SAYA kira semua orang tahu, NU itu kependekan dari Nahdlatul Ulama. Tapi meski begitu, ada juga beberapa orang di Jawa, dukuh Saya misalnya, punya sebutan unik lain: Nahdlatul Ng-Ulama. Ini tentu bukan semata-mata kelaziman lidah orang Jawa yang sulit melafal huruf ‘ain’, namun bisa jadi lebih karena terbiasa memakai awalan kata ‘eng-‘ atau ‘ng-‘ dalam budaya percakapan sehari-hari mereka. Apalagi, ada aksara Ngo (ꦔ) dalam budaya tulis huruf Jawa: Ho, No, Co, Ro, Ko…, dan seterusnya.
Bisa jadi karena itu orang-orang kemudian melazimkan pelafalan unik itu secara turun-temurun. Terlebih dalam grammer atau tata bahasa Jawa, kata benda yang ditambah ater-ater (tambahan awalan) ng- atau eng- biasanya dalam implementasinya otomatis berubah menjadi kata kerja yang menunjuk pada sebuah proses. Kata benda dalam grammer Jawa ini disebut tembung aran, sedangkan kata kerja disebut tembung kriya. Contoh tembung aran ini: amuk, ombe atau omben (minuman), endog (telur). Ketika ditambah awalan ‘ng-‘ menjadi tembung kriya: ngamuk, ngombe, ngendog.
Nah, dalam konteks ini, ater-ater atau awalan ng- lazimnya dipakai membentuk tembung kriya tanduk (kata kerja aktif), yaitu kata kerja yang bentuk dasarnya berawalan huruf vokal (AIUEO). Ketika menerima ater-ater itu, maka bentuk, pelafalan serta maknanya berubah. Misalnya kata amuk dalam bentuk benda, ketika ditambah ng- maka berubah menjadi ngamuk–mengandung proses tindakan atau aktifitas orangnya sesuai dengan frasa dan konteks peristiwa: “Ada orang mengamuk di pasar,” orang Jawa akan meringkasnya: “Ono wong ngamuk di pasar”.
Contoh lain ada pada perubahan kata endog atau telur sebagai kata benda. Ketika berubah menjadi ‘ngendog’ maka otomatis pelafalan dan maknanya berubah, merujuk pada aktifitas subyek–sedang mengeluarkan endog dari dalam perutnya. “Ayamnya sedang bertelur (proses mengeluarkan telur dari perut hewan)”, maka orang Jawa bisa lebih ringkas: “Pitike ngendog”. Kosakata serupa juga terjadi pada diksi ombe. Lidah orang Jawa umumnya menambah ng-, sehingga menjadi ngombe menunjuk pada aktifitas orang yang sedang minum.
Menariknya, karena grammer Jawa ini tidak terlalu tertib ketika berhadapan dengan bahasa lisan, awalan ng- ini sering ditempel seenaknya pada banyak istilah lain. Contohnya Ng-Ulama tadi. Cara pelafalan Ng-Ulama ini tidak umum. Tapi bagi orang Jawa hal itu masih dianggap lumrah selama maknanya bisa dimengerti.
Cara memahami Ng-Ulama ini sederhana. Kata ulama memang bukan bahasa Jawa murni, tapi serapan dari frasa Arab yang kemudian diadopsi dalam bahasa Jawa, Melayu kemudian Indonesia. Karena bukan kosakata asli Jawa, maka pelafalnya jadi agak aneh ketika ditambah awalan ng-. Namun maksud dan tujuannya masih bisa dipahami, bahwa Ng-Ulama berarti orang yang melebur dalam proses aktifitas seorang ulama.
Lalu ulama itu apa? Ulama secara harfiah berarti orang yang berpengetahuan luas tentang ajaran-ajaran agama Islam, disebut juga orang yang menguasai ilmu tentang Islam. Sehingga ketika kemudian disebut Ng-Ulama, maka itu berarti si ulama atau orang yang paham ilmu agama tadi sedang dalam proses mengamalkan pengetahuannya: mengajar atau ngulang ngaji.
