Mubadalah.id – Sebentar lagi umat muslim sedunia akan memikirkan dan berselisih kembali perihal “maulid nabi”. Sebagian umat muslim menyemainya dengan tradisi ala-ala Islam, muslim yang lain menjustifikasinya sebagai tradisi melenceng dari Islam.
Momentum maulid ini memunculkan beragam ekspresi perayaan bagi kalangan umat Muslim, mulai dari tradisi Grebeg Maulud dan Sekaten, Endog-Endogan, Bale Saji, hingga tradisi lainnya di berbagai daerah Indonesia.
Selain unsur tradisi, satu hal yang mentereng lagi adalah ceramah agama yang selalu membahas perbedaan diksi maulid dan maulud. Meskipun tampak berbeda, tetapi diksi itu lahir dari rahim yang sama, yaitu kata walada.
Kedua diksi itu sama-sama sahih: secara linguistik, “maulud” (isim maf’ul) merujuk pada sosok yang dilahirkan Nabi Muhammad, sedangkan “maulid” (sighat zaman) merujuk pada waktu kelahirannya.
Namun yang sering terlupakan dari peringatan maulid Nabi adalah esensinya: bahwa keteladanan, misi dakwah, dan penyebaran kasih sayang beliau pada dasarnya bervisi memuliakan manusia dan menumbuhkan rasa kemanusiaan yang adil.
Man Huwa Al-Insan?
Pertanyaan tentang siapa atau apa itu manusia bagi saya bukanlah hal baru. Ini obrolan usang yang terus melahirkan definisi baru di setiap zamannya. Misalnya, definisi manusia menurut Badiuzzaman Said Nursi, baginya manusia/insan merupakan entitas dari alam nyata dan metafisik. Imam Al-Ghazali, mengungkapkan manusia itu tersusun dari unsur jasmani dan rohani, namun hakikat utamanya terletak pada aspek rohani atau jiwanya.
Beralih ke Ibnu Rusyd, ia menganggap jiwa setiap manusia adalah kesempurnaan pertama bagi tubuh alami yang organik dan memiliki potensi merangkum semua potensi makhluk hidup. Ahli psikoanalisis, Sigmun Freud berkata manusia itu makhluk yang sebenarnya bergerak dalam dorongan bawah sadar, bukan oleh akal sehat.
Dalam konteks manusia modern yang berjibaku dengan mesin dan teknologi. Sastre mengungkap kebebasan manusia ketika bertindak yang secara kontinyu meciptakan dirinya melalui pilihan-pilihan. Dasein, bagi Heidegger, manusia menghadapi ketegangan hidup antara autentisitas dan keterlemparan diri dalam dunia teknologi. Paling terkesan radikal, Filsuf materialistis, Julien Offray de La Mettrie mendeklarasikan manusia sebagai mesin.
Setiap filsuf di atas menangkap serpihan manusia, jiwanya, nalar, kebebasan, namun tidak pernah merengkuhnya utuh. Berbeda dengan nabi Muhammad SAW, melalui teladannya bisa mendamaikan alam realitas (jasad) dan metafisis (ruh), kebebasan dan tanggung jawab, individu dan sosial, hasrat dan nalar serta mengukuhkan fitrah manusia dengan sempurna.
Menggenggam Hakikat Manusia
Jika demikian, maka merayakan Maulid Nabi tanpa menyelami esensi manusia yang beliau teladankan sama saja dengan merayakan kulit tanpa isi. Sebab merenungkan kembali misi kenabian akan semakin tercerahkan, bahwa misi sejatinya adalah menyempurnakan manusia itu sendiri, bukan sekadar menata ritual atau tradisi belaka.
Melampaui aspek filosofis, Muhammad SAW hadir sebagai narrator sekaligus penggerak revolusi paradigma kemanusiaan. Di tengah heterogenitas suku, status sosial, kekayaan, gender, Nabi datang dengan prinsip sederhana tapi radikal; integritas manusia hanya ditentukan oleh kadar ketakwaan dan sifat palamartanya
Maka, menggenggam hakikat manusia berarti belajar melihatnya bukan sebagai alat, objek politik, mesin produksi, atau hanya sekedar identitas kelompok. Maulidun Nabi adalah saat-saat merenungkan kembali cara memandang dan memperlakukan sesama secara utuh dan adil, serta mengembalikan hakikat kemanusiaan dengan sikap saling memuliakan.
Jangan Sampai Mengaku Jadi Nabi Modern
Tepat ketika bergemuruh semangat meneladani nabi, ada satu hal yang genting kita waspadai, jangan-jangan kita terlalu sibuk merasa paling Nabawi dan terlena dari selayaknya manusia biasa.
Ironisnya, zaman yang katanya rasional dan tercerahkan ini mengangkat gejala diri sebagai “nabi-nabi kecil” dengan tampang yang berbeda. Memang tidak berupa klaim kenabian secara harfiah, terkadang menjelma dalam bentuk miniatur yang sehalus sutra, menabalkan diri sebagai si paling heroik dan suci. Dengan dalih agama mengeksploitasi rakyat, melanggengkan jabatan dan menutupi tindakan koruptif, terkadang juga hipokrit bertopeng suci di ruang publik.
Fenomena ini sesungguhnya senafas dengan kekhawatiran sekaligus ramalan Harari atau bayang-bayang Homo Deus, ketika manusia mendaku dirinya setara penciptanya. Lebih berbahaya lagi, ruang-ruang kecil seperti kelas, lingkungan sekitar, mimbar, media sosial lagi marak nabi modern yang jarang mengaku salah.
Padahal, kita boleh saja meniru dan meneladani nabi dengan catatan sadar diri, bahwa kita bukan nabi sesungguhnya. Karena sehebat apapun risalah yang ada pada Nabi Muhammad, beliau selalu tidak luput dari sisi kemanusiaannya sendiri. “Aku Hanyalah Manusia Biasa yang membawa wahyu (Q.S Al-Kahfi:110)” demikian Al-Qur’an mengatakannya.
Pada akhirnya, pelajaran maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi, akan tetapi mewaspadai diri dari merasa paling suci. Sebab, kerendahan hati mengakui keterbatasan sebagai manusia justru lebih profetik daripada sibuk mengklaim diri sebagai keturunan atau pribadi paling Nabawi. Shallu Alannabi Muhammad. []





Comments are closed.