Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat, penyebutan ‘Orang Rimbo’ pertama kali secara akademis Muntholib Soetomo publikasikan melalui disertasinya di Universitas Padjajaran tahun 1995. Judulnya, “Orang Rimbo: Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat Terasing di Makekal, Provinsi Jambi”. Muntholib ceritakan pengalamannya melakukan penelitian tentang kehidupan Orang Rimba. “Hutan itu hidup dan kehidupan mereka, Orang Rimba,” kata akademisi yang menghabiskan pengabdiannya sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Sultan Thaha, Jambi itu. Orang Rimba, katanya, memiliki tradisi tersendiri tentang bagaimana melindungi perempuan, memilih pemimpin, hingga menjaga lingkungannya. “Orang Rimba tidak buang air (kotoran manusia) ke sungai. Karena itu tempat minum mereka,” katanya. Tidak itu saja. Orang Rimba juga menganggap sungai adalah tempat suci yang mereka yakini sebagai tempat berjalannya para dewa. Peraih gelar profesor ilmu sosial di Universitas Padjajaran ini pertama kali berkenalan dengan Orang Rimba awal 1980-an. Saat itu dia mendapat tugas dari sebuah lembaga untuk meneliti kemungkinan ada pemukiman Orang Rimba yang berpotensi menjadi desa. Kala itu, akses ke lokasi sangat sulit. “Saya bergerak sendiri, mencari informasi sendiri.” Selanjutnya pada awal 1990-an dia memulai penelitian disertasinya dan tinggal secara intens di Makekal Kabupaten Tebo kurang lebih 4,5 tahun. “Saya tinggal di lokasi, biaya sendiri, tidak ada yang membantu,” katanya. Sungai Air Hitam Sarolangun, Jambi. Foto; Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia. Selama tinggal bersama Orang Rimba, pria berdarah Trenggalek ini menemukan banyak praktik yang menunjukkan hubungan sangat dekat antara Orang Rimba dan lingkungan hidup. Contoh, ada aturan mengenai lokasi permukiman, larangan mengganggu kuburan anak, hingga larangan buang air di sungai karena dianggap mencemari sumber air minum. Nilai-nilai…This article was originally published on Mongabay
Mengenal Muntholib Soetomo, Sosok Pelopor Studi Orang Rimba
Mengenal Muntholib Soetomo, Sosok Pelopor Studi Orang Rimba





Comments are closed.