Dalam konteks makna, diksi orang Jawa terasa lebih mengena, bahwa Ng-Ulama itu hakikatnya seorang guru atau ahli ilmu yang kemudian mengajarkan pengetahuan agamanya secara luas. Akan tetapi ini tentu berbeda dengan grammer Arab, bahwa ulama (العلماء) merupakan bentuk jamak (plural). Bentuk tunggal (singular) dari kata ini adalah alim (عالم) yang berarti orang yang berilmu atau berpengetahuan. Sehingga, tidak salah juga kalau memakai diksi ini. Saya terserah saja mau Ulama atau Ng-Ulama.
Awam memahami “Ng-Ulama” dalam Muktamar NU
Lalu apa kaitannya dengan Muktamar NU? Tentu berhubungan. Bagaimanapun NU ini adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan ada yang menyebut terbesar di dunia. Sehingga suksesi kepemimpinan NU; pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah (Ketua Umum PBNU) dan Rais Aam, dalam Muktamar lima tahunan itu sudah pasti membetot perhatian masyarakat luas, bukan hanya bagi warga NU (Nahdliyin) semata.
Karena NU ini organisasi Islam besar, sementara fondasi utamanya adalah kekuatan ulama atau kiai, maka ini erat kaitannya dengan pemahaman dan alasan mereka mendukung calon Ketua Umum PBNU, yang dalam tradisi sosial masyarakat Nusantara pengikut atau pengagumnya tidak sedikit. Para pengikut dan pengagum Ng-Ulama ini lintas teritorial keilmuan.
Di antara jutaan masyarakat Indonesia itu, ada Nahdliyin, non-Nahdliyin, dan santri tentunya, yang mengagumi ulama atau kiai yang dikenal sebagai ahli hadits, ahli fiqih, ahli gramatikal (Qawa’id), atau ahli falakiyah. Bahkan maaf, belakangan juga ada pengagum ulama ahli ekonomi dan politik. Dua yang terakhir ini ada, tapi orang kadang malu-malu menyebut dan mengakuinya.
Sehingga, ketika menjelang Muktamar seperti sekarang, orang lalu ramai-ramai membandingkan para alim atau kiai unggulannya masing-masing sudah biasa saja. Ada yang bilang kiai A lebih cocok karena alim, ahli fikih masih mengajar mengaji mewakili tradisi pesantren. Lalu ada yang bilang oh tidak, kiai B lebih cocok, selain alim bahasa Arab dan Inggrisnya bagus, pengetahuannya dan jaringannya luas.
Kemudian lainnya lagi menyanggah, kiai C lebih cocok, selain alim juga ahli ekonomi syariah, punya pengalaman bisnis dan berpengalaman dalam tata kelola manajemen organisasi. Dia punya kemampuan manajerial bagus untuk mengelola organisasi sebesar NU ini. Inilah logika awam yang mencoba agak intelek di lingkungan masyarakat NU sekarang.
Namun jangan salah, bukan NU namanya kalau tidak melempar argumentasi yang melewati nalar. Misalnya ada Nahdliyin condong mendukung kiai D karena banyak yang menyebutnya waliyullah (kekasih Allah). Padahal lazimnya wali ini bukanlah parameter keahlian atau expert keilmuan tertentu. Wali adalah status atau posisi spesial dalam maqam mulia yang tidak gampang dipahami para awam. Ungkapan populernya: “La ya’riful Wali illal Wali (tidak ada yang benar-benar mengenali wali (Allah) kecuali wali itu sendiri.” Tapi suka atau tidak, saban menjelang Muktamar bahasan seperti ini ada.
Terakhir obrolan orang-orang yang mewakili para aktivis pelajar, mahasiswa, aktivis politisi, sampai pegawai atau pejabat birokrasi. Mereka bilang sebaiknya memilih calon E karena dekat sama presiden, di belakangnya ada partai politik, ada menteri-menteri. Artinya, kalau Kiai C menang maka keuangan organisasi lacar, minimal sampai pemilihan umum nanti logistik operasional organisasi aman.
Begitulah, obrolan semacam ini menjelang Muktamar NU yang tinggal menghitung hari itu sudah sejak berhari-hari lalu muncul dalam ruang-ruang obrolan apapun sehari-hari. Dan entah, Saya happy saja mendengarnya, minimal mereka-mereka itu setidaknya ikutan Ngen-NU (memikirkan NU) pada akhirnya.
Muhammad Taufiq
Wakil Pemimpin Redaksi Arina.id





Comments are closed.