Fri,21 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Manuskrip Arab Nusantara Jadi Bukti Asia Tenggara Aktif Membentuk Dunia Islam

Manuskrip Arab Nusantara Jadi Bukti Asia Tenggara Aktif Membentuk Dunia Islam

manuskrip-arab-nusantara-jadi-bukti-asia-tenggara-aktif-membentuk-dunia-islam
Manuskrip Arab Nusantara Jadi Bukti Asia Tenggara Aktif Membentuk Dunia Islam
service

Depok, NU Online

Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan Islam dari University of St Andrews, Inggris, Andrew Peacock, menegaskan bahwa manuskrip Arab di Asia Tenggara menyimpan bukti penting mengenai keterlibatan aktif masyarakat Nusantara dalam pembentukan tradisi intelektual Islam global. Namun, kekayaan tersebut hingga kini masih belum memperoleh perhatian akademik yang memadai.

Hal itu disampaikan Peacock dalam presentasi berjudul “Diversity in the Arabic Manuscripts of Southeast Asia” pada International Conference on Manuscripts and the Diversity of Islam(s) in Southeast Asia di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Jawa Barat, Rabu (19/8/2026).

Menurut Peacock, manuskrip memiliki kedudukan sangat penting dalam sejarah masyarakat Muslim. Salah satu penyebabnya ialah penyebaran teknologi percetakan di dunia Islam yang berlangsung relatif lambat dan baru berkembang luas pada abad ke-19. Karenanya, manuskrip tetap menjadi sarana utama komunikasi tertulis dalam waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan yang terjadi di Eropa.

Manuskrip tersebut digunakan untuk beragam kepentingan, mulai dari bacaan populer hingga karya teologi yang mendalam. Oleh sebab itu, penelitian mengenai sejarah Islam sebelum pertengahan abad ke-19 hampir tidak mungkin dilakukan tanpa menggunakan sumber manuskrip.

“Sudah tentu menjadi sulit untuk mempelajari sejarah Islam sebelum 1850 tanpa menggunakan manuskrip,” tegas Peacock.

Bahkan menurutnya, untuk wilayah tertentu, manuskrip masih menjadi sumber utama hingga periode yang lebih akhir.

Kendati Islam mempunyai kedudukan sentral dan jumlah pemeluknya sangat besar di Asia Tenggara, tradisi manuskrip Arab di kawasan ini masih relatif sedikit diteliti. Sejumlah karya penting ulama Asia Tenggara yang ditulis dalam bahasa Arab pada masa pramodern juga belum diterbitkan dan masih tersimpan dalam bentuk manuskrip.

Peacock mencontohkan koleksi manuskrip Arab di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang sangat kaya, tetapi belum sepenuhnya diteliti secara memadai. Keterbatasan katalog dan sarana penelitian tersebut terkadang menyulitkan para peneliti untuk menjangkau sumber-sumber primer yang tersedia.

Peacock juga menilai keterabaian manuskrip Arab Nusantara tidak dapat dilepaskan dari cara pandang keilmuan pada masa kolonial. Para sarjana Barat sangat cenderung memusatkan perhatian pada tradisi yang mereka anggap sebagai tradisi tulis pribumi, seperti manuskrip berbahasa Melayu dan Jawa.

Sebaliknya, karya berbahasa Arab, termasuk yang ditulis atau disalin di Asia Tenggara, kerap dianggap sebagai produk bahasa asing yang tidak banyak memberikan informasi mengenai kehidupan masyarakat setempat.

Anggapan lain yang berpengaruh ialah pandangan bahwa bahasa Arab hanya dipertahankan sebagai bahasa ritual karena tidak dipahami oleh kebanyakan Muslim Asia Tenggara. Peacock menilai asumsi tersebut menyesatkan karena bukti-bukti manuskrip menunjukkan penggunaan bahasa Arab yang jauh lebih luas.

Bahasa Arab di Nusantara tidak hanya digunakan untuk kajian Al-Qur’an, hukum Islam, dan kegiatan keagamaan. Bahasa tersebut juga menjadi bahasa diplomasi internasional, tata bahasa, sastra, pemerintahan, dan komunikasi di lingkungan istana.

Peacock menunjukkan bahwa para penguasa di Aceh dan Banten menggunakan bahasa Arab dalam korespondensi diplomatik, termasuk ketika berhubungan dengan penguasa Eropa. Di lingkungan kerajaan, bahasa Arab digunakan untuk mengartikulasikan kekuasaan sultan sekaligus membangun hubungan politik dengan dunia luar.

Bukti berupa karya tata bahasa Arab yang disalin di Jawa pada akhir abad ke-16 juga menunjukkan adanya usaha aktif masyarakat Nusantara untuk mempelajari dan menguasai bahasa Arab. Temuan ini membantah anggapan bahwa bahasa Arab semata-mata merupakan bahasa ritual yang tidak dipahami masyarakat.

Lebih lanjut lagi, selain karya manuskrip yang diproduksi secara lokal, terdapat pula manuskrip asal Timur Tengah yang beredar di Nusantara, terutama dari Yaman dan Hijaz, serta sejumlah wilayah lain. Peredarannya memperlihatkan bahwa Asia Tenggara terhubung dengan jaringan keilmuan dunia Islam yang sangat luas.

Peacock mengingatkan bahwa perpindahan pengetahuan tersebut tidak berlangsung satu arah, yakni dari Timur Tengah menuju Asia Tenggara. Karya dan perdebatan intelektual yang berkembang di Aceh dan wilayah Nusantara lainnya juga beredar serta mendapatkan perhatian di berbagai kawasan dunia Islam.

“Manuskrip-manuskrip, salinannya, hingga penulisnya, relative sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain,” katanya.

Berangkat dari sirkulasi yang luas, kajian terhadap manuskrip dapat mengungkap jaringan intelektual dan artistik yang menghubungkan Nusantara dengan Timur Tengah, Asia Tengah, Afrika Utara, dan kawasan lainnya.

Konferensi yang berlangsung pada 19-20 Agustus 2026 tersebut diselenggarakan oleh Fakultas Studi Islam UIII bersamaan dengan peluncuran Center for Islamic Manuscripts and Written Cultures. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pakar manuskrip, antara lain Andrew Peacock, Oman Fathurahman, Annabel Teh Gallop, Farish A Noor, dan Ervan Nurtawab.

Andrew Peacock dikenal sebagai peneliti sejarah dan kebudayaan intelektual dunia Islam pramo­dern dengan penguasaan sumber berbahasa Arab, Persia, Turki, dan Melayu. Bukunya, Arabic Literary Culture in Southeast Asia in the Seventeenth and Eighteenth Centuries, memperoleh Sheikh Zayed Book Award pada 2025. Ia juga terpilih sebagai Fellow of the British Academy pada 2022.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.