Dengarkan artikel berikut.
Audio ini dibuat dengan teknologi AI.
Dua pemimpin yang paling sering disebut bertangan besi di panggung dunia hari ini, sama-sama memerintah negeri yang menyebut tanah airnya sebagai ibu. Kebetulan, atau ada logika kekuasaan yang sengaja bersembunyi di balik kata “motherland”?
PinterPolitik.com
Di Volgograd, berdiri sebuah patung setinggi 85 meter bernama The Motherland Calls — seorang perempuan raksasa mengacungkan pedang, wajahnya menjerit memanggil. Ribuan kilometer dari sana, di banyak sudut kota-kota India, mural dan poster Bharat Mata — Ibu Pertiwi India — digambarkan sebagai perempuan berjubah bendera nasional, siap dilindungi dari ancaman siapa pun yang dianggap mengganggunya.
Dua imaji ini lahir dari dua bangsa yang jauh secara geografis, sejarah, dan agama. Tapi dua-duanya kini dipimpin oleh sosok yang oleh banyak indeks demokrasi internasional dianggap sama-sama mengumpulkan kekuasaan lebih besar dari biasanya: Vladimir Putin, yang telah memerintah Rusia lebih dari dua dekade sambil terus mempersempit ruang gerak oposisi; dan Narendra Modi, yang oleh laporan V-Dem dan Freedom House disebut memimpin proses pelemahan bertahap institusi demokrasi India lewat konsolidasi kekuasaan mayoritas.
Pertanyaannya sederhana tapi jarang diajukan: kenapa negeri yang memuja tanah airnya sebagai ibu yang lembut dan suci, justru berulang kali melahirkan atau merindukan pemimpin bertangan besi? Jangan buru-buru menjawab dengan tergesa bahwa ibu pertiwi adalah biang keladinya — sebab jawabannya jauh lebih rumit, dan justru di situlah letak menariknya.
Simbol yang Sering Disalahpahami
Sebelum melangkah lebih jauh, satu kekeliruan perlu diluruskan dulu. Motherland bukan struktur kekerabatan matrilineal seperti yang dikenal antropologi — bukan soal siapa yang mewarisi harta atau memegang otoritas keluarga. Ia murni simbol nasionalis, cara sebuah bangsa membungkus dirinya dalam metafora feminin agar terasa dicintai, bukan sekadar ditaati.
Dan simbol ini ternyata tidak eksklusif milik negeri dengan kekuasaan terpusat. Jerman menyebut tanah airnya Vaterland — tanah bapak — dan dari sanalah lahir salah satu pemerintahan paling keras dalam catatan sejarah abad ke-20. Turki modern justru dibangun di atas nama Mustafa Kemal Atatürk, yang secara harfiah berarti “Bapak Bangsa Turk”, meski kata anavatan (tanah ibu) juga hidup dalam percakapan sehari-hari warganya. Bahkan Prancis, yang mempersonifikasikan republiknya lewat sosok feminin Marianne, menyimpan akar kata la patrie dari bahasa Latin pater — bapak juga. Napoleon toh tetap lahir di sana.
Artinya, jenis kelamin gramatikal atau visual dari simbol kebangsaan bukan prediktor yang kuat untuk munculnya kepemimpinan yang keras dan terpusat. Kalau begitu, apa yang sebenarnya sedang terjadi di Rusia dan India?
Pembagian Kerja Dua Gender
Di sinilah kerangka pemikiran sejumlah teoretisi nasionalisme-gender jadi berguna. Antropolog Anne McClintock, dalam kajiannya soal nasionalisme dan gender, berargumen bahwa bangsa-bangsa hampir selalu dibayangkan lewat familial trope — sebagai keluarga besar dengan ibu yang melambangkan kesucian dan kontinuitas, sementara laki-laki diposisikan sebagai pelaku sejarah yang aktif melindungi dan memperjuangkannya. Ibu pertiwi, dalam bacaan ini, bukan sekadar hiasan puitis, melainkan alat retorika yang membagi peran secara rapi: perempuan/tanah air menjadi objek yang rentan dan harus dijaga kesuciannya, laki-laki/negara menjadi subjek yang berhak — bahkan merasa wajib — bertindak tegas demi menjaganya.
Cynthia Enloe, dalam kajian klasiknya soal militerisme dan gender, menambahkan bahwa retorika “melindungi ibu pertiwi” adalah salah satu cara paling efektif untuk memobilisasi maskulinitas politik dan militer. Ketika sebuah bangsa dibayangkan sebagai ibu yang terancam, seruan untuk pemimpin kuat, tentara yang siap berjuang, dan kebijakan keras atas nama keamanan, menjadi jauh lebih mudah diterima secara emosional. Bukan kebetulan bahwa “The Motherland Calls” adalah monumen perang, bukan monumen damai — ia dibangun untuk mengenang pertempuran Stalingrad, saat jutaan laki-laki Soviet dikerahkan atas nama membela sang ibu dari invasi Nazi. Retorika serupa terus dipakai hari ini untuk membenarkan mobilisasi dan penyempitan ruang kritik, dengan bingkai “pertahanan” yang sama.
