Jakarta –
Melihat tren saat ini, banyak anak mulai terobsesi untuk memiliki tampilan kulit yang terlihat “sempurna”. Hal ini banyak dipengaruhi oleh maraknya konten dari para influencer di media sosial.
Permintaan dari anak-anak kita pun kini sudah mulai berubah, bukan lagi boneka atau mainan lainnya. Mereka sekarang lebih sering meminta produk perawatan kulit untuk meniru rutinitas orang dewasa.
Dikutip dari laman World Crunch, berdasarkan informasi dari Co-Founder Youniversal, Ximena Díaz Alarcón, sekitar 78 persen anak mengaku sering membeli produk perawatan kulit, bahkan hampir rutin berbelanja dalam setahun terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi yang menunjukkan ketergantungan anak pada produk kecantikan ini mulai dikenal dengan sebutan cosmeticorexia. Lalu, apa sebenarnya fenomena ini dan bagaimana dampaknya terhadap keseharian anak?
Dilansir dari laman Springer Nature Link, cosmeticorexia adalah kondisi ketika seseorang memiliki obsesi terhadap kulit yang dianggap ‘sempurna’. Fenomena ini juga dipengaruhi oleh budaya kecantikan yang semakin kuat di media sosial.
Misalnya, konten rutinitas skincare hingga standar penampilan yang ideal membuat anak semakin ingin tampil lebih cantik. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran karena bisa berdampak pada kesehatan kulit mereka.
Bahkan, fenomena cosmeticorexia ini disebut-sebut dapat menjadi masalah mental pada anak yang harus diperhatikan secara serius.
Dikutip dari The Guardian, berdasarkan studi pada pasien dermatologi menunjukkan bahwa fenomena cosmeticorexia ini menjadi kondisi yang perlu mendapat perhatian dari sisi medis.
Profesor dari Universitas Milan, Giovanni Damiani juga menemukan kasus serupa pada anak usia 8-14 tahun. Ia mengatakan bahwa anak-anak kini cenderung menggunakan jenis kosmetik yang mirip satu sama lain.
“Mereka semua menggunakan kosmetik yang serupa,” kata Damiani.
“Misalnya, menolak keluar rumah tanpa riasan, penggunaan kosmetik yang berlebihan, atau sering menonton video yang berkaitan dengan kosmetik. Mereka juga bisa mengubah minat, hingga pada dasarnya mengabaikan semua hal lainnya,” lanjutnya.
Faktor penyebab fenomena cosmeticorexia pada anak
Pola perilaku cosmeticorexia biasanya tidak muncul begitu saja, Bunda. Kondisi ini berjalan bersamaan dengan kebiasaan lain yang sudah terbentuk dalam keseharian anak.
Salah satunya adalah kebiasaan terlalu sering memperhatikan penampilan diri sendiri. Tidak hanya itu, ada juga perilaku berulang seperti sering mengecek cermin atau menggaruk kulit secara terus-menerus.
Perubahan di era modern juga turut menjadi pemicu, terutama saat kecantikan mulai diperlakukan seperti sesuatu yang “wajib” dijaga secara rutin dan menjadi bagian dari keseharian.
Lantas, apa yang jadi penyebab utamanya? Kondisi ini banyak dipengaruhi oleh penggunaan media sosial hingga influencer yang membuat anak semakin sering membandingkan diri.
Konten rutinitas kecantikan pun seolah terlihat seperti standar yang harus diikuti oleh banyak orang. Kondisi inilah yang membuat anak menjadi lebih rentan, Bunda.
Dampak fenomena cosmeticorexia terhadap kesehatan kulit anak
Selain berdampak pada psikologis, fenomena cosmeticorexia juga bisa membawa efek buruk pada kesehatan kulit anak. Terlebih jika mereka mulai membeli dan memakai produk kecantikan tanpa pengawasan yang tepat.
Seorang dokter kulit di Buenos Aires, Silvina Alejandra Bruey, memperingatkan bahwa beberapa produk kecantikan tertentu bisa menimbulkan masalah pada kulit anak seperti:
- Kulit berjerawat
- Iritasi pada kulit
- Luka bakar ringan
- Pori-pori tersumbat
- Memicu pertumbuhan bakteri
Cara orang tua menyikapi anak mulai fokus pada penampilan
Kalau anak sudah mulai menunjukkan tanda terlalu fokus pada penampilannya, Bunda bisa mulai mengarahkan dengan cara yang lembut. Tujuannya bukan melarang sepenuhnya, melainkan agar mereka mengerti cara merawat kulit yang benar.
Seorang dokter dermatologi asal Meksiko, María Jiménez Martínez, menyarankan agar kulit anak cukup dijaga dengan kebersihan, kelembapan, dan perlindungan dari sinar matahari.
“Praktik terbaik adalah menjaga kebersihan, kelembapan, dan melindungi kulit dari sinar matahari. Komponen produk anti-penuaan, yang biasanya bersifat asam, bersifat korosif dan dapat memicu reaksi alergi yang berkepanjangan,” tulisnya.
Produk kecantikan juga tidak sama dengan produk perawatan kulit khusus anak remaja seperti pembersih wajah. Karena itu, Bunda bisa memilih produk yang sesuai dengan usia dan kebutuhan kulit anak.
Itulah penjelasan mengenai cosmeticorexia, fenomena saat anak semakin terobsesi untuk memiliki kulit yang terlihat sempurna.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)





Comments are closed.