Arina.id-Beberapa negara di Kawasan Timur Tengah menandatangani aliansi Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah (Mecca Agrement for Joint Defence) yang ditandatangani Arab Saudi, Turki, dan Pakistan pada Jumat 7 Agustus 2026. Pakta pertahanan kawasan tersebut mirip dengan NATO, yang fokus pada masalah pertahanan kawasan.
Pembentukan aliansi ini terjadi di tengah ketegangan kawasan, ketika Arab Saudi mulai diseret oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel memerangi Iran. Di sisi lain Israel juga meluaskan agresinya dari Palestina ke Lebanon. Aliansi pertahanan ini, bila mengutip Pasal 5 menegaskan “setiap serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.”
Artinya, bila kelak Iran atau negara lain menyerang Arab Saudi, maka Turki dan Pakistan akan menceburkan diri membelanya. Beberapa kawasan lainnya disebut-sebut bakal bergabung: Mesir, Somalia dan Bahrain. Somalia misalnya, menganggap perjanjian tersebut sebagai langkah penting memperkuat keamanan kolektif, kerja sama pertahanan, serta stabilitas kawasan.
Dikutip dari Anadolu, Somalia menggambarkannya sebagai langkah bersejarah menuju penguatan keamanan kolektif dan kerja sama pertahanan. Dalam pernyataannya, Kementerian Pertahanan Somalia menyebut kemitraan strategis tersebut akan mampu menghadapi tantangan keamanan bersama sekaligus memajukan kerja sama pertahanan jangka panjang.
Kementerian juga menegaskan keyakinannya bahwa pakta itu akan memberikan kontribusi besar bagi peningkatan perdamaian dan stabilitas kawasan serta memperkuat prinsip kerja sama, solidaritas, dan tanggung jawab bersama.
Serupa dengan Somalia, Bahrain menyebut perjanjian kemitraan strategis akan memperkuat daya tangkal serta berkontribusi terhadap keamanan dan stabilitas kawasan maupun dunia. Kementerian Luar Negeri Bahrain menyoroti kemampuan pertahanan, pengalaman militer yang luas, serta peran panjang ketiga negara dalam menjaga keamanan dan stabilitas kawasan.
Hal itu merupakan kemitraan strategis di antara negara-negara setara, dengan masing-masing memberikan kontribusi sesuai kapasitasnya untuk menjaga keamanan kawasan dan global. Kementerian juga menyatakan pakta tersebut melengkapi sistem pertahanan kolektif Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC), meningkatkan efektivitasnya, serta memperkuat keamanan kawasan melalui solidaritas, integrasi, dan kemitraan di antara negara-negara sahabat.
Bahrain juga kembali menegaskan bahwa keamanan Arab Saudi merupakan bagian tidak terpisahkan dari keamanan negaranya. Mereka menyatakan dukungan terhadap berbagai upaya menjaga stabilitas kawasan, melindungi kedaulatan dan keutuhan wilayah negara-negara, serta mendorong penyelesaian politik atas berbagai persoalan regional.
Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah ditandatangani pada Jumat dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) di Kota Makkah yang dihadiri Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif.
Koalisi tidak untuk melawan Iran
Para pemimpin Turki menegaskan pakta pertahanan trilateral baru itu tidak bertujuan menekan atau melawan Iran. Hal ini ditegaskan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, bahwa pakta tersebut tidak mengidentifikasi Iran, atau negara lain mana pun, sebagