Tue,26 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Legenda Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga yang Jadi Benda Pusaka Keraton, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Legenda Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga yang Jadi Benda Pusaka Keraton, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

legenda-kiai-sedayu-dan-kanjeng-kiai-naga-yang-jadi-benda-pusaka-keraton,-cerita-rakyat-dari-yogyakarta
Legenda Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga yang Jadi Benda Pusaka Keraton, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
service

21 Maret 2026 09.00 WIB • 2 menit

Legenda Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga yang Jadi Benda Pusaka Keraton, Cerita Rakyat dari Yogyakarta


Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga adalah dua benda pusaka yang ada di Keraton Yogyakarta. Konon ada sebuah cerita rakyat dari Yogyakarta yang menceritakan tentang legenda Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga tersebut.

Menurut ceritanya, kedua benda pusaka ini didapatkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I dulunya. Kedua benda pusaka ini kemudian dititahkan untuk terus dijaga hingga saat sekarang.

Bagaimana kisah dibalik legenda Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga tersebut?

Legenda Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga yang Jadi Benda Pusaka Keraton, Cerita Rakyat dari Yogyakarta

Dinukil dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, alkisah pada suatu hari Sri Sultan Hamengkubuwana I hendak pergi melakukan pertapaan. Sang sultan hendak pergi bertapa ke sebuah telaga yang ada di Desa Kemundung.

Telaga tersebut dianggap sebagai tempat yang cocok untuk mendekatkan diri dengan Yang Kuasa. Atas dasar inilah sultan memutuskan untuk melakukan pertapaan di Telaga Kemundung tersebut.

Sebelum berangkat, sultan menitipkan sebuah titah pada sang patih. Sultan meminta patih untuk menggantikan dirinya sementara dalam memimpin pemerintahan Mataram.

Setelah itu, sultan langsung pergi menuju Telaga Kemundung. Sang sultan menyamar sebagai rakyat biasa dengan mengenakan pakaian seadanya.

Sang sultan tidak ingin masyarakat Mataram mengetahui bahwa dia ada di antara mereka. Selain itu, sang sultan juga ingin melihat secara langsung realita apa yang tengah terjadi di daerah yang dipimpinnya tersebut.

Setelah beberapa waktu, sampailah sang sultan di Telaga Kemundung. Sultan kemudian langsung memulai pertapaannya dengan khusyuk dan khidmat.

Meskipun sudah bertapa cukup lama, belum ada tanda-tanda alam yang didapatkan oleh sultan. Tiba-tiba muncul dua ekor kuda yang lengkap menggunakan pelana serta kendali mulutnya berlari ke arah sang sultan dengan kencangnya.

Bersamaan dengan kemunculan dua kuda ini, tiba-tiba ada juga sebuah suara yang bergema di sana. Suara tersebut meminta sultan untuk menangkap kedua ekor kuda tersebut.

Begitu mendengar suara ini, sang sultan langsung membuka kedua matanya. Namun tidak ada seorangpun yang terlihat di sekitar Telaga Kemundung tersebut.

Sultan kemudian langsung mengejar kedua kuda tersebut. Ketika kedua kuda tersebut akan berhasil dipegang, tiba-tiba mereka langsung melarikan diri dengan kencangnya.

Kedua kuda ini melarikan diri ke arah Pantai Selatan. Sang sultan pun mengejar kedua kuda yang melaju kencang tersebut.

Begitu tiba di Pantai Laut Selatan, tiba-tiba kedua kuda itu lenyap seketika. Yang tertinggal di sana hanya pelana dan kendalinya saja.

Sang sultan kemudian membawa kedua benda tersebut ke istana. Berkat kesaktian yang dia miliki, sang sultan bisa membawa kedua benda pusaka itu dengan mudahnya.

Di tengah perjalanan, sang sultan bertemu dengan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga kemudian bertanya hendak ke mana sultan dengan kedua benda tersebut.

Sultan kemudian menjawab jika dia akan membawa kedua benda itu ke istana. Kedua benda ini akan dijadikan pusaka karena didapatkan dengan cara gaib.

Setelah tiba di keraton, sultan kemudian mengenakan pelana dan kendali itu ke kuda-kuda keraton. Namun kuda-kuda tersebut jatuh terkulai karena keberatan.

Melihat hal itu, sultan kemudian mengeluarkan sebuah sabda. Pelana dan kendali kuda tersebut akan diberi nama Kiai Sedayu dan Kanjeng Kiai Naga.

Kedua benda ini akan menjadi pusaka kerajaan. Sultan berpesan jika kedua benda pusaka ini untuk terus dirawat oleh anak keturunannya.

Pesan sultan ini terus dipegang hingga saat sekarang. Biasanya kedua benda pusaka tersebut akan dibersihkan setiap bulan Sura.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.