Tue,25 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Maulid Nabi Called: Mendalami Esensi Manusia dan Bahaya Merasa Paling Nabawi

Maulid Nabi Called: Mendalami Esensi Manusia dan Bahaya Merasa Paling Nabawi

maulid-nabi-called:-mendalami-esensi-manusia-dan-bahaya-merasa-paling-nabawi
Maulid Nabi Called: Mendalami Esensi Manusia dan Bahaya Merasa Paling Nabawi
service

Mubadalah.id – Sebentar lagi umat muslim sedunia akan memikirkan dan berselisih kembali perihal “maulid nabi”. Sebagian umat muslim menyemainya dengan tradisi ala-ala Islam, muslim yang lain menjustifikasinya sebagai tradisi melenceng dari Islam.

Momentum maulid ini memunculkan beragam ekspresi perayaan bagi kalangan umat Muslim, mulai dari tradisi Grebeg Maulud dan Sekaten, Endog-Endogan, Bale Saji, hingga tradisi lainnya di berbagai daerah Indonesia.

Selain unsur tradisi, satu hal yang mentereng lagi adalah ceramah agama yang selalu membahas perbedaan diksi maulid dan maulud. Meskipun tampak berbeda, tetapi diksi itu lahir dari rahim yang sama, yaitu kata walada.

Kedua diksi itu sama-sama sahih: secara linguistik, “maulud” (isim maf’ul) merujuk pada sosok yang dilahirkan Nabi Muhammad, sedangkan “maulid” (sighat zaman) merujuk pada waktu kelahirannya.

Namun yang sering terlupakan dari peringatan maulid Nabi adalah esensinya: bahwa keteladanan, misi dakwah, dan penyebaran kasih sayang beliau pada dasarnya bervisi memuliakan manusia dan menumbuhkan rasa kemanusiaan yang adil.

Man Huwa Al-Insan?

Pertanyaan tentang siapa atau apa itu manusia bagi saya bukanlah hal baru. Ini obrolan usang yang terus melahirkan definisi baru di setiap zamannya. Misalnya, definisi manusia menurut Badiuzzaman Said Nursi, baginya manusia/insan merupakan entitas dari alam nyata dan metafisik. Imam Al-Ghazali, mengungkapkan manusia itu tersusun dari unsur jasmani dan rohani, namun hakikat utamanya terletak pada aspek rohani atau jiwanya.

Beralih ke Ibnu Rusyd, ia menganggap jiwa setiap manusia adalah kesempurnaan pertama bagi tubuh alami yang organik dan memiliki potensi merangkum semua potensi makhluk hidup. Ahli psikoanalisis, Sigmun Freud berkata manusia itu makhluk yang sebenarnya bergerak dalam dorongan bawah sadar, bukan oleh akal sehat.

Dalam konteks manusia modern yang berjibaku dengan mesin dan teknologi. Sastre mengungkap kebebasan manusia ketika bertindak yang secara kontinyu meciptakan dirinya melalui pilihan-pilihan. Dasein, bagi Heidegger, manusia menghadapi ketegangan hidup antara autentisitas dan keterlemparan diri dalam dunia teknologi. Paling terkesan radikal, Filsuf materialistis, Julien Offray de La Mettrie mendeklarasikan manusia sebagai mesin.

Setiap filsuf di atas menangkap serpihan manusia, jiwanya, nalar, kebebasan, namun tidak pernah merengkuhnya utuh. Berbeda dengan nabi Muhammad SAW, melalui teladannya bisa mendamaikan alam realitas (jasad) dan metafisis (ruh), kebebasan dan tanggung jawab, individu dan sosial, hasrat dan nalar serta mengukuhkan fitrah manusia dengan sempurna.

Menggenggam Hakikat Manusia

Jika demikian, maka merayakan Maulid Nabi tanpa menyelami esensi manusia yang beliau teladankan sama saja dengan merayakan kulit tanpa isi. Sebab merenungkan kembali misi kenabian akan semakin tercerahkan, bahwa misi sejatinya adalah menyempurnakan manusia itu sendiri, bukan sekadar menata ritual atau tradisi belaka.

Melampaui aspek filosofis, Muhammad SAW hadir sebagai narrator sekaligus penggerak revolusi paradigma kemanusiaan. Di tengah heterogenitas suku, status sosial, kekayaan, gender, Nabi datang dengan prinsip sederhana tapi radikal; integritas manusia hanya ditentukan oleh kadar ketakwaan dan sifat palamartanya

Maka, menggenggam hakikat manusia berarti belajar melihatnya bukan sebagai alat, objek politik, mesin produksi, atau hanya sekedar identitas kelompok. Maulidun Nabi adalah saat-saat merenungkan kembali cara memandang dan memperlakukan sesama secara utuh dan adil, serta mengembalikan hakikat kemanusiaan dengan sikap saling memuliakan.

Jangan Sampai Mengaku Jadi Nabi Modern

Tepat ketika bergemuruh semangat meneladani nabi, ada satu hal yang genting kita waspadai, jangan-jangan kita terlalu sibuk merasa paling Nabawi dan terlena dari selayaknya manusia biasa.

Ironisnya, zaman yang katanya rasional dan tercerahkan ini mengangkat gejala diri sebagai “nabi-nabi kecil” dengan tampang yang berbeda. Memang tidak berupa klaim kenabian secara harfiah, terkadang menjelma dalam bentuk miniatur yang sehalus sutra, menabalkan diri sebagai si paling heroik dan suci. Dengan dalih agama mengeksploitasi rakyat, melanggengkan jabatan dan menutupi tindakan koruptif, terkadang juga hipokrit bertopeng suci di ruang publik.

Fenomena ini sesungguhnya senafas dengan kekhawatiran sekaligus ramalan Harari atau bayang-bayang Homo Deus, ketika manusia mendaku dirinya setara penciptanya. Lebih berbahaya lagi, ruang-ruang kecil seperti kelas, lingkungan sekitar, mimbar, media sosial lagi marak nabi modern yang jarang mengaku salah.

Padahal, kita boleh saja meniru dan meneladani nabi dengan catatan sadar diri, bahwa kita bukan nabi sesungguhnya. Karena sehebat apapun risalah yang ada pada Nabi Muhammad, beliau selalu tidak luput dari sisi kemanusiaannya sendiri. “Aku Hanyalah Manusia Biasa yang membawa wahyu (Q.S Al-Kahfi:110)” demikian Al-Qur’an mengatakannya.

Pada akhirnya, pelajaran maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi, akan tetapi mewaspadai diri dari merasa paling suci. Sebab, kerendahan hati mengakui keterbatasan sebagai manusia justru lebih profetik daripada sibuk mengklaim diri sebagai keturunan atau pribadi paling Nabawi. Shallu Alannabi Muhammad. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.