Mon,10 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Menyongsong The Golden Age of Islamic Civilization

Menyongsong The Golden Age of Islamic Civilization

menyongsong-the-golden-age-of-islamic-civilization
Menyongsong The Golden Age of Islamic Civilization
service

Era kejayaan Islam di masa lalu selalu dirindukan umat pada saat ini. Cita-cita, harapan dan aktivitas diarahkan untuk meraih kembali masa kegemilangan tersebut. Itulah yang tercermin dari apa yang disampaikan Menteri Agama Nasarudin Umar, pada acara Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional di Pesantren As’adiyah Wajo, Sulawesi Selatan. Ia berharap acara-acara semacam ini akan menjadi “anak tangga pertama” menuju kembali ke: “The Golden Age of Islamic Civilization” (Zaman Keemasan Peradaban Islam). Dan semua itu tentu harus diawali dari lingkungan pesantren itu sendiri. (Kemenag.go.id, 2/10/2025)

Selain itu pesantren diharapkan bisa memadukan antara ilmu pengetahuan dan teknologi dengan ilmu agama yang berasal dari kitab-kitab karya para ulama. Karena dengan mempelajari kedua jenis ilmu itu akan lahir generasi insan kamil. Untuk salanjutnya mereka lah yang akan mewujudkan The golden Age of Islamic Civilization. Menurut Menag, masa keemasan ini bisa diraih bangsa Indonesia, mengingat banyak lembaga pendidikan Islam tradisional yang merupakan benteng paling kuat, serta bisa mempertahankan lima unsur pokoknya yaitu masjid, kiai, santri, kuat membaca kitab turats dan memelihara kebiasaan ketika berada di pondok.

MQK Internasional merupakan salah satu even dari rangkaian acara memperingati Hari Santri 2025 yang mempunyai tema besar “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.” Selintas, orang akan bangga dengan topik yang dipilih, tapi apakah itu bisa terealisasi di tengah kehidupan yang sekuler dan liberalis seperti sekarang? Bisakah umat bangkit dengan sistem yang ada hari ini?

Pesantren-pesantren yang memiliki banyak santri kadang menjadi tempat percobaan program-program dari pemerintah. Sayangnya kebijakan penguasa ini mengesampingkan posisi strategisnya dalam mencetak ulama dan pemimpin peradaban Islam. Konsentrasi santri terganggu dalam mempelajari kitab kuning (turats) karena ada tugas menjadi duta budaya atau  penggerak ekonomi pesantren dan lingkungan sekitarnya. Hal ini menjadi penghalang mereka dalam meraih cita-cita menjadi ulama pewaris para nabi. Bagaimana tidak mengganggu, program seperti OPOP (One Pesantren One Product), itu bisa menyibukkan santri-santri dalam membuat sesuatu yang bisa dijual. Mereka pun akan keliling untuk berjualan menawarkan produknya ke rumah-rumah dan ke masjid-masjid.

Ironis sekali, negara yang kaya sumber daya alam ini tidak mampu membiayai pendidikan rakyatnya. Bagaimana bisa bangkit jika untuk belajar saja mereka tidak bisa fokus, karena sibuk mencari dana. Kalaupun ada sumbangan dari masyarakat atau wali santri, pesantren harus mengelolanya seketat mungkin agar mencukupi. Sehingga akhirnya ketika ingin membangun sarana, santri-santri lah yang dilibatkan untuk ikut gotong royong. Maka wajar, kasus bangunan roboh beberapa waktu lalu, adalah karena tanpa melibatkan tenaga yang ahli di bidangnya, alhasil menyebabkan banyak santri yang meninggal. Hal ini menunjukkan negara abai dalam mengelola pendidikan generasi. Bagaimana tidak, dengan alasan anggaran yang kurang akhirnya rakyat sendiri yang berswadaya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Inilah ciri dari sistem kapitalisme yang dijalankan pemerintah Indonesia. Penguasa dan para pejabatnya hanya berfungsi sebagai regulator dan fasilitator para pemilik modal. Para investor dilayani sepenuh hati, rakyat dilirik sebelah mata.

Anehnya, pemerintah justru peduli dengan apa yang diajarkan di pesantren. Hal ini terlihat dari adanya program-program yang menyasar para santri. Namun di dalamnya secara tidak langsung terdapat pengarusan pemahaman Islam moderat (wasathiyah). Ide ini jelas bertentangan dengan akidah yang lurus dan membahayakan umat. Setidaknya ada tiga konsep dasar yang harus ditanamkan pada generasi sejak dini, yaitu: Pertama, akidah yang kuat sehingga mereka memahami tujuan penciptaannya di dunia ini. Kedua, keterikatan pada hukum syariat sebagai konsekuensi dari keimanannya. Ketiga, menampilkan akhlak terpuji sebagai buah dari keduanya. Santriwan dan santriwati yang berinteraksi secara terus menerus dengan kiai dan asatidz diharapkan mampu mengamalkan ketiganya. Sehingga mereka menjadi model bagi lingkungan sekitarnya.

Walau bagaimana pun masalah pesantren merupakan bagian dari problem global dunia saat ini. Ketika negara ini menerapkan sistem kapitalisme yang sekularistik, maka penguasanya lemah dalam menjaga akidah dan akhlak warganya. Masyarakat menjadi individualis, akibatnya kontrol sosial atau amar makruf nahi mungkar melemah. Keluarga-keluarga muslim lebih menyerahkan pendidikan ke sekolah atau pesantren, dan dengan mudah menjadikannya sebagai kambing hitam ketika terjadi masalah. Dalam keadaan seperti ini mungkinkah “Zaman Keemasan Peradaban Islam” bisa kembali lagi? Tentu saja tidak, selama sistem yang berlaku bukan berasal dari Allah Swt.

Harus disadari bahwa di balik peradaban emas umat Islam di masa lalu, terdapat sistem kuat yang menopangnya yaitu penerapan hukum Allah oleh penguasa yang adil dan amanah. Bukan melalui Islam moderat yang diaruskan ke tengah umat. Jadi dalam hal ini ada tiga prinsip penting yang harus dilakukan pesantren, pertama, membina santri dengan landasan akidah yang sahih. Kedua, membangun dan mengembangkan pola pikir politis ideologis Islam agar bisa mengatasi proyek yang merusak jati diri atau identitas muslim. Ketiga, konsisten berdakwah melaksanakan amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat. Dengan demikian para santri, kiai, asatidz akan mampu membawa kebaikan di dunia dan di akhirat, serta mengantarkan pada terwujudnya kegemilangan Islam kembali. Allah Swt. berfirman dalam QS al-Baqarah ayat 201:

Dan di antara mereka ada yang berdoa, ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab api neraka.”

Sebenarnya mewujudkan kembali zaman keemasan peradaban Islam adalah kewajiban setiap orang yang beriman, bukan hanya tugas pesantren saja. Lembaga pendidikan Islam hanyalah salah satu komponen yang berperan. Sinergitas antara santri, keluarga dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam perjuangan ini. Ajaran yang sahih dengan asasnya akidah Islam, standar perbuatannya halal haram dan makna kebahagiaannya adalah rida Allah Swt. Realitas cita-cita yang akan diraih pun harus tergambar dalam benak umat. Perjuangan ini berupa dakwah pemikiran yang terarah mengikuti metode Rasulullah saw. dalam menegakkan institusi yang akan menerapkan syariah secara menyeluruh di setiap aspek kehidupan (Khilafah). Setelah berhasil, kegemilangan yang didambakan itu pasti akan kembali sesuai janji Allah Swt.

Wallahu a’lam bish shawab

Editor: Hanin Mazaya

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.