Thu,23 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Marjane Satrapi, Rambut, dan Republik

Marjane Satrapi, Rambut, dan Republik

marjane-satrapi,-rambut,-dan-republik
Marjane Satrapi, Rambut, dan Republik
service

Marjane Satrapi wafat pada usia 56 tahun. Banyak orang akan mengenangnya sebagai penulis Persepolis, seniman IranPrancis, pembuat film, dan suara perempuan Iran di panggung dunia. Semua sebutan itu benar. Namun ia meninggalkan sesuatu yang lebih tajam tinimbang biografi seniman. Ia meninggalkan cara membaca negara.

Marjane Satrapi adalah seniman, penulis, komikus, ilustrator, dan sutradara Iran-Prancis yang lahir di Rasht, Iran, titimangsa 22 November 1969, lalu tumbuh di Teheran dalam keluarga terdidik dan politis. Setelah Revolusi Iran 1978-1979, keluarganya mengirimnya ke Austria tahun 1984 untuk bersekolah, sebelum ia kembali ke Teheran, belajar seni, lalu menetap di Prancis pada 1990-an. 

Namanya dikenal dunia melalui Persepolis, memoar grafis autobiografis yang mula-mula terbit dalam bahasa Prancis tahun 2000 dan 2001, kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai Persepolis: The Story of a Childhood pada 2003. Karya itu merekam masa kecilnya di Teheran, pengalaman remaja di Eropa, Revolusi Iran, perang Iran-Irak, represi politik, dan pengasingan. Satrapi bersama Vincent Paronnaud kemudian mengadaptasi Persepolis menjadi film animasi pada 2007, yang meraih pengakuan internasional dan nominasi Academy Award untuk kategori film animasi terbaik. Ia juga menulis dan menyutradarai karya lain seperti Chicken with Plums, The Voices, dan Radioactive

Satrapi wafat di Paris pada 4 Juni 2026 dalam usia 56 tahun, meninggalkan warisan penting sebagai seniman yang menjadikan komik, film, dan memoir sebagai medium kesaksian tentang kebebasan, tubuh perempuan, ingatan, dan kritik terhadap otoritarianisme.

Dalam Persepolis, negara tidak tampil sebagai gagasan besar. Negara tampil sebagai tangan yang mengatur sekolah, pakaian, keluarga, musik, buku, pesta, tubuh, dan rambut perempuan. Satrapi membuat pembaca melihat hal ihwal yang sering hilang dalam pidato politik. Republik yang merasa kuat sering menunjukkan rasa takutnya justru pada hal kecil. Rambut perempuan menjadi urusan negara. Jaket denim menjadi tanda bahaya. Pin Michael Jackson menjadi masalah moral. Anak perempuan berubah menjadi medan perang ideologi.

Satrapi menulis Persepolis karena ia tidak ingin Iran hanya dibaca lewat fundamentalisme, fanatisme, dan terorisme. Dalam pengantar bukunya, ia menulis bahwa bangsa Iran tidak boleh dihakimi dari tindakan segelintir ekstremis. Ia juga tidak ingin mereka yang mati di penjara, gugur dalam perang Iran-Irak, menderita di bawah rezim represif, atau terusir dari tanah air dilupakan. Kalimat terakhir pengantar itu pendek dan keras: orang bisa memaafkan, tetapi tidak boleh lupa (Satrapi, 2007, Introduction).

Jilbab dan Kuasa Negara

Persepolis membuka sejarah Iran modern dari ruang kelas. Tahun 1980, anak perempuan wajib memakai jilbab di sekolah. Marji kecil tidak mengerti alasan aturan itu. Setahun sebelumnya, ia bersekolah di sekolah Prancis nonreligius. Anak laki-laki dan perempuan belajar bersama. Setelah revolusi, sekolah bilingual ditutup karena negara menuduhnya sebagai simbol kapitalisme dan dekadensi. Anak-anak perempuan berjilbab dan terpisah dari teman-temannya (Satrapi, 2007, hlm. 3-4).

Dari adegan itu, Satrapi memberi pelajaran politik nan jelas. Kekuasaan tidak selalu mulai dari tank. Kekuasaan sering mulai dari seragam. Negara tidak selalu datang melalui polisi rahasia. Negara bisa datang melalui guru, kurikulum, aturan rambut, dan perintah berpakaian.

