Jakarta, Arina.id—Musyawarah Besar (Mubes) Warga Nahdlatul Ulama (NU) 2026 akan digelar di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim, Seblak, Jombang, Jumat (28/8/2026). Forum ini menjadi ruang bagi warga NU untuk membicarakan arah dan masa depan NU memasuki abad kedua.
Penanggung Jawab Mubes Warga NU 2026, Inayah Wahid, mengatakan forum tersebut digelar untuk memperluas partisipasi warga dalam membicarakan masa depan NU. Mubes tidak diarahkan untuk membahas siapa yang akan memimpin NU, tetapi mengenai NU seperti apa yang ingin dibangun pada abad kedua.
“Pertanyaan yang hendak kita bawa bukan siapa yang akan memimpin NU, tetapi NU seperti apa yang hendak dibangun pada abad kedua, dan untuk siapa kebesaran NU itu diabdikan,” kata Inayah dalam keterangnya di Jakarta.
Menurut Inayah, NU menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan sosial, ekonomi dan teknologi, ketimpangan, krisis lingkungan, persoalan demokrasi, hingga kebutuhan warga yang terus berkembang.
Karena itu, diperlukan ruang percakapan yang melibatkan berbagai unsur warga NU, tidak hanya pengurus organisasi. Mubes akan mempertemukan kiai, nyai dan pengasuh pesantren, warga NU dari berbagai daerah, pengurus NU, perempuan, generasi muda, akademisi, profesional, pelaku ekonomi, penggerak komunitas, aktivis sosial dan lingkungan, pekerja media, seniman, budayawan, hingga kelompok rentan.
“Warga NU harus menjadi subjek dalam membicarakan masa depan jam’iyah. Mereka memiliki pengalaman, kegelisahan, kritik, sekaligus gagasan yang penting untuk didengar,” ujarnya.
Inayah menegaskan Mubes Warga NU 2026 bukan bagian dari mekanisme formal Muktamar ke-35 NU dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan kewenangan struktur organisasi NU.
Forum tersebut juga tidak diarahkan untuk mendukung atau menolak kandidat tertentu dalam Muktamar. “Mubes berfokus pada agenda, nilai, tata kelola, kemandirian, dan masa depan NU,”katanya.
Pembahasan Mubes akan berlangsung melalui sesi pleno dan diskusi kelompok. Sejumlah isu yang akan dibahas antara lain kemandirian NU dan demokrasi, integritas organisasi, serta penguatan peran warga dalam kehidupan NU.
Selain itu, Mubes diharapkan melahirkan agenda prioritas khidmah NU yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Di antaranya ekonomi warga, pendidikan, kesehatan, perlindungan perempuan dan anak, lingkungan hidup, serta keberpihakan kepada kelompok miskin dan terpinggirkan.
Sejumlah tokoh dijadwalkan mengisi Mubes Warga NU 2026, yakni KH A. Mustofa Bisri, Nyai Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, KH dr. Umar Wahid, Prof. Dr. M. Mahfud MD, KH Lukman Hakim Saifudin, dan Ning Alissa Wahid.
Mubes juga ditargetkan menghasilkan Deklarasi Warga NU untuk Abad Kedua, rekomendasi kepada Muktamar ke-35 NU dan kepengurusan NU periode berikutnya, prinsip mengenai kemandirian dan kemaslahatan NU, serta agenda penguatan partisipasi warga.
“Masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh pengurus organisasi. NU hidup melalui jutaan warga yang setiap hari menghidupkan nilai-nilai NU di pesantren, madrasah, kampung, tempat kerja, komunitas, dan berbagai ruang kehidupan masyarakat,” tutur Inayah.





Comments are closed.