan lembaga terkait. Dan ketika Mas Imam mangkat, cerita kerja sama itu menghias kenangan para pegiat. Itu menunjukkan luas dan intensnya lingkar pergaulan Mas Imam.
Epilog
Apa yang dilakukan Mas Imam Aziz atas masa lalu yang kelam ini luar biasa. Ide rekonsiliasi akar rumput dilakukan dengan genial dan dengan hati. Ketika jalan keadilan lewat KKR dibelokkan, ketika celah menegakkan keadilan makin sempit, optimisme dan kerja-kerja dari hal sederhana tetap ia lakukan: membuka percakapan hati dengan berbagai pihak, berdiri pada kejujuran. Membuat telaga dan oase di tengah tragedi dan klaim hero.
Sebagai manusia biasa, saya melihat proses yang ia ajarkan adalah bertindak, bukan omon-omon. Bagaimana pihak yang berseteru di masa lalu bisa hidup dan lahir baru dengan perspektif baru. Rekonsiliasi dalam tauladan senyap Mas Imam: dimulai dari saling bercakap dan mendengarkan, saling asah, asih, asuh. Memberi ruang pihak-pihak untuk menulis kembali kisah mereka.
Mas Imam dan kawan-kawan Syarikat sadar: alih-alih mengkonstruksi masa lalu sesuai versi dan kepentingan, kami hanya membantu membuat ruang dengan pilihan sadar untuk perspektif yang lebih imbang. Dan yang penting: berikhtiar agar yang kelam menjadi pelajaran, tak perlu diulangi.
Karya Mas Imam dibantu anak muda NU di banyak tempat adalah ikhtiar membangun ingatan yang jernih di kehidupan masa lalu yang kelam. Forum-forum Syarikat tidak mengorek luka, tapi semua pihak jadi jujur dan terang di pertemuan itu. Ibarat menyalakan lampion bersama, lalu melepaskan apa yang kita bawa ke udara.
Ada banyak satire dialamatkan pada awal Syarikat. Bahkan tuduhan: gerakan ini untuk mendulang suara PKB. Padahal tak satu pun dari kami pengurus partai. Saat tuduhan itu kami konfirmasi ke Mas Imam, ia menjawab khas: “Jarke wae, Dim.”
Dari Mas Imam, kita belajar: rekonsiliasi akar rumput atas tragedi 65 yang dilakukan dengan hati bukan saja jadi batubata cahaya dari kegelapan masa lalu, tapi juga batubata demokrasi bagi Indonesia. Menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Gagasan dan gerakan yang dipraktikkan Mas Imam dan teman-teman Syarikat mesti dilanjutkan sampai tercipta keadilan, pemulihan, kebenaran, serta rekonsiliasi bagi korban dan kita semua. Karena keadilan memerlukan tindakan dan daya juang tanpa henti. Dan itu pergulatan yang tak akan sia-sia.





Comments are closed.