Fri,15 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam

Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam

manusia-sebagai-khalifah-wajib-menjaga-alam
Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam
service

Mubadalah.id – Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menegaskan bahwa menjaga kelestarian alam merupakan kewajiban umat manusia. Dalam Sikap dan Pandangan Keagamaan yang dikeluarkannya, KUPI menyatakan bahwa manusia, baik laki-laki maupun perempuan, adalah khalifatullah atau wakil Tuhan di muka bumi.

Sebagai khalifah, manusia tidak hanya Tuhan beri hak untuk memanfaatkan alam, tetapi juga wajib untuk merawat dan menjaga keseimbangan ekosistem. Prinsip ini menjadi salah satu dasar pandangan KUPI dalam menyikapi krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.

Para ulama perempuan menilai bahwa banyak kerusakan lingkungan terjadi karena manusia melupakan tanggung jawab tersebut.

Bahkan, alam diperlakukan sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang harus dilindungi.

Menurut KUPI, pandangan Islam menempatkan alam sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki nilai intrinsik. Karena itu, merusak alam berarti melanggar amanah ilahi.

Dalam musyawarahnya, KUPI juga menekankan bahwa tanggung jawab menjaga lingkungan tidak boleh membebani pada kelompok tertentu saja. Semua pihak, dari individu hingga negara, memiliki peran masing-masing.

KUPI menyebut bahwa krisis ekologis yang terjadi saat ini, seperti banjir, kekeringan, dan pencemaran, merupakan peringatan atas kegagalan manusia menjaga keseimbangan alam.

Dampak dari kerusakan tersebut tidak hanya dirasakan oleh generasi sekarang, tetapi juga generasi mendatang. Oleh karena itu, KUPI menilai pentingnya membangun kesadaran ekologis sejak dini.

Pendekatan keagamaan dapat menjadi pintu masuk untuk membentuk kesadaran tersebut. Dengan menjadikan pelestarian alam sebagai bagian dari ibadah, dan masyarakat dapat lebih terdorong untuk terlibat aktif.

KUPI berharap, langkah ini dapat memengaruhi kebijakan publik agar lebih berpihak pada keberlanjutan lingkungan.

Sumber tulisan: Buku Membumikan Fatwa KUPI: Pembelajaran dari Pengelolaan Sampah di Pesantren.

Redaksi

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.