Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

menilik-kuasa-normalisme-difabel-dalam-sejarah-yunani
Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani
service

Mubadalah.id – Kemarin, Senin 2 Februari 2026 saat berbincang dalam rapat redaksi Media Mubadalah bersama Founder Mubadalah.id Dr Faqihuddin Abdul Kodir, ada satu pertanyaan mengemuka yang beliau ajukan. Apa before dan after setelah program penguatan hak-hak disabilitas melalui penulisan artikel populer dan konten kreatif bergulir dalam satu tahun terakhir ini?

Bagi saya, tentu saja banyak perubahan yang saya alami, terutama cara pandang untuk melihat isu disabilitas ini menjadi bukan sesuatu yang liyan, atau berdiri sendiri. Ia terintegrasi dengan seluruh isu kemanusian dan keadilan gender dalam Islam.

Mereka yang terpinggirkan, teraniaya, tersakiti, tidak terlihat, tak nampak dan tidak pernah kita perhitungkan sejatinya adalah kelompok rentan yang wajib kita bela, dan kita dukung hak-haknya agar setara, dan berdaya.

Namun ada hal lain yang menggelitik perhatian saya ketika mengingat tentang sejarah difabel di dunia. Bagaimana konsepsi difabel ini mengalami perubahan, dari sesuatu yang tak kita anggap, menjadi bagian penting dalam peradaban kemanusiaan. Saya tuliskan dalam catatan ini, dengan materi yang saya baca dari Jurnal Perempuan edisi No. 65 tahun 2010 denan tema “Mencari Ruang untuk Difabel.”

Difabel dalam Sejarah Yunani

Dahulu kala, bangsa Yunani sangat mendamba akan keperkasaan tubuh. Kota menjadi satu wilayah di mana imaji-imaji tubuh terekspresikan. Berbagai tempat seperti tempat ibadah, tempat musyawarah, sekolah, teater dan tempat olah raga mereka atur dengan rapi dengan dasar pada konsep tubuh secara umum.

Ini satu catatan penting difabel dalam sejarah Yunani, ketika tubuh-tubuh dalam masyarakat merupakan cerminan dari sebuah dunia di luar dunia, tempat bersemayam para dewa. Bahkan umumnya tubuh adalah cerminan bagi para dewa itu sendiri, seperti halnya dalam banyak mitos yang berkembang di Yunani. Oidipus, yang mesti membutakan matanya, atau mitos Hapaestus yang selalu direndahkan Dewi Aphrodite, mereka mendamba sekali kesempurnaan tubuh.

Tubuh-tubuh perkasa terpamerkan di Parthenon dan di berbagai sudut kota. Pendidikan Gymnasium yang merupakan tempat untuk para calon pejabat juga mengedepankan keperkasaan tubuh, demi sebuah kepentingan yang tengah menjadi populer saat itu. Seni berperang dan kompetisi dalam Olimpic Game.

Bahkan Plato, filosof yang banyak berpengaruh dalam pemikiran Barat hingga sekarang, juga menghendaki pengenyahan difabel. Baginya, seorang pemimpin mesti seorang filsuf, karena hanya filsuf yang mengerti akan kebenaran dan mengerti banyak hal tentang ilmu pengetahuan.

Lebih dari itu, Plato lebih mendamba sebuah kota sebagaimana Sparta, sebuah kota yang kuat, disipliner dan militeris. Di Sparta anak-anak difabel mereka anggap sebagai barang yang tidak berguna. Untuk itu, bayi yang lahir mereka umumkan ke publik. Setiap bayi yang lahir mesti diserahkan kepada hakim tua yang mereka sebut “Gerousia”, untuk teruji kesempurnaan tubuhnya.

Jika terbukti sehat dan kuat dan tidak ada kecacatan, maka akan mereka umumkan dan sang bapak berhak untuk membawanya pulang untuk mengasuh. Namun sebaliknya, jika mereka temukan terdapat kecacatan keburukan, maka dengan segera akan mereka tinggalkan, kemudian dibawa ke kaki gunung Tegatos untuk mereka bunuh.

Menjalar ke Bangsa Romawi

Konsepsi difabel yang berkembang dalam masyarakat Yunani menjalar ke berbagai peradaban dunia. Demikian halnya dengan masyarakat Roma, sebuah bangsa yang sangat militeristik. Pada zaman itu, difabel sangat melekat dengan budak, sering pula terasosiasikan sebagai orang idiot.

Selain itu, kita temukan pula bahwa difabel sering menjadi ledekan dan lelucon, terutama budak yang difabel. Sebuah pesta makan, atau biasa disebut Petronius, selalu saja menghadirkan budak yang mempunyai mata juling atau budak difabel.

Dalam sebuah acara makan-makan tidak asik jika tanpa kehadiran difabel untuk mereka jadikan lawak sebagai penggibur. Bahkan harga budak bisa sampai 20.000 (sesterce-jenis uang saat itu) bila budak tersebut bisa pura-pura menjadi idiot.

Roma merupakan sebuah peradaban penting yang sangat berpengaruh dalam sejarah perkembangan Eropa. Negeri ini terbangun berdasar atas kemenangan armada terbesar dalam sejarah militer. Puncak kejayaan Roma sekitar 202 SM, yaitu ketika Karthago, sebuah kekuatan terbesar di wilayah meditarian, dibumihanguskan.

Lalu Roma menjadi salah satu peradaban yang kokoh. Aliran pemikiran yang dominan tereksplorasi lebih dalam lagi menyangkut soal tubuh dalam pandangan masyarakat Roma. Karena kekuatan militer Roma ini pula Machiavelli sering merujuk dan mempunyai kekaguman yang luar biasa.

Bangsa Romawi, sebagaimana bangsa Yunani juga melakukan pembunuhan bayi (infanticide) yang sakit-sakitan, acat dan dianggap lemah. Bahkan tak segan-segan bayi-bayi difabel ini dihanyutkan di sungai Tiber. Jika ditemukan orang-orang yang pendek ukurannya, cebol, tunarungu, mereka selalu saja menjadi bahan lelucon dan ukuran-ukuran untuk sesuatu yang dianggap hina.

Orang-orang cebol, tunanetra juga tak jarang sering menjadi permainan “tontonan” pertarungan yang biasa mereka tandingkan dengan perempuan atau hewan sebagai bahan-bahan lelucon dan hiburan. Memang terdapat tokoh Kaisar Claudous yang berhasil lolos dari pembunuhan saat bayi, karena posisinya yang dibesarkan dari keluarga kalangan bangsawan tertinggi pada zamannya.

Sekalipun begitu, dalam sejarah Romawi, kaisar ini juga masih menjadi rujukan keburukan dan dianggap mencederai kemuliaan keturunan raja. Antonia, sang ibu dari Claudous, tak segan-segan mengatakan bahwa anaknya pada hakikatnya merupakan manusia yang sepenuhnya belum “menjadi” atau baru terselesaikan setengah menjadi manusia.

Lalu bagaimana dengan sejarah difabel di belahan dunia lainnya? Nantikan pada penulisan artikel berikutnya! []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.