Mubadalah.id – Perkembangan dunia digital telah menyasar ke segala sisi kehidupan. Saat ini, rasanya hampir tidak ada sisi kehidupan manusia yang tidak terpengaruh proses digitalisasi.
Adapun kalau kita berbicara mengenai konten di media sosial, saat ini semakin beraneka ragam pula. Banyak sekali video yang berseliweran. Hal tersebut karena dengan mudahnya kita mengakses konten-konten yang ada.
Sayangnya, di balik kemudahan akses dan keberagaman konten tersebut, terdapat sebuah tren yang memprihatinkan. Antaranya yaitu maraknya konten yang meminggirkan, merendahkan, atau bahkan menghina teman disabilitas.
Sebagaimana yang sedang menjadi pembahasan akhir-akhir ini yaitu video dari beberapa pemuda yang membuat konten “Mamaku cari cowok yang agak kurang”. Dalam video tersebut memperlihatkan mereka satu persatu mempraktikkan gerak badan serta berjalan yang menyudutkan teman disabilitas.
Padahal para pemuda tersebut non-disabilitas, dan dengan bergembiranya mereka tertawa setelah mempraktikkan gerakan tersebut. Sempat viral juga konten video yang memperlihatkan joget tisu. Jika kasus tadi pelakunya yaitu para pemuda, adapun konten ini pelakunya adalah beberapa pemudi yang non-disabilitas.
Awalnya mereka terlihat sedang bermain tisu, tetapi di tengah permainan itu tiba-tiba berubah menjadi gerakan yang mengejek teman disabilitas. Seperti halnya pada kasus tadi, mereka melanjutkan dengan tertawa.
Selain dari konten-konten tersebut, terdapat pula live yang dilakukan oleh seseorang. Dengan tujuan mendapatkan gift, ia menggerakkan badannya seperti mengarah pada teman disabilitas. Dan masih banyak lagi konten-konten yang tersebar di masyarakat. Hal ini menunjukkan maraknya konten negatif yang menjadi konsumsi publik.
Dampak dari Konten yang Negatif
Konten-konten yang menghina penyandang disabilitas dan tersebar luas di media sosial itu merupakan perbuatan yang sangat tidak pantas. Konten-konten ini, menuai banyak kecaman dari warganet. Terdapat pula komentar dari beberapa ibu yang anaknya termasuk disabilitas, mereka sampai menangis dan marah melihat konten tersebut.
Karena tidak bisa dipungkiri, kalau perbuatan mereka yang masih berseliweran di media soial akan menjadi contoh juga pada anak-anak. Dan betul saja, saya melihat sendiri ada anak kecil yang non-disabilitas dengan senangnya mempraktikkan gerakan seperti konten-konten tadi di depan teman-temannya.
Sangat miris sekali melihat pemandangan seperti itu. Anak-anak menganggap wajar dan suatu hal yang menyenangkan, karena mereka menirukan orang dewasa. Dan tentu saja, di sinilah tugas saya juga tugas kita semua untuk mulai mengedukasi mereka. Adapun dari konten joget tisu, muncul juga video dari guru yang mengajar di salah satu SLB. Guru tersebut memperlihatkan video tadi kepada para muridnya. Dan apa yang terjadi?
Iya, para murid yang memang mereka disabilitas mengekspresikan rasa sakit hatinya dan memberitahukan bahwa hal tersebut tidak boleh. Dan guru itupun juga mengedukasi kepada masyarakat lewat videonya, bahwasanya membuat video seperti hal tadi merupakan perbuatan yang jelek dan tidak boleh ditiru.
Selain itu, banyak juga teman disabilitas yang komplain dan melaporkan kepada gurunya terkait live ataupun video negatif yang tersebar. Teman disabilitas merasakan bahwa konten tersebut sudah menyinggung dan bukan hiburan ataupun lucu-lucuan lagi.
Dunia Digital yang Ramah Disabilitas
Konten-konten yang merendahkan teman disabilitas turut memperkuat stigma dan diskriminasi yang ada di masyarakat. Pada akhirnya, hal tersebut menyulitkan teman disabilitas untuk mendapatkan perlakuan yang adil dan setara dalam kehidupan nyata.
Ketika konten yang beredar sering kali memperlihatkan penyandang disabilitas sebagai objek lucu-lucuan, masyarakat pun menjadi terbiasa dengan pandangan yang merendahkan. Lebih dari itu, kebanyakan masyarakat menganggap penyandang disabilitas sebagai kelompok yang berbeda dan tidak layak mendapatkan perhatian yang sama.
Fenomena ini menjadi cerminan dari kurangnya kesadaran dan empati dari para pembuat konten maupun pengguna media digital. Padahal, dunia digital seharusnya menjadi ruang yang mampu memperkuat keberagaman dan memperjuangkan hak-hak semua orang tanpa terkecuali.
Membangun konten yang inklusif bukan hanya soal menampilkan penyandang disabilitas secara adil, tetapi juga tentang mengedukasi masyarakat untuk melihat mereka sebagai individu yang memiliki potensi, hak, dan keinginan yang sama seperti yang lainnya.
Edukasi mengenai pentingnya menyampaikan pesan yang tidak merendahkan, penggunaan bahasa yang sopan, serta keberanian untuk menyuarakan inklusivitas harus menjadi bagian dari budaya digital kita.
Dengan demikian, dunia digital tidak lagi menjadi ruang yang memarginalkan, melainkan sebagai platform yang mampu memperkuat kesadaran, memperjuangkan hak asasi manusia secara universal, dan ramah untuk teman disabilitas. []





Comments are closed.