Dengarkan artikel ini:
Audio ini dibuat menggunakan AI.
Di balik para pejabat besar, selalu ada orang-orang biasa yang menyimpan serpihan rahasia kekuasaan. Misteri kematian Sutrimo membuka pertanyaan yang lebih dalam, mengapa sopir, ART, dan pengurus rumah tangga kerap muncul dalam kasus-kasus besar Indonesia?
Di dalam setiap bangunan kekuasaan, selalu terdapat dua lapisan yang bekerja secara bersamaan. Lapisan pertama adalah mereka yang berada di panggung yang terlihat publik, pejabat, institusi, kewenangan, dan keputusan-keputusan resmi.
Lapisan kedua adalah ruang belakang yang nyaris tak tampak, meliputi sopir pribadi, pengurus rumah tangga, asisten pribadi, ajudan, dan mereka yang setiap hari berada di sekitar pusat kekuasaan.
Ironisnya, sejarah sering menunjukkan bahwa ketika sebuah krisis besar pecah, perhatian publik justru berbelok kepada orang-orang yang berada di lapisan kedua tersebut.
Demikian pula ketika nama Sutrimo, pengurus rumah tangga yang pernah berada di lingkungan Jampidsus Febrie Adriansyah, muncul dalam perbincangan publik setelah kematiannya yang memunculkan berbagai tanda tanya.
Hingga kini, belum terdapat kesimpulan resmi yang menyatakan bahwa kematian tersebut berkaitan dengan perkara hukum tertentu. Sore ini, Polda Metro Jaya baru saja memberikan keterangan pers yang pada intinya masih dalam tahap penyelidikan.
Namun, perhatian publik tidak lahir dari ruang hampa, melainkan muncul dari sebuah pola yang berulang. Orang-orang yang hidup di sekitar episentrum kekuasaan kerap terseret ke dalam pusaran peristiwa yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Fenomena itu dapat ditemukan dalam sejumlah kasus besar Indonesia. Kuat Ma’ruf, yang pada awalnya hanya dikenal sebagai sopir pribadi Ferdy Sambo, kemudian menjadi bagian penting dalam konstruksi hukum kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat.
Susi, asisten rumah tangga keluarga Sambo, berubah menjadi saksi yang diperhatikan publik karena keterangannya membantu menyusun kronologi peristiwa.
Dalam perkara korupsi yang menjerat Lukas Enembe, nama Basuki Rahmat Suminta, mantan sopir pribadi, pun ikut masuk ke dalam radar penyidikan karena dianggap memiliki informasi yang relevan.
Kesamaan mereka bukanlah status hukum, melainkan posisi sosial. Mereka berada cukup dekat untuk melihat, mendengar, dan mengetahui hal-hal yang tidak tercatat dalam dokumen resmi.
Dalam perspektif Pierre Bourdieu, mereka memiliki apa yang disebut sebagai positioning berupa social capital yang unik, yaitu bukan kekuasaan formal, melainkan akses. Dan dalam dunia politik, akses kerap kali lebih bernilai daripada jabatan.
Lantas, mengapa eksistensi para aktor di belakang panggung tersebut kiranya layak untuk tak disebut sebagai “figuran” atau NPC belaka?
Geometri Kedekatan
Kekuasaan sesungguhnya tidak hanya bekerja melalui struktur formal. Michel Foucault mengingatkan bahwa kekuasaan mengalir melalui relasi-relasi sosial yang tersebar di berbagai ruang kehidupan.
Oleh karena itu, memahami pejabat tanpa memahami lingkungan terdekatnya sering kali menghasilkan pembacaan yang tidak utuh.
Sopir mengetahui pola perjalanan dan tak jarang percakapan ponsel di dalam kabin kendaraan. Pengurus rumah tangga mengetahui ritme keseharian juga secercah percakapan.
Asisten pribadi mengetahui agenda yang tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi. Mereka mungkin tidak ikut mengambil keputusan, tetapi mereka menyaksikan proses yang melahirkan keputusan tersebut.
