Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Menguak Perburuan Sadis Siamang di Sumatera [1]

Menguak Perburuan Sadis Siamang di Sumatera [1]

menguak-perburuan-sadis-siamang-di-sumatera-[1]
Menguak Perburuan Sadis Siamang di Sumatera [1]
service

Rusli, bukan nama sebenarnya,  baru selesai membersihkan kebun kemiri miliknya. Tangan masih kotor, namun hidupnya kini jauh lebih tenang dibanding masa lalu. Lima tahun terakhir, dia memutuskan menjadi petani, meninggalkan pekerjaan lama  sebagai pemburu satwa liar. Pria asal Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, itu pernah menjadi bagian rantai perburuan satwa di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Bentang hutan tropis terakhir di Asia Tenggara, yang menjadi habitat penting siamang dan orangutan sumatera. Siamang, primata berwarna hitam dengan kantung suara khas di leher, merupakan spesies dilindungi di Indonesia. Populasinya terancam akibat kehilangan habitat dan perburuan liar. Di Leuser dan hutan hujan Sumatera, siamang memiliki peran penting menebar biji dan membantu meregenerasi hutan secara alami. Hilangnya siamang bukan hanya soal berkurangnya satu spesies, tetapi juga ancaman bagi keseimbangan ekosistem. Di tingkat tapak, perburuan yang terjadi, dipicu persoalan ekonomi, minimnya alternatif pekerjaan, serta lemahnya pengawasan. “Kebutuhan hidup bertambah, setelah saya memiliki dua anak. Saat itu, umur saya 30 tahun dan tidak punya pilihan. Bertani terasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” ucapnya, mengenang awal mula terjerumus perburuan satwa liar, Minggu (10/8/25). Sekitar  2004, Rusli kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. Dia merantau ke Kota Langsa dan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, untuk mencari pekerjaan. Namun, keterampilan terbatas membuatnya tersisih dari pasar kerja. “Tidak ada yang mau mempekerjakan. Saya hanya bisa berkebun atau jadi buruh bangunan.” Di Kota Langsa, awalnya dia bekerja sebagai buruh bangunan. Beberapa bulan kemudian, menjadi sopir becak penumpang. “Ternyata, semua tidak cukup untuk kebutuhan rumah.” Dua tahun bekerja tanpa hasil berarti, Rusli…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.