Sat,29 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Menilik Kehidupan Warga Porong Pasca 20 Tahun Lumpur Lapindo

Menilik Kehidupan Warga Porong Pasca 20 Tahun Lumpur Lapindo

menilik-kehidupan-warga-porong-pasca-20-tahun-lumpur-lapindo
Menilik Kehidupan Warga Porong Pasca 20 Tahun Lumpur Lapindo
service

Cuaca panas tak menyurutkan semangat Muna Ariyanti membantu menata sepeda motor yang berjajar rapi di halaman dan bagian dalam sebuah bangunan semi permanen di sekitar tanggul lumpur Lapindo. Ada sekitar 45 motor parkir di tempat penitipan sepeda motor yang dia kelola itu. Muna mematok Rp5.000 untuk jasa parkir sehari. Aktivitas itu menjadi rutinitas Muna saban hari di tempat tinggalnya yang dulu masuk dalam wilayah Kelurahan Mindi, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Tempat penitipan sepeda motor itu tidak jauh dari Stasiun Porong, kurang dari 30 meter jaraknya. Banyak penumpang kereta api dari Pandaan, Pasuruan maupun Ngoro Mojokerto, menitipkan motornya di tempat itu sebelum naik Kereta Api (KA) tujuan Surabaya atau Blitar. “Di sini masih ramai stasiunnya. Banyak yang menitipkan sepeda motornya sebelum berangkat kerja, sore biasanya mereka ambil,” cerita Muna kepada Mongabay, Minggu (17/5/26). Muna tinggal di rumah bagian belakang dari tempat penitipan motor itu. Meski ukurannya hanya 3×5 meter, empat anggota keluarganya turut tinggal disitu, termasuk anak laki-lakinya yang baru lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dulu, wilayah itu  sangat ramai. Terlebih, rumah Muna juga berdekatan dengan Pasar Porong yang banyak menjual sayur mayur dan merupakan urat nadi ekonomi sebelum luapan lumpur. Kini, tempat itu sepi. Tersisa 11 rumah sekitar 20 keluarga, dengan jumlah jiwa sekitar  60 orang. Pasar Porong lama juga sudah rata dan berubah menjadi area taman. “Waktu lumpur Lapindo meluber, tempat ini masuk peta terdampak. Warga diminta pindah dengan menjual rumah dan tanahnya. Tapi kami memilih bertahan,” kata  perempuan 49 tahun itu. Alasan Muna tak mau menjual karena dia…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.