Pola yang tak jauh berbeda terjadi di India. Sosiolog Nira Yuval-Davis, dalam teorinya soal gendered nation, mencatat bahwa perempuan dalam narasi bangsa sering diposisikan sebagai penjaga batas simbolik komunitas — kehormatan bangsa dititipkan ke tubuh dan kesucian “ibu”. Gerakan nasionalis Hindu di India memakai citra Bharat Mata persis dengan logika ini: seruan untuk “melindungi kehormatan sang ibu” dari ancaman — baik nyata maupun yang dikonstruksi secara politis — menjadi bahasa pemersatu yang efektif untuk memobilisasi basis massa mayoritas dan melegitimasi kebijakan yang oleh sejumlah pengamat dinilai kurang ramah terhadap kelompok minoritas.
Yang penting dipahami: ibu pertiwi bukan penyebab lahirnya kepemimpinan bertangan besi. Ia adalah instrumen. Kekuasaan yang sudah punya niat memusatkan diri akan selalu mencari bahasa yang paling mudah diterima publik, dan metafora keluarga — ibu yang harus dilindungi, bapak yang melindungi — kebetulan adalah salah satu bahasa politik tertua dan paling universal yang dikenal umat manusia. Benedict Anderson, dalam gagasannya soal bangsa sebagai “komunitas yang dibayangkan”, sudah lama mengingatkan bahwa nasionalisme selalu butuh simbol emosional untuk mengikat jutaan orang asing satu sama lain seolah mereka keluarga — dan keluarga, dalam bayangan hampir semua budaya, punya hierarki yang jelas antara siapa yang dilindungi dan siapa yang melindungi.
Kekuatan yang Menunggu Dipertanyakan
Ada satu hal yang perlu ditegaskan sebelum kesimpulan diambil terlalu jauh: menyamakan Rusia dan India dalam satu kategori kepemimpinan terpusat adalah generalisasi yang perlu dipegang hati-hati. Karakter kekuasaan Rusia relatif konsisten dinilai lebih tersentralisasi oleh mayoritas indeks demokrasi internasional. India jauh lebih rumit — ia tetap demokrasi elektoral terbesar di dunia, dengan pemilu yang kompetitif dan pers yang, meski menghadapi tekanan, masih bersuara. Yang lebih tepat dikatakan adalah India tengah mengalami apa yang oleh lembaga-lembaga pemantau demokrasi disebut sebagai proses pelemahan bertahap, bukan sesuatu yang sudah rampung sepenuhnya.
Filsuf politik Hannah Arendt pernah menulis sesuatu yang relevan untuk merenungkan fenomena ini lebih jauh: kekuasaan sejati, katanya, tidak pernah lahir dari kemampuan memaksa atau dari kekuatan senjata semata, melainkan dari kesediaan sejumlah besar orang untuk bertindak bersama atas nama sesuatu yang mereka percayai bersama. Ibu pertiwi, Rodina-mat, Bharat Mata — semuanya adalah bentuk kepercayaan bersama itu, sesuatu yang murni dan tulus di titik awalnya, sebelum akhirnya ditumpangi oleh kepentingan kekuasaan yang lebih besar dari sekadar cinta pada tanah kelahiran.
Yang membedakan bangsa yang sehat dari bangsa yang rentan disalahgunakan simbolnya, bukan ada-tidaknya metafora ibu pertiwi dalam bahasa kebangsaannya — hampir semua bangsa di dunia punya versi metafora ini dalam satu bentuk atau lain. Yang membedakannya adalah seberapa kuat institusi dan ruang publik sebuah bangsa dalam menahan simbol itu agar tetap menjadi perekat kolektif, bukan berubah menjadi tiket kosong bagi siapa pun yang ingin memerintah tanpa batas atas nama “melindungi” sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar terancam.
Pertanyaan yang sebenarnya layak direnungkan setiap warga negara — di mana pun bangsa itu berada, dan siapa pun yang memimpinnya — bukan “apakah tanah air kita disebut ibu atau bapak”, melainkan: seberapa mudah kita membiarkan bahasa cinta pada tanah kelahiran dipinjam untuk membenarkan sesuatu yang, kalau dipikir jernih tanpa emosi kebangsaan, sebenarnya jauh lebih dekat dengan kepentingan segelintir orang yang sedang berkuasa, ketimbang kepentingan sang ibu itu sendiri. (D74)





Comments are closed.