Meskipun telah lama merdeka, cara pandang kolonial yang memisahkan antara manusia dan alam dalam praktik konservasi atau yang dikenal sebagai konservasi benteng (fortress conservation), dinilai masih kuat mewarnai praktik konservasi di Indonesia. Dalam pendekatan ini, keberadaan manusia dipandang sebagai ancaman sehingga akses masyarakat terhadap kawasan yang hendak dilindungi dibatasi. Padahal nyatanya, masyarakat adat secara berabad-abad telah bermukim, menjaga hutan, sungai, dan laut seperti merawat kehidupan mereka sendiri. Bagi mereka, praktik-praktik konservasi bukanlah konsep yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Di berbagai wilayah di Indonesia, relasi antara manusia dengan alam masih banyak dapat dijumpai. Salah satunya masyarakat adat Dayak Iban di Sungai Utik, Kalimantan Barat, yang mengenal filosofi hidup: “Hutan adalah Bapak, Tanah adalah Ibu, dan Air adalah Darah Kami.” Namun ironi justru ada di sini. Banyak masyarakat adat dan komunitas lokal yang selama ini menjaga ruang hidupnya, dalam banyak kasus justru terusir dari tanahnya. “Sampai sekarang kita belum bisa lepas dari bentuk kolonialisme konservasi, yang memisahkan alam dengan manusia. Manusia justru dianggap sebagai ancaman dalam aktivitas konservasi,” ujar Yance Arizona, Ketua Pusat Kajian Demokrasi Konstitusi dan Hak Asasi Manusia (Pandheka) saat dijumpai di Peoples’ Conservation Summit (PCS)/Pertemuan Konservasi Rakyat 2026, yang diselenggarakan pada 1-3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta. Menurutnya, persoalan konservasi benteng masih berhubungan dengan anggapan bahwa pengetahuan pemerintah dan institusi akademik dianggap lebih ilmiah daripada pengetahuan yang berkembang di masyarakat, dan digunakan dalam penyusunan kebijakan konservasi di Indonesia. “Karena itu, upaya dekolonisasi konservasi menjadi penting untuk mengubah hubungan antara negara, masyarakat, dan alam,” tegas Yance…This article was originally published on Mongabay
Menggugat Konservasi Benteng, Mendorong Konservasi Berbasis Rakyat
Menggugat Konservasi Benteng, Mendorong Konservasi Berbasis Rakyat





Comments are closed.