Sun,26 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Menurut Studi, Atasan Akan Beri Lebih Banyak Beban Kerja pada Pekerja yang Rajin

Menurut Studi, Atasan Akan Beri Lebih Banyak Beban Kerja pada Pekerja yang Rajin

menurut-studi,-atasan-akan-beri-lebih-banyak-beban-kerja-pada-pekerja-yang-rajin
Menurut Studi, Atasan Akan Beri Lebih Banyak Beban Kerja pada Pekerja yang Rajin
service

25 Maret 2026 18.19 WIB • 2 menit

Menurut Studi, Atasan Akan Beri Lebih Banyak Beban Kerja pada Pekerja yang Rajin


Dalam dunia kerja modern, menjadi pekerja rajin sering dianggap sebagai kunci kesuksesan karier. Banyak orang percaya bahwa kerja keras akan berbanding lurus dengan penghargaan dan promosi.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan sisi lain yang jarang dibahas. Alih-alih mendapat keringanan, pekerja yang rajin justru berpotensi menerima beban kerja tambahan dari atasan mereka.

Temuan Studi

Penelitian yang dilakukan oleh Sangah Bae dan Kaitlin Woolley mengungkap fenomena yang disebut sebagai “intrinsic motivation penalty.”

Dalam beberapa studi yang melibatkan lebih dari seribu partisipan, ditemukan bahwa karyawan dengan motivasi intrinsik tinggi—yakni mereka yang bekerja karena dorongan internal dan rasa tanggung jawab—lebih sering diberikan tugas tambahan, terutama tugas yang kurang diinginkan.

Menariknya, dalam penelitian tersebut, kualitas kerja tidak menjadi faktor pembeda utama. Bahkan ketika kualitas kerja dianggap sama, pekerja yang terlihat lebih bersemangat dan berdedikasi tetap lebih sering dibebani tugas tambahan.

Hal ini menunjukkan bahwa persepsi atasan terhadap sikap pekerja memainkan peran besar dalam distribusi pekerjaan.

Mengapa Atasan Justru Memberi Beban Lebih?

Ada beberapa alasan psikologis yang menjelaskan fenomena ini. Pertama, atasan cenderung menganggap pekerja rajin sebagai individu yang lebih dapat diandalkan.

Ketika ada tugas tambahan, mereka akan memilih orang yang kemungkinan besar tidak menolak dan mampu menyelesaikannya dengan baik.

Kedua, terdapat bias efisiensi dalam pengambilan keputusan manajerial. Memberikan tugas kepada pekerja yang sudah terbukti rajin dianggap lebih aman daripada mengambil risiko dengan karyawan lain.

Dalam konteks ini, efisiensi jangka pendek sering kali lebih diutamakan dibandingkan keadilan distribusi kerja.

Ketiga, norma sosial dalam organisasi juga berperan. Pekerja yang rajin sering kali dianggap “suka bekerja” sehingga tambahan tugas dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak merugikan mereka. Padahal, asumsi ini belum tentu benar dan bisa berdampak negatif dalam jangka panjang.

Dampak bagi Pekerja dan Organisasi

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga organisasi secara keseluruhan. Bagi pekerja, menerima terlalu banyak tugas dapat menyebabkan kelelahan, penurunan motivasi, hingga burnout.

Ironisnya, pekerja yang awalnya memiliki motivasi tinggi justru berisiko kehilangan semangat kerja karena beban yang tidak seimbang.

Dari sisi organisasi, distribusi kerja yang tidak adil dapat menciptakan ketimpangan kinerja tim. Karyawan lain mungkin menjadi kurang termotivasi karena merasa kontribusinya tidak terlalu diperhatikan. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menurunkan produktivitas tim secara keseluruhan.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa persepsi terhadap waktu kerja dan beban kerja dapat memengaruhi motivasi intrinsik seseorang. Ketika pekerjaan terasa berlebihan atau mengganggu keseimbangan hidup, tingkat kepuasan kerja cenderung menurun.

Bagaimana Menyikapi Fenomena Ini

Mengatasi masalah ini memerlukan kesadaran dari kedua belah pihak, baik manajer maupun karyawan. Bagi manajer, penting untuk mendistribusikan tugas secara lebih adil dan mempertimbangkan beban kerja masing-masing individu.

Mengandalkan satu atau dua pekerja rajin secara terus-menerus dapat merugikan tim dalam jangka panjang.

Sementara itu, pekerja juga perlu belajar menetapkan batasan. Menjadi rajin bukan berarti harus selalu menerima semua tugas tambahan. Komunikasi yang jelas mengenai kapasitas kerja dapat membantu mencegah penumpukan beban yang berlebihan.

Pada akhirnya, penelitian Bae dan Woolley memberikan perspektif baru tentang dinamika kerja di organisasi. Kerajinan memang merupakan kualitas yang positif, tetapi tanpa pengelolaan yang tepat, hal tersebut justru dapat menjadi “jebakan” yang merugikan pekerja itu sendiri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Daniel Sumarno lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Daniel Sumarno.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.