Tapir asia atau tapir malaya (Tapirus indicus) merupakan satu-satunya spesies tapir yang hidup di luar Amerika. Di Indonesia, satwa ini hanya ditemukan di Pulau Sumatera. Tubuhnya mudah dikenali melalui pola hitam-putih yang menyerupai pelana, sedangkan anak tapir memiliki corak garis dan bintik yang membantu menyamarkannya di lantai hutan. Meski termasuk mamalia besar Sumatera, tapir belum mendapat perhatian konservasi sebesar harimau, gajah, badak, atau orangutan. Padahal, keberadaannya terus terdesak oleh penyusutan dan fragmentasi habitat, perburuan, jerat, kecelakaan di jalan, serta konflik dengan manusia. Daftar Merah IUCN menempatkan tapir asia dalam kategori Genting atau Endangered. Populasinya diperkirakan terus menurun, sementara informasi mengenai jumlah dan persebarannya di Indonesia masih terbatas. Sifat tapir yang pemalu, aktif pada malam hari, dan hidup menyendiri membuat satwa ini sulit ditemukan serta dipelajari di alam. Tapir umumnya menghuni hutan dataran rendah, kawasan rawa, serta wilayah yang dekat dengan sumber air. Moncongnya yang lentur membantu satwa ini mengambil daun, ranting muda, dan buah-buahan. Dalam ekosistem hutan, tapir berperan sebagai penyebar biji. Biji dari buah yang dimakannya dapat terbawa dan dikeluarkan bersama kotoran di tempat lain, membantu proses regenerasi tumbuhan. Rusaknya habitat membuat tapir semakin sering keluar dari hutan dan memasuki perkebunan, jalan raya, atau permukiman. Salah satu kasus yang menyita perhatian terjadi di Mesuji, Lampung, pada Juli 2026. Seekor tapir yang terlihat di sekitar Jalan Lintas Timur Sumatera kemudian ditemukan mati setelah dibunuh dan tubuhnya dipotong-potong oleh warga. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap tapir bukan hanya kehilangan habitat, tetapi juga rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai status perlindungan dan peran…This article was originally published on Mongabay
Mengapa Tapir Penting bagi Kelestarian Hutan Sumatera?
Mengapa Tapir Penting bagi Kelestarian Hutan Sumatera?





Comments are closed.