Mubadalah.id – Kalau dipikir-pikir: Abu vulkanik mungkin lebih adil daripada manusia. Kok bisa??
Ketika Gunung Anak Krakatau kembali meletus dan memuntahkan abu ke langit, langit berubah kelabu. Sejumlah penrbangan tertunda, dan warga mulai mengenakan masker. Sebagian orang panik, sebagian memilih waspada, sementara yang lain hanya bisa berharap keadaan segera membaik.
Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang jarang kita sadari: Abu vulkanik tidak pernah memilih kepada siapa ia akan jatuh.
Ia tidak bertanya siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Tidak membedakan rumah pejabat dan rumah rakyat biasa. Ia tidak peduli tentang perbedaan itu. Ketika turun dari langit, ia menyentuh siapa saja tanpa memandang status.
Sekilas, hal itu memang tampak sederhana dan wajar. Namun, dari sanalah alam menghadirkan pelajaran yang sering luput dari perhatian kita: kesetaraan.
Kita hidup di dunia yang penuh sekat. Kita membangun batas berdasarkan ekonomi, pendidikan, jabatan, suku, agama, bahkan popularitas. Kita memberi label kepada orang lain, lalu tanpa sadar menyusun tangga-tangga sosial yang memisahkan satu manusia dari manusia lainnya. Akibatnya, kita sering lupa bahwa di balik semua identitas itu, kita tetap manusia.
Menariknya, alam tidak mengenal hierarki yang kita bangun. Abu vulkanik tidak pernah mencari orang yang paling berpengaruh. Ia hanya mengingatkan bahwa di hadapan semesta, kita sama-sama kecil, loh!
Barangkali inilah yang ingin ditegaskan Al-Quran ketika Allah berfirman:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Perhatikan bahwa ayat ini dimulai dengan seruan, “Wahai manusia.” Bukan orang kaya, bukan pemimpin, atau kelompok tertentu. Al-Quran menyapa manusia sebagai sesama makhluk yang setara di hadapan Tuhan. Kadang-kadang, alam menghadirkan kembali pelajaran yang sama dengan cara yang berbeda.
Dalam tradisi Islam, kita mengenal tadabbur alam, yaitu membaca semesta sebagaimana kita membaca ayat-ayat Tuhan. Intinya, alam selalu menyimpan pelajaran bagi siapa pun yang mau memperhatikannya.
Gunung Tidak Sedang Mengganggu Kita, Kita yang Terlalu Merasa Pusat Semesta
Setiap kali gunung meletus, kita sering mendengar kalimat seperti ini:
“letusan mengganggu aktivitas masyarakat.” Kalimat itu memang tidak keliru. Namun, pernahkah kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda? Bagaimana jika gunung sebenarnya tidak sedang mengganggu siapa pun? Bagaimana jika gunung hanya menjalankan perannya sebagai gunung?
Kita sering memandang alam dari perpsektif kita sendiri, manusia. Atas dasar kepentingan, dll. Ketika cuaca cerah, kita merasa senang karena aktivitas berjalan lancar. Tapi, hujan yang turun saat acara berlangsung, kita mengeluh. Ketika laut tenang, kita memujinya. Tapi saat ombak meninggi, kita menyalahkannya.
Seolah-olah seluruh alam semesta harus menyesuaikan diri dengan agenda manusia. Iya? Padahal, gunung tidak pernah menandatangani kontrak untuk selalu tenang. Laut tidak pernah berjanji untuk selalu bersahabat. Angin juga tidak pernah berkomitmen untuk bertiup sesuai keinginan kitA.
Barangkali masalahnya bukan karena alam terlalu sering mengganggu manusia. Mungkin manusialah yang terlalu lama menganggap dirinya pusat dari segala sesuatu.
Dalam filsafat lingkungan, orang menyebut cara berpikir ini sebagai antroposentrisme, yaitu pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat semesta dan ukuran dari segala nilai. Alam dianggap penting sejauh berguna bagi manusia. Padahal, Al-Quran berkali-kali mengingatkan bahwa seluruh ciptaan memiliki peran dan maknanya masing-masing.
“Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di anatara keduanya dengan sia-sia.” (QS. Shad: 27)
Artinya, gunung bukan sekadar latar belakang kehidupan manusia. Ia juga bagian dari ayat-ayat Tuhan. Ia memiliki fungsi, peran, dan keberadaannya sendiri dalam tatanan semesta.
Maka, ketika Anak Krakatau, atau gung-gunung lainnya meletus, mungkin yang perlu kita lakukan bukan hanya bertanya bagaimana peristiwa itu memengaruhi manusia. Tetapi juga bertanya: apa yang bisa kita pelajari tentang posisi kita di tengah semesta yang begitu luas ini?
Mungkin yang Disebut Bencana itu Sudut Pandang Manusia
Kata “bencana” sering kali terdengar mutlak. Seolah-olah semua orang pasti sepakat tentang apa yang disebut bencana. Tetapi, benarkah demikian?
Bagi manusia, letusan gunung bisa berarti aktivitas terhenti, rumah rusak, atau perjalanan terganggu. Semua itu nyata dan tidak boleh diremehkan. Namun, dari sudut pandang alam, cerita yang berbeda sedang berlangsung.
Abu vulkanik yang hari ini kita hindari justru membawa mineral yang menyuburkan tanah. Banyak wilayah pertanian subur di Indonesia lahir dari aktivitas gunung berapi selama ratusan bahkan ribuan tahun. Artinya, apa yang tampak sebagai kehancuran dalam satu waktu, bisa menjadi awal kehidupan dalam waktu yang lain.
Kita Hidup Bersama, Bukan Sendiri
Mungkin pelajaran terbesar dari letusan Anak Krakatau bukanlah tentang abu vulkanik. Melainkan tentang: kerendahan hati. Selama ini, manusia sering hidup seolah-olah bumi diciptakan untuk dirinya. Kita membangun, mengubah, mengeksploitasi, dan mengambil sebanyak mungkin dari alam. Kita lupa bahwa ada makhluk lain yang juga hidup di bumi yang sama.
Ada hutan yang menjadi rumah bagi berbagai spesies. Kemudian, laut yang menopang kehidupan. Lalu, gunung yang menjadi bagian dari keseimbangan alam. Dan ada manusia, yang sebenarnya hanya satu bagian kecil dari seluruh jaringan kehidupan itu.
Al-Quran mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini seolah mengajak kita untuk bercermin. Bahwa hubungan manusia dngan alam bukan hubungan penguasa dan bawahan. Melainkan hubungan sesama ciptaan Tuhan yang saling terhubung. Karena itu, stop melihat bumi sebagai sesuatu yang harus melayani manusia, saja.
Mungkin, sudah saatnya kita belajar hidup bersama, bukan hidup di atas yang lain. Dan mungkin, ketika abu vulkanik turun tanpa membedakan siapa pun, alam sedang mengingatkan sesuatu yang sangat sederhana: Bahwa di hadapan Tuhan, di hadapan bumi, dan di hadapan semesta yang begitu luas ini, kita semua hanyalah “manusia.” []





Comments are closed.