Tue,26 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Mengenal Tan Liong Houw, Gelandang Perkasa Persija yang Pernah Menahan Imbang Uni Soviet

Mengenal Tan Liong Houw, Gelandang Perkasa Persija yang Pernah Menahan Imbang Uni Soviet

mengenal-tan-liong-houw,-gelandang-perkasa-persija-yang-pernah-menahan-imbang-uni-soviet
Mengenal Tan Liong Houw, Gelandang Perkasa Persija yang Pernah Menahan Imbang Uni Soviet
service

18 Februari 2026 11.22 WIB • 2 menit

Mengenal Tan Liong Houw, Gelandang Perkasa Persija yang Pernah Menahan Imbang Uni Soviet


Dunia sepak bola Indonesia pada era 1950-an memiliki satu nama yang sangat disegani: Tan Liong Houw. Lahir pada 26 Juli 1930, pemain yang beroperasi sebagai gelandang kiri ini bukan sekadar atlet, melainkan ikon bagi Persija Jakarta dan Tim Nasional Indonesia.

Dikenal sebagai sosok perkasa di lini tengah, Liong Houw adalah momok bagi lawan-lawannya. Kegigihan dan kerja kerasnya di lapangan membuat suporter fanatik Persija memberinya julukan Macan Betawi, sebuah penghormatan besar bagi pemain keturunan Tionghoa tersebut.

Perjalanan karier Liong Houw tidaklah mulus. Sang ibu, Ong Giok Tjiam, awalnya sangat menentang keras hobi sepak bolanya. Bahkan, adiknya, Tan Liong Pha, terpaksa gantung sepatu dari Persib Bandung junior karena larangan serupa.

Namun, gairah Liong Houw terhadap si kulit bundar tak terbendung. Ia kerap bermain secara sembunyi-sembunyi. Untuk menjauhkannya dari lapangan hijau, sang ibu bahkan mengirimnya bersekolah ke Semarang. Namun, di kota atlas itu pun, Liong Houw tetap merumput diam-diam bersama klub Tjung Hwa.

Namanya mulai mencuat dalam kompetisi antarkota sebagai bakat muda yang menjanjikan. Namun, rahasianya terbongkar saat ia mengalami cedera parah dalam sebuah pertandingan yang membuat dahinya robek dan harus dilarikan ke rumah sakit.

“Orang tua langsung suruh saya balik ke Jakarta lagi,” jelas Liong Houw sebagaimana dikutip dari JPNN.

Menjadi Ikon Persija Jakarta dan Era Emas 1954

Kepulangannya ke Jakarta menjadi titik balik. Melihat tekad baja sang putra, ayahnya akhirnya memberikan restu. Momentum ini bertepatan dengan masa transisi sepak bola di ibu kota, di mana klub Tjung Hwa resmi melebur ke Persija Jakarta pada tahun 1951.

Sebagai jenderal lapangan tengah, Liong Houw memiliki ciri khas unik: selalu mengikatkan handuk di tangan kirinya saat bertanding. Gaya bermainnya yang energik dan berani membawanya pada puncak prestasi bersama tim Macan Kemayoran.

Liong Houw menjadi aktor intelektual di balik gelarjuara Perserikatan 1954 bagi Persija. Itu merupakan trofi pertama klub setelah Indonesia merdeka dan berganti nama dari VIJ. Dalam formasi klasik 2-3-5, ia menjadi tulang punggung tim dalam lima laga krusial, termasuk kemenangan 2-1 atas PSMS Medan di partai final.

Pilar Timnas Indonesia: Menahan Imbang Raksasa Uni Soviet

Karier internasionalnya tak kalah mentereng. Bersama deretan pemain etnis Tionghoa lainnya seperti The San Liong, Kwee Kiat Sek, dan Bee Ing Hien, Liong Houw menjadi langganan starting eleven Merah Putih.

Ia memulai debut di Asian Games I New Delhi (1951) saat masih berusia 20 tahun, berlanjut ke Asian Games II (1954), hingga puncaknya di Olimpiade Melbourne 1956. Di Australia, Indonesia mencetak sejarah dengan menahan imbang tanpa gol raksasa Uni Soviet di babak perempat final.

Liong Houw harus berjibaku selama 90 menit penuh melawan tim yang dikawal kiper legendaris Lev Yashin. Ia mengakui bahwa strategi keras tanpa kompromi adalah satu-satunya cara menghadapi lawan yang secara kualitas jauh di atas.

“Kalau main strategi biasa, pasti gampang sekali kita dikubur,” kenangnya.

Menjelang akhir kariernya, Tan Liong Houw masih sempat membawa Indonesia menjuarai Merdeka Games 1961 sebelum akhirnya namanya perlahan menghilang dari kancah nasional, meninggalkan warisan sejarah yang tak terlupakan bagi sepak bola tanah air.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.