Sun,16 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Sabut Kelapa, Solusi Konflik Petani dengan Monyet Ekor Panjang di Simeulue

Sabut Kelapa, Solusi Konflik Petani dengan Monyet Ekor Panjang di Simeulue

sabut-kelapa,-solusi-konflik-petani-dengan-monyet-ekor-panjang-di-simeulue
Sabut Kelapa, Solusi Konflik Petani dengan Monyet Ekor Panjang di Simeulue
service
  • Petani di Desa Batu Ralang, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, Aceh, pernah menganggap monyet ekor panjang sebagai musuh. Primata ini merusak buah kelapa mereka.
  • Kini, cara pandang mereka berubah. Bukan karena konflik hilang, melainkan karena gagasan sederhana, yaitu menjadikan kelapa yang dirusak Macaca fascicularis fusca itu menjadi sumber ekonomi baru.
  • Mereka menjadikan sabut kelapa sebagai produk bernilai jual, mulai dari cocopeat, cocofiber, cocobristle, hingga aneka kerajinan tangan.
  • Produk yang telah selesai, kemudian dipasarkan. Keuntungan penjualan diputar kembali untuk mendukung produksi berikutnya, maupun kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Sebagian petani di Desa Batu Ralang, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, Aceh, pernah menganggap monyet ekor panjang sebagai musuh mereka. Primata ini dianggap merusak buah kelapa yang merupakan sumber penghidupan utama masyarakat.

Sekarang, cara pandang mereka berubah. Bukan karena konflik hilang, melainkan karena gagasan sederhana, yaitu menjadikan kelapa yang dirusak Macaca fascicularis fusca itu menjadi sumber ekonomi baru.

Caranya? Mereka menjadikan sabut kelapa sebagai produk bernilai jual, mulai dari cocopeat, cocofiber, cocobristle, hingga aneka kerajinan tangan.

Sabut kelapa yang yang sebelumnya dibakar atau dibuang, kini jadi sumber pendapatan tambahan petani. Sekaligus, membuka ruang hidup berdampingan antara warga dan monyet ekor panjang.

Monyet ekor panjang yang tak jarang turun ke permukiman warga. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Mitra Rofendi (31), mengtakan konflik antara petani dengan monyet bukan sekadar cerita. Sebagai petani kelapa sekaligus pengelola rumah produksi kerajinan sabut kelapa yang mulai dirintis sejak 2024, dia merasakan langsung gangguan primata itu.

Kerugian akibat buat kelapa yang dimakan monyet bisa mencapai sekitar 4,1 juta setiap bulan.

“Sejak kami bisa memanfaatkan sabut kelapa, dampak kerugian mulai berkurang,” jelas Ketua Kelompok Tani SIMCO itu, Rabu (15/7/26).

Mitra mengakui, sebelum ada pendekatan baru, sebagian warga memilih membersihkan kebun agar monyet tidak bersarang di semak. Namun, ada pula yang mengambil langkah lebih ekstrem.

“Ada yang mengusirnya dengan kekerasan, padahal itu tidak baik karena mereka juga bagian ekosistem.”

Melalui pelatihan, masyarakat mengolah sabut kelapa menjadi cocopeat sebagai media tanam, cocofiber untuk kebutuhan industri, cocobristle, hingga aneka kerajinan seperti tas, pot bunga, sandal, lukisan, dan kaligrafi.

“Ibu-ibu membuat berbagai kreasi sabut kelapa yang hasilnya dijual sehingga jadi tambahan pendapatan keluarga.”

Kerajinan sabut kelapa juga berpotensi sebagai identitas baru Simeulue, daerah kepulauan yang selama ini belum memiliki banyak produk cendera mata khas.

“Daerah kami bisa punya keterampilan yang menjadi ciri khas.”

Mitra mengatakan, pihaknya saat ini membeli sabut kelapa dari masyarakat sebelum diolah kembali.

“Kendala terbesar sekarang memang anggaran. Kami ingin membeli lebih banyak sabut dari masyarakat, tetapi modal kami terbatas. Selain itu, posisi Simeulue sebagai daerah kepulauan juga membuat biaya distribusi produk jadi lebih tinggi dibanding wilayah lain.”

