Tue,26 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Mengenal Tradisi Koko’o: Semarak Warga Gorontalo Membangunkan Sahur dengan Ketuk Bambu

Mengenal Tradisi Koko’o: Semarak Warga Gorontalo Membangunkan Sahur dengan Ketuk Bambu

mengenal-tradisi-koko’o:-semarak-warga-gorontalo-membangunkan-sahur-dengan-ketuk-bambu
Mengenal Tradisi Koko’o: Semarak Warga Gorontalo Membangunkan Sahur dengan Ketuk Bambu
service

20 Februari 2026 12.00 WIB • 2 menit

Mengenal Tradisi Koko’o: Semarak Warga Gorontalo Membangunkan Sahur dengan Ketuk Bambu


Masyarakat Gorontalo memiliki cara unik dalam menyambut bulan suci Ramadan melalui tradisi Koko’o atau ketuk sahur. Tradisi membangunkan warga untuk makan sahur ini kembali digelar dengan penuh antusiasme pada Kamis (19/2).

Ribuan warga dari berbagai penjuru memadati sejumlah titik di Gorontalo untuk mengikuti perayaan tahun ini, yang pelaksanaannya dinilai jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Inovasi dan Peningkatan Peserta

Ketua Koko’o Gorontalo, Fiqram Idrus, menjelaskan bahwa pada tahun 1477 Hijriah ini, para peserta melakukan aksi jalan kaki sambil menabuh kentungan bambu. Kemeriahan semakin terasa dengan adanya iring-iringan truk hias yang dilengkapi sistem suara dan permainan lampu.

“Setiap tahun kita update terus untuk konsep Koko’o Gorontalo, kita bermain desain panggung dan kita tambah lagi elemen yang ada untuk diperbarui setiap tahun,” ujar Fiqram.

Dari Jagung Menjadi Identitas: Cerita Gorontalo Sebagai Sentra Jagung Nasional

Fiqram juga mencatat adanya peningkatan signifikan jumlah partisipan. “Peserta bisa dikatakan cukup membludak, karena perkiraan hampir 2.000 orang itu tadi yang hadir di titik start,” tambahnya.

Upaya Melestarikan Tradisi Lokal

Penggunaan kentungan kayu dalam kegiatan ini bukan tanpa alasan. Menurut Fiqram, hal tersebut merupakan langkah nyata untuk menjaga agar tradisi lokal tetap dikenal oleh generasi muda di Gorontalo.

“Tradisi itu kita tetap bangun dari mulai anak kecil sampai dewasa, mereka harus tahu tradisi Gorontalo itu seperti apa,” katanya.

Kegiatan Koko’o tahun ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Gorontalo dan dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel.

Sejarah Terbentuknya Gorontalo dari Masa ke Masa

Kemeriahan ini bahkan menarik perhatian warga pendatang, salah satunya Sri Desni Anjani Laia asal Nias, Sumatera Utara. 

“First time saya lihat Koko’o ini, saya agak terkejut karena banyak masyarakat yang antusias dalam melihat dan ikut serta,” kata Desni.

Meski terkesan, ia menitipkan pesan terkait ketertiban pelaksanaan di lapangan. “Mungkin masyarakat boleh lebih tertib lagi dalam hal ini keamanan dan ketertiban pejalan kaki dan pengendara motor,” tambahnya.

Transformasi dari Konflik Menjadi Persahabatan

Di balik keriuhannya, tradisi Koko’o ternyata memiliki latar belakang sejarah yang kontras. Dahulu, tradisi ini lahir dari perselisihan antara dua wilayah, yakni Kelurahan Talumolo dan Kampung Bugis, yang kerap terlibat tawuran di malam hari saat bulan Ramadan.

Seiring waktu, kedua pihak sepakat untuk berdamai. Hubungan baik tersebut kemudian dirayakan melalui kegiatan ketuk sahur bersama yang kini dikenal sebagai Koko’o.

Aan Karim mengungkapkan bahwa transformasi ini adalah buah dari persahabatan dua kampung yang dulu sering bertikai.

Taman Laut Olele: Surga Bawah Laut Gorontalo yang Menunggu untuk Dijelajahi

“Namun entah kenapa konflik yang berkepanjangan itu tiba-tiba menjadi sebuah kegiatan besar selama Ramadan dan sudah menjadi agenda tahunan yang bukan hanya diikuti oleh dua kampung itu akan tetapi ratusan orang ikut kegiatan ini,” jelas Aan sebagaimana dimuat di Liputan6.

Ketuk sahur ini merupakan agenda rutin selama 30 hari penuh di bulan Ramadan, dengan puncak kemeriahan pada awal dan akhir bulan. Aan berharap kegiatan ini terus membawa dampak positif bagi warga Kota Gorontalo.

“Minimal kebersamaan kita pada kegiatan ketuk sahur ini bisa menjalin silaturahmi sesama muslim Kota Gorontalo,” pungkasnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.