Di Iran, jilbab memiliki sejarah politik panjang. Jelodar, Yusof, dan Mahmoodi menunjukkan bahwa perempuan Iran mengalami proses berjilbab, menyingkap, dan menyingkapkan dalam sejarah modern. Reza Shah Pahlavi melarang jilbab pada 1936 untuk menampilkan Iran yang modern dan dekat dengan Barat. Republik Islam membalik arah itu tahun 1983 dengan mewajibkan jilbab untuk menampilkan Iran yang saleh dan melawan Barat. Dua rezim itu memakai bahasa berbeda, tetapi keduanya memakai tubuh perempuan sebagai alat negara (Jelodar dkk., 2013, hlm. 65-67).

Masalah utamanya bukan jilbab. Masalahnya paksaan. Negara Pahlavi memaksa perempuan membuka jilbab atas nama kemajuan. Republik Islam memaksa perempuan memakai jilbab atas nama moral. Keduanya tidak bertanya kepada perempuan. Keduanya hanya membutuhkan tubuh perempuan untuk mengiklankan proyek politik.

Anak Kecil Melawan Propaganda

Satrapi memilih sudut pandang anak kecil. Pilihan itu membuat Persepolis kuat. Anak kecil belum mahir memakai bahasa resmi. Ia belum pandai menyembunyikan keganjilan. Ia bertanya ketika orang dewasa diam. Ia bingung ketika negara menuntut kepatuhan. Ia meniru slogan, lalu membongkar absurditasnya.

Marji hidup di tengah keluarga modern, kiri, dan terdidik. Ia juga anak yang religius. Ia ingin menjadi nabi. Ia mengagumi Tuhan. Tetapi revolusi membuat agama masuk ke sekolah, pakaian, hukuman, dan pengawasan. Iman yang semula personal berubah menjadi tanda politik. Di sinilah Marji mulai retak. Ia tidak menolak agama. Ia menolak negara yang mengambil alih agama.

Pada halaman awal Persepolis, Marji mengaku tidak tahu harus berpikir apa tentang jilbab. Ia merasa religius, tetapi keluarganya modern dan avantgarde (Satrapi, 2007, hlm. 6). Tahun 1983, ia memakai Nike, jaket denim, pin Michael Jackson, dan kerudung. Tubuh remaja itu memuat benturan Iran, Barat, agama, musik pop, dan keinginan untuk menjadi diri sendiri (Satrapi, 2007, hlm. 131). Negara ingin identitas tunggal. Satrapi menggambar identitas yang campur, hidup, dan keras kepala.

Komik yang Mengalahkan Arsip

Persepolis juga menghancurkan prasangka tentang komik. Banyak orang masih menganggap komik sebagai bacaan ringan. Satrapi membuktikan sebaliknya. Komik dapat menyimpan sejarah, trauma, humor, amarah, dan kesaksian.

Hillary Chute meneroka Persepolis sebagai narasi grafis yang bekerja sebagai kesaksian. Gambar tidak menjadi hiasan bagi teks. Gambar menjadi cara untuk memberi bentuk kepada pengalaman yang sulit diceritakan (Chute, 2010, hlm. 137). Pilihan hitam putih Satrapi juga bukan tanda kesederhanaan belaka. Satrapi pernah menjelaskan bahwa kekerasan yang digambar dengan warna daging dan darah justru bisa membuat kekerasan tampak biasa. Hitam putih menjaga jarak. Ia tidak menjadikan penderitaan sebagai tontonan (Chute, 2010, hlm. 146).

Di tangan Satrapi, komik menjadi arsip alternatif. Arsip negara mencatat revolusi, perang, kabinet, dan pidato. Persepolis mencatat akibatnya pada anak-anak, ibu, paman, nenek, teman sekolah, dan remaja yang menyangkak bulu ditangkap karena pakaian. Sejarah resmi sering mencari pahlawan. Satrapi mencari manusia.

Theresa Tensuan menyebut struktur komik seperti Persepolis bekerja secara episodik. Ia tidak bergerak seperti epos besar yang rapi. Ia menyusun potongan pengalaman, detail kecil, dan pengulangan motif (Tensuan, 2006, hlm. 950-951). Bentuk itu cocok untuk sejarah yang dialami warga biasa. Revolusi jarang terasa sebagai bab dalam buku sejarah. Revolusi terasa sebagai pintu rumah yang dikunci, sekolah yang berubah, kerabat yang hilang, dan jalan yang penuh pengawasan.

