Dalam lintasan zaman, dakwah Islam disebarkan melalui perpaduan ilmu ulama yang mendalam dan penyampaian ajarannya yang tepat sasaran. Kitab Zad az-Zu’ama wa Dzakhirah al-Kuthaba’ yang ditulis oleh KH. Bisri Mustofa merupakan karya yang sempurna dalam merangkum strategi dakwah itu.
Dalam kitab yang sangkil dan mangkus ini, KH. Bisri Mustofa menunjukkan kapasitasnya sebagai ulama yang memahami kebutuhan sosial umat sekaligus memberikan landasan dalil yang jitu bagi wacana keagamaan yang sering disampaikan oleh para pendakwah dan tokoh agama.
Di tengah riuh rendah konten-konten keagamaan di media sosial yang kerap kali mengaburkan esensi dakwah, pembacaan kembali kitab Zad az-Zu’ama ini menjadi krusial untuk mengembalikan dakwah pada lajur yang semestinya.
KH. Bisri Mustofa memulai kitabnya dengan analisis sosiologis yang ringkas. Beliau mengungkapkan bahwa dakwah agama perlu disesuaikan dengan lapisan masyarakat yang dituju.
Di sini, KH. Bisri mengategorikan masyarakat menjadi tujuh kelompok, yaitu: komunitas awam, keturunan bangsawan elit, pejabat pemerintahan, komunitas non-Muslim, tokoh partai atau organisasi, serta golongan masyayikh dan ulama.
Ketujuh kelompok tersebut perlu mendapatkan perlakuan yang berbeda agar ajaran Islam benar-benar dapat diterima dengan baik. Di kitab ini, KH. Bisri memberikan intisari strategi dakwah yang tepat untuk masing-masing kelompok tersebut.
Setelah memaparkan kelompok-kelompok yang menjadi penerima dakwah, KH. Bisri tidak lupa mendedahkan adab-adab yang perlu diserap oleh para pendakwah dan tokoh agama. Pada bab-bab ini, beliau mengingatkan bahwa ajaran Islam bukan sekadar ide-ide agama atau pemikiran akademis yang terpisah dari para penyampainya.
Ajaran Islam harus disampaikan dengan akhlak dan adab agar pesan-pesannya benar-benar dapat diterima oleh hati nurani masyarakat dan membawa perubahan. Selain itu, KH. Bisri juga menjelaskan adab-adab dalam bermusyawarah.
Ini menunjukkan bahwa menurut KH. Bisri, dakwah tidak hanya disampaikan melalui mimbar, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan masyarakat untuk memecahkan problematika sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun ditulis dengan ringkas, kitab ini mengindikasikan pengetahuan muallif yang luas sekaligus kebijaksanaannya yang mendalam. Dalam bab al-Musyawarah wa Adabuha, misalnya, KH. Bisri menyebutkan perlunya tata tertib di setiap majelis musyawarah untuk mencegah terjadinya argumen sofisme (safsathaiyyah), yaitu argumen silat lidah yang bertujuan membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar (halaman 12).
Ia lalu menggariskan tiga hal teknis mendasar dalam bermusyawarah: 1) harus ada pemimpin majelis yang dapat mengarahkan serta menyimpulkan hasil diskusi, 2) perlunya notulen yang mampu mencatat derasnya diskusi serta putusan-putusan di dalamnya, dan 3) penyampaian pendapat dalam musyawarah harus diutarakan oleh anggotanya satu per satu secara bergantian dengan izin pimpinan majelis (halaman 13).
Selayaknya seorang ulama yang dijuluki singa podium (asadul minbar), adab menyampaikan ceramah dan pidato keagamaan menjadi bagian yang paling inti dalam kitab ini. Dalam bab Adabul Khuthbah, salah satu poin utama yang KH. Bisri tekankan adalah: pentingnya memahami konteks audiens dalam menyampaikan ceramah.
