Mon,4 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Membaca Krisis Iklim dari Perempuan dan Kelompok Marginal

Membaca Krisis Iklim dari Perempuan dan Kelompok Marginal

membaca-krisis-iklim-dari-perempuan-dan-kelompok-marginal
Membaca Krisis Iklim dari Perempuan dan Kelompok Marginal
service

Krisis iklim, konflik agraria, dan perampasan ruang hidup terus berulang di berbagai wilayah di Indonesia. Pembahasan berbagai persoalan itu jarang dari dapur, ladang, dan tubuh orang-orang yang terdampak langsung. Dalam kuliah umumnya, Rebecca Elmhirst , profesor dari University of Brighton UK, mengajak membalik cara pandang itu dan membaca krisis lingkungan dari relasi kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan Feminist Political Ecology (FPE), Elmhirst menegaskan,  krisis iklim bukan sekadar persoalan teknis tentang emisi atau teknologi, melainkan krisis relasi antara manusia dan alam, antara produksi dan perawatan, serta antara pembangunan dan keberlangsungan hidup. “Semua bentuk kehidupan saling bergantung. Kerusakan pada satu bagian akan berdampak ke bagian lain,” katanya dalam kuliah umum dalam Saparinah Sadli Distinguished Lecture, yang diselenggarakan Program Studi Kajian Gender, Departemen Kajian Stratejik, Ketahanan, dan Keamanan (KSKK), Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia Februari lalu. Perspektif ini menempatkan pengalaman hidup warga, terutama perempuan dan kelompok marjinal, sebagai kunci untuk memahami dampak nyata pembangunan dan mencari jalan keluar yang lebih adil. Pandangan ini bukan lahir dari ruang akademik yang terpisah dari realitas lapangan. Elmhirst adalah profesor Politik Ekologi di University of Brighton yang lama meneliti dinamika penghidupan, konflik agraria, dan keadilan sosial di Indonesia dan Asia Tenggara. Selama bertahun-tahun, dia bekerja bersama komunitas pedesaan, perempuan, dan masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan perkebunan sawit, tambang, dan proyek pembangunan skala besar. Pengalaman lapangan inilah yang membentuk cara pandangnya, bahwa krisis lingkungan selalu berkelindan dengan relasi kuasa, kerja perawatan, dan kehidupan sehari-hari yang sering luput dari kebijakan dan perdebatan publik. Satu contoh yang kerap muncul…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.