Cuaca panas tak menyurutkan semangat Muna Ariyanti membantu menata sepeda motor yang berjajar rapi di halaman dan bagian dalam sebuah bangunan semi permanen di sekitar tanggul lumpur Lapindo. Ada sekitar 45 motor parkir di tempat penitipan sepeda motor yang dia kelola itu. Muna mematok Rp5.000 untuk jasa parkir sehari. Aktivitas itu menjadi rutinitas Muna saban hari di tempat tinggalnya yang dulu masuk dalam wilayah Kelurahan Mindi, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Tempat penitipan sepeda motor itu tidak jauh dari Stasiun Porong, kurang dari 30 meter jaraknya. Banyak penumpang kereta api dari Pandaan, Pasuruan maupun Ngoro Mojokerto, menitipkan motornya di tempat itu sebelum naik Kereta Api (KA) tujuan Surabaya atau Blitar. “Di sini masih ramai stasiunnya. Banyak yang menitipkan sepeda motornya sebelum berangkat kerja, sore biasanya mereka ambil,” cerita Muna kepada Mongabay, Minggu (17/5/26). Muna tinggal di rumah bagian belakang dari tempat penitipan motor itu. Meski ukurannya hanya 3×5 meter, empat anggota keluarganya turut tinggal disitu, termasuk anak laki-lakinya yang baru lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dulu, wilayah itu sangat ramai. Terlebih, rumah Muna juga berdekatan dengan Pasar Porong yang banyak menjual sayur mayur dan merupakan urat nadi ekonomi sebelum luapan lumpur. Kini, tempat itu sepi. Tersisa 11 rumah sekitar 20 keluarga, dengan jumlah jiwa sekitar 60 orang. Pasar Porong lama juga sudah rata dan berubah menjadi area taman. “Waktu lumpur Lapindo meluber, tempat ini masuk peta terdampak. Warga diminta pindah dengan menjual rumah dan tanahnya. Tapi kami memilih bertahan,” kata perempuan 49 tahun itu. Alasan Muna tak mau menjual karena dia…This article was originally published on Mongabay
Menilik Kehidupan Warga Porong Pasca 20 Tahun Lumpur Lapindo
Menilik Kehidupan Warga Porong Pasca 20 Tahun Lumpur Lapindo





Comments are closed.