Barat Tidak Bersih

Persepolis tidak memberi kenyamanan kepada pembaca Barat. Buku ini memang mengkritik Republik Islam. Walakin Satrapi juga mengingatkan bahwa luka Iran tidak lahir dari ruang kosong. Dalam pengantar Persepolis, ia menulis tentang minyak, pengaruh Inggris, nasionalisasi industri minyak oleh Mohammad Mossadeq pada 1951, embargo, dan kudeta 1953 yang melibatkan CIA serta intelijen Inggris. Kudeta itu mengembalikan Shah ke tampuk kekuasaan sampai Revolusi Islam 1979 (Satrapi, 2007, Introduction).

Bagian ini penting. Banyak pembaca mudah melihat jilbab sebagai simbol represi. Mereka lebih lambat melihat minyak, kudeta, dan kepentingan geopolitik sebagai bagian dari cerita yang sama. Satrapi menolak pembacaan malas itu. Ia tidak menulis Iran sebagai negeri asing yang menunggu diselamatkan Barat. Ia menulis Iran sebagai negeri tua yang dilukai penguasa sendiri dan kekuatan luar.

Tensuan mengingatkan bahwa sebagian ulasan Amerika dan Inggris mereduksi Persepolis menjadi cermin budaya Persia nan eksotis. Pembacaan seperti itu mengabaikan konteks transnasional karya Satrapi, termasuk keterlibatannya dalam tradisi komik Prancis dan jaringan L’Association (Tensuan, 2006, hlm. 956-957). Persepolis bukan brosur liberal tentang perempuan Timur. Ia adalah dakwaan kepada republik, patriarki, imperialisme, sensor, dan pembaca yang terlalu cepat merasa paham.

Patriotisme Tanpa Tunak

Satrapi mencintai Iran tanpa tunduk kepada negara. Itulah inti politik Persepolis. Cinta tanah air tidak selalu berarti memuji negara. Kadang cinta tanah air berarti menolak dusta negara atas nama rakyat.

Susan Stanford Friedman membaca Persepolis sebagai bentuk kosmofeminisme masa perang. Istilah itu menunjuk pada kritik feminis terhadap negara, perang, dan nasionalisme, sambil tetap mempertahankan kerinduan pada keadilan dan perdamaian (Friedman, 2013, hlm. 24). Satrapi menulis dari posisi pengasingan. Ia menjadi bagian dari Iran, tetapi juga menjaga jarak dari negara yang menindas rakyatnya sendiri. Friedman menyebut posisi itu sebagai sikap patriot dan nonpatriot sekaligus (Friedman, 2013, hlm. 36).

Perang Iran-Irak memperlihatkan dilema itu. Saat negeri diserang, patriotisme mudah menyala. Tetapi Satrapi menunjukkan bagaimana negara memakai perang untuk meminta kesetiaan, lalu memakai kesetiaan itu untuk menekan warga. Ia memperlihatkan bahwa musuh dari luar memang nyata. Tetapi kekerasan dari dalam juga nyata.

Republik yang Takut Rambut

Satrapi telah pergi. Tetapi pertanyaan Persepolis tetap hidup. Republik macam apa yang takut pada rambut perempuan? Negara macam apa yang menganggap pakaian sebagai ukuran moral? Pemerintahan macam apa yang merasa perlu mengawasi musik, pesta, sekolah, dan kepala anak perempuan?

Pertanyaan itu tidak hanya berlaku untuk Iran. Banyak negara memakai tubuh perempuan sebagai papan pengumuman ideologi. Ada yang memakai agama. Ada yang memakai modernitas. Ada yang memakai adat. Ada yang memakai keamanan. Polanya sering sama. Perempuan diminta menanggung citra bangsa.

Arkian, Persepolis memberi pelajaran praktis bagi setiap republik. Jangan ukur moral publik dari pakaian perempuan. Jangan jadikan sekolah sebagai bengkel propaganda. Jangan perlakukan seni sebagai ancaman. Jangan biarkan sejarah resmi menghapus korban yang tidak masuk pidato negara.

Satrapi menggambar sejarah dengan garis ugahari. Justru di sana kekuatannya. Ia menunjukkan bahwa republik tidak hanya rusak oleh kudeta, perang, atau krisis ekonomi. Republik juga bisa membusuk ketika terlalu mandam mengatur rambut perempuan dan lupa menjaga martabat manusia.


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.