Dalam ilmu intelijen modern, kelompok seperti ini sering disebut sebagai proximity actors, individu yang memperoleh nilai strategis bukan karena otoritas yang dimiliki, melainkan karena kedekatan fisik dan sosial dengan pusat kekuasaan. Mereka menjadi semacam arsip hidup yang menyimpan fragmen-fragmen informasi yang tersebar.
Di titik inilah kemunculan nama mendiang Sutrimo memperoleh konteks yang lebih luas. Bukan semata karena siapa dirinya, melainkan karena posisi yang pernah ia tempati.
Publik memahami bahwa seseorang yang berada dalam lingkaran terdekat pejabat strategis berpotensi mengetahui berbagai dinamika yang tidak diketahui masyarakat umum.
Namun, agaknya terdapat bahaya besar dalam cara publik memandang posisi tersebut. Kedekatan sering kali disamakan dengan keterlibatan.
Padahal keduanya merupakan hal yang berbeda. Seseorang dapat mengetahui banyak hal tanpa menjadi pelaku. Seseorang dapat berada di dekat peristiwa tanpa menjadi bagian dari peristiwa itu sendiri.
Karenanya, dalam kasus mendiang Sutrimo, setiap upaya menghubungkan kematiannya dengan perkara hukum tertentu harus ditempatkan dalam koridor kehati-hatian. Fakta dan spekulasi adalah dua wilayah yang berbeda.
Yang pertama dibangun oleh bukti, sementara yang kedua dibangun oleh dugaan. Dan dalam negara hukum, jarak antara keduanya harus dijaga dengan ketat.

Bayangan Kekuasaan
Kasus mendiang Sutrimo pada akhirnya membuka diskusi yang lebih mendasar tentang anatomi kekuasaan di Indonesia.
Selama ini, perhatian publik cenderung tertuju pada aktor-aktor utama. Menteri, jenderal, jaksa, gubernur, atau pengusaha besar. Padahal di belakang mereka terdapat jaringan informal yang menopang aktivitas sehari-hari.
Douglass North menyebut bahwa institusi informal sering kali sama pentingnya dengan institusi formal dalam menentukan bagaimana kekuasaan bekerja.
Dalam konteks Indonesia, jaringan personal, kedekatan sosial, dan hubungan kepercayaan masih memainkan peran yang sangat besar. Maka dari itu, orang-orang yang berada di lingkaran domestik pejabat memiliki posisi yang unik: mereka tidak memiliki kewenangan, tetapi memiliki akses terhadap informasi yang bernilai.
Dari sudut pandang tersebut, misteri kematian Sutrimo sesungguhnya bukan hanya tentang satu individu, melainkan menjadi cermin yang memperlihatkan bagaimana publik memandang relasi antara kekuasaan dan informasi.
Setiap kali seorang sopir, ajudan, atau pengurus rumah tangga muncul dalam perkara besar, masyarakat seakan diingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya hidup di ruang rapat, tetapi juga di ruang tamu, garasi, halaman rumah, dan percakapan sehari-hari yang tidak pernah tercatat dalam notulensi resmi.
Di sinilah letak paradoksnya. Semakin rendah posisi formal seseorang dalam struktur kekuasaan, sering kali semakin tinggi nilai informasi yang dimilikinya.
Mereka tidak terlihat, tetapi mengetahui banyak hal. Mereka tidak berada di panggung utama, tetapi menyaksikan jalannya pertunjukan dari jarak yang sangat dekat.
Karena itu, “otopsi” atas kasus Febrie dan misteri kematian Sutrimo semestinya tidak berhenti pada pencarian hubungan kausal yang belum terbukti.
Yang lebih penting adalah membaca pola yang lebih besar, bagaimana ruang privat para pemegang kekuasaan dapat menghasilkan aktor-aktor informal yang tiba-tiba menjadi relevan ketika krisis muncul.
Sampai bukti resmi berbicara, kematian Sutrimo tetap berada dalam wilayah tanda tanya. Namun satu hal yang sudah dapat dipastikan adalah bahwa peristiwa ini kembali mengingatkan publik tentang sebuah hukum tak tertulis dalam politik, rahasia terbesar kekuasaan sering kali tidak tersimpan di meja pejabat, melainkan di sekitar orang-orang yang setiap hari hidup di sekelilingnya. (J61)





Comments are closed.