Mubadalah.id – Beberapa waktu terakhir ini, Indonesia mengalami bencana alam dan keprihatinan lingkungan. Mulai dari kebakaran hutan hingga erupsi beberapa gunung. Pada awal September 2026, erupsi Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan manusia tentang kekuatan alam.
Abu vulkanik bahkan mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah bandara dan mempengaruhi kegiatan masyarakat. Pemerintah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menghindari wilayah berbahaya di sekitar gunung.
Pada saat yang hampir bersamaan, kebakaran hutan dan lahan juga kembali menjadi persoalan serius. Asap dan kualitas udara yang buruk bukan sekadar persoalan lingkungan. Asap masuk ke ruang hidup manusia, mengganggu kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial.
Alam yang Tidak Mempunyai Suara
Ungkapan bahwa alam tidak berbicara seperti manusia mungkin benar adanya. Gunung tidak mengirim pesan melalui kata-kata. Hutan tidak mengeluh melalui bahasa yang mampu manusia pahami secara langsung. Sungai tidak meminta pertolongan dengan suara manusia.
Namun, alam sebenarnya terus memberikan tanda. Asap menunjukkan adanya sesuatu yang terbakar. Abu menunjukkan aktivitas vulkanik. Kekeringan menunjukkan perubahan kondisi lingkungan. Banjir menunjukkan persoalan tata ruang dan daya dukung lingkungan. Perubahan suhu, kualitas udara, dan kerusakan ekosistem juga membawa pesan yang tidak boleh manusia abaikan.
Masalahnya, manusia sering baru mau mendengar ketika dampaknya sudah terasa langsung. Ketika udara masih bersih, kerusakan hutan terasa jauh. Sungai belum meluap, persoalan lingkungan terasa seperti urusan orang lain. Juga gunung belum mengeluarkan abu, aktivitas vulkanik hanya menjadi informasi dalam berita.
Namun, ketika asap masuk ke rumah, ketika mata terasa perih, ketika penerbangan berhenti, atau ketika sekolah harus mengubah kegiatan belajar, manusia mulai sadar bahwa alam bukan sesuatu yang berada jauh dari kehidupan. Manusia hidup bersama alam, bukan berada di luar alam.
Ketika Alam Berbicara melalui Penderitaan
Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ mengingatkan bahwa bumi merupakan rumah bersama. Ia juga melihat hubungan erat antara krisis lingkungan dan krisis sosial. Kerusakan lingkungan tidak hanya menyentuh pohon, tanah, air, atau udara. Kerusakan lingkungan juga menyentuh manusia, terutama mereka yang memiliki sumber daya paling terbatas. Karena itu, manusia perlu melihat bencana ekologis melalui wajah manusia.
Laudato Si’ menyebut bumi sebagai bagian dari kelompok yang paling terabaikan dan terluka akibat tindakan manusia. Paus Fransiskus bahkan menghubungkan jeritan bumi dengan jeritan kaum miskin. Bagi Paus Fransiskus, krisis ekologis dan krisis sosial tidak dapat manusia pisahkan begitu saja. Karena itu, mendengar alam berarti juga mendengar manusia yang mengalami dampak kerusakan lingkungan.
Tidak Semua Bencana Berasal dari Kesalahan Manusia
Namun, refleksi tentang lingkungan juga membutuhkan sikap yang jujur. Tidak semua bencana muncul karena manusia merusak alam.
Erupsi Anak Krakatau mengingatkan manusia bahwa alam memiliki dinamika yang tidak selalu mampu manusia kendalikan. Gunung api memiliki proses geologisnya sendiri. Manusia tidak dapat menghentikan magma yang bergerak atau memerintah gunung agar berhenti meletus.
Dalam situasi seperti ini, manusia membutuhkan kerendahan hati. Ilmu pengetahuan membantu manusia membaca aktivitas gunung api. Teknologi membantu pemerintah memberikan peringatan. Informasi membantu masyarakat mengambil keputusan yang aman. Semua kemampuan tersebut menunjukkan bahwa manusia mampu memahami sebagian tanda alam, tetapi kemampuan itu tidak membuat manusia menjadi penguasa mutlak atas alam.
Mendengar Sebelum Terlambat
Persoalan ekologis sering muncul bukan karena manusia sama sekali tidak mengetahui masalahnya. Banyak tanda sudah muncul jauh sebelum bencana mencapai titik yang lebih besar. Manusia mengetahui bahwa pembakaran hutan menghasilkan asap yang bisa membuat pencemaran udara dan akibatnya mengganggu kesehatan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah manusia memiliki pengetahuan, tetapi apakah manusia mau bertindak berdasarkan pengetahuan tersebut?
Di sinilah iman memperoleh tempatnya. Iman tidak hanya mengajak manusia berdoa ketika bencana datang. Iman juga mengajak manusia bertanggung jawab sebelum bencana terjadi. Doa tanpa kepedulian terhadap ciptaan dapat kehilangan daya profetisnya. Sebaliknya, kepedulian terhadap alam dapat menjadi salah satu bentuk syukur atas kehidupan yang Tuhan anugerahkan.
Merawat Rumah Bersama
Laudato Si’ mengajak manusia melihat bumi sebagai rumah bersama. Gambaran ini sederhana tetapi kuat. Rumah bukan tempat yang hanya manusia gunakan sesuka hati. Rumah membutuhkan perawatan agar seluruh penghuninya dapat hidup dengan baik.
Jika rumah bersama mengalami kerusakan, semua penghuni akan merasakan dampaknya. Karena itu, persoalan lingkungan bukan hanya urusan pemerintah, aktivis lingkungan, ilmuwan, atau komunitas tertentu. Persoalan lingkungan menyentuh setiap orang.
Merawat alam dapat dimulai dari hal-hal sederhana seperti mengurangi pemborosan, menjaga kebersihan, menghemat energi, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menghargai hutan, serta mendukung kebijakan yang melindungi lingkungan dan masyarakat rentan.
Namun, tanggung jawab ekologis juga membutuhkan keberanian untuk melihat persoalan yang lebih besar. Masyarakat perlu bertanya bagaimana pembangunan berlangsung, bagaimana sumber daya alam dikelola, siapa yang memperoleh keuntungan, dan siapa yang menanggung akibat ketika lingkungan rusak. Kepedulian ekologis tidak cukup berhenti pada kebiasaan pribadi. Kepedulian juga perlu hadir dalam pilihan sosial dan politik.
Belajar Mendengarkan
Erupsi Anak Krakatau dan persoalan karhutla sama-sama mengajarkan satu hal, yaitu manusia tidak hidup sendirian. Manusia bernapas melalui udara yang sama. Bergantung pada tanah, air, hutan, laut, dan berbagai bentuk kehidupan lain. Karena itu, ketika alam terluka, manusia sebenarnya sedang berhadapan dengan bagian dari kehidupannya sendiri.
Alam memang tidak mempunyai suara seperti manusia. Namun, alam memiliki banyak cara untuk berbicara. Bahkan penderitaan manusia yang muncul akibat kerusakan lingkungan menjadi suara yang semakin keras.
Persoalannya adalah apakah manusia mau mendengar sebelum alam harus berteriak lebih keras. Merawat alam akhirnya bukan sekadar tindakan ekologis. Merawat alam menjadi bentuk tanggung jawab moral, solidaritas terhadap sesama, dan ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Sebab manusia tidak hanya membutuhkan alam untuk hidup. Manusia adalah bagian dari alam yang sedang ia rawat. []





Comments are closed.