Pelatihan pembuatan sabut kelapa yang dilakukan warga di Desa Batu Ralang, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, Aceh. Foto: Dok. Ilham Kurnia, Manajer Program The Long-Tailed Macaque Project.

Mengurangi kerugian petani

Ilham Kurnia, Manajer Program The Long-Tailed Macaque Project, mengatakan ide memanfaatkan sabut kelapa muncul setelah timnya berdiskusi panjang dengan masyarkat.

Selama ini, setiap buah kelapa yang dimakan monyet dianggap sebagai kerugian penuh. Padahal, masih ada bagian yang bisa dimanfaatkan.

“Kalau 100 butir kelapa dimakan monyet, kerugian memang besar. Tetapi kami coba kurangi dampak kerugian itu dengan membeli sabut kelapanya dari petani,” ujarnya, Rabu (15/7/26).

Sabut dibeli seharga Rp1.500 per buah, kemudian diolah oleh tim produksi yang sebagian besar juga petani. Setelah menjadi bahan baku, produk kembali dikerjakan masyarakat setempat.

Misalnya, kelompok perempuan membuat tas berbahan sabut kelapa, lukisan, bunga hias, maupun berbagai kerajinan lain.

“Mereka mendapatkan penghasilan lagi dari produksi itu.”

Produk yang telah selesai, kemudian dipasarkan. Keuntungan penjualan diputar kembali untuk mendukung produksi berikutnya, maupun kegiatan pemberdayaan masyarakat.

“Tujuan utama program ini bukan mengganti seluruh kerugian petani. Tetapi, menekan dampaknya.”

Produk berbahan sabut kelapa yang dibuat warga di Desa Batu Ralang, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, Aceh. Foto: Dok. Ilham Kurnia, Manajer Program The Long-Tailed Macaque Project.

Bagi tim konservasi, kata Ilham, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah produk yang terjual. Hal penting adalah perubahan cara pandang masyarakat terhadap monyet.

Selama ini, banyak program konservasi gagal karena hanya berfokus pada penyelamatan satwa tanpa menjawab kebutuhan ekonomi masyarkaat. Akibatnya, warga merasa konservasi hanya menguntungkan satwa, sementara mereka tetap menanggung kerugian.

“Kalau kami datang hanya membawa program konservasi, masyarakat tentu bertanya, kenapa hanya peduli sama monyet, tetapi tidak peduli pada kehidupan mereka.”

Menurut Ilham, ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara langsung, peluang mereka menerima keberadaan satwa liar akan jauh lebih besar. Pendekatan itu mulai menunjukkan hasil.

“Sebanyak 15 petani yang tergabung dalam program, berkomitmen untuk lebih toleran dan tidak melukai monyet.”

Meski demikian, ilham mengakui perubahan perilaku masyarakat tidak terjadi dalam waktu singkat. Keberlanjutan kegiatan ini masih menghadapi berbagai tantangan, selain modal usaha, dukungan pemerintah setempat menjadi faktor penting.

Kajian di Journal of Asia-Pacifik Biodiversity (2024) berjudul “Spatial patterns of human–long-tailed macaque (Macaca fascicularis) conflicts in Java Island: A comparison of two secondary data sources” menunjukkan konflik manusia dengan monyet ekor panjang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Di tengah minimnya model penyelesaian yang menguntungkan kedua belah pihak, pemanfaatan sabut kelapa di Simeulue jadi contoh nyata membangun koeksistensi antara manusia dengan satwa liar.

Referensi:

Rifaie, F., Sulistyadi, E., Fitriana, Y. S., Inayah, N., Maharadatunkamsi, M., Prameswari, W., & Rusmadipraja, I. A. (2024). Spatial patterns of human–long-tailed macaque (Macaca fascicularis) conflicts in Java Island: A comparison of two secondary data sources. Journal of Asia-Pacific Biodiversity17(4), 653-662. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2287884X24000839?utm_source=

*****

Apakah Monyet Ekor Panjang Baik-baik Saja di Habitatnya?

Kredit

Topik

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.