Ia juga menyampaikan agar seorang pendakwah tidak menggunakan bahasa dan informasi yang sulit dicerna oleh jamaah yang mendengarkan ceramahnya. Ia menulis:
وَإِنْ كَانُوا هُمُ الْبُعَدَاءَ عَنِ الْعُمْرَانِ، وَلَيْسُوا أَهْلًا لِمُطَالَعَةِ الْجَرَائِدِ وَالْمَجَلَّاتِ، وَلَا لِاسْتِمَاعِ الرَّادِيُو وَالِاسْتِعْلَامَاتِ… فَلَا تَبْذُلْ لَهُمْ مَثَلًا سِيَاسَاتِ أَمْرِيكَا الْمُتَّحِدَةِ حَتَّى أَتَيْتَ بِهِمْ إِلَى لَيْكْ سُوكْسِيسَ، وَرَجَعْتَ بِهِمْ إِلَى لَنْدَنَ ثُمَّ إِلَى مُوسْكُو وَإِلَى الشَّرْقِ الْأَقْصَى أَوْ مَا أَشْبَهَ ذَلِكَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً»، رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Artinya, “Jika mereka adalah orang-orang yang jauh dari kehidupan perkotaan/kemajuan peradaban, serta tidak layak membaca surat kabar dan majalah, juga tidak layak mendengarkan radio dan berbagai informasi, maka janganlah engkau menyodorkan kepada mereka, misalnya, persoalan-persoalan politik Amerika Serikat, sampai-sampai engkau membawa mereka ke Lake Success, lalu membawa mereka kembali ke London, kemudian ke Moskwa, dan ke Timur Jauh, atau hal-hal semacam itu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Engkau tidaklah menyampaikan suatu pembicaraan kepada suatu kaum yang tidak dapat dijangkau oleh akal mereka, kecuali hal itu akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka.’ (HR. Muslim)” (halaman 23)
Di bagian akhir, KH. Bisri merunut berbagai wacana keagamaan yang sering disampaikan dalam ceramah, beserta dalil-dalil yang menyertainya. Bagian ini menjadi semacam buku saku bagi para pendakwah dan tokoh agama agar setiap ucapan mereka memiliki landasan yang kokoh berdasarkan Al-Qur’an, hadits, maupun pendapat para ulama.
Bagian ini merupakan penutup kitab yang melengkapi serangkaian strategi dakwah yang telah dipaparkan sebelumnya. Dengan menuliskan buku saku dalil ini, selain untuk mempermudah para pendakwah, KH. Bisri seolah-olah juga hendak mengingatkan pentingnya melandasi setiap penyampaian ajaran Islam dengan landasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Namun demikian, setiap kitab memiliki kekurangannya masing-masing. Oleh karena itu, dalam edisi terbarunya, kitab ini dicetak kembali oleh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin dengan tahqiq (penyuntingan naskah) dan tawtsiq (verifikasi sumber) yang dicantumkan dalam catatan kaki yang rinci.
Setelah proses penyuntingan dan verifikasi ini, para pembaca diharapkan dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari kitab Zad az-Zu’ama serta memahami dengan lebih baik landasan berpikir KH. Bisri Mustofa dalam menulis karya-karyanya.
Terbitan edisi terbaru ini juga dilengkapi dengan biografi singkat KH. Bisri Mustofa, serta kata pengantar oleh putra beliau KH. Mustofa Bisri, dan ulama karismatik Al-Azhar, Syekh Fathi Hijazi.
Identitas Kitab
Judul: Zad az-Zu’ama wa Dzakhirah al-Khuthaba’
Penulis: KH. Bisri Mustofa
Penyunting: Muhammad Maisur Kholid Suyuthi, Zainun Nur Hisyam Tahrus
Penerbit: PP Raudlatut Thalibin
Kota Terbit: Rembang
Tahun Terbit: 1448 H/2026 M
Tebal: 132 halaman
—————-
Zainun Hisyam, Pengajar Pondok Pesantren Attaujieh al-Islamy, Banyumas, dan Alumni SOAS London




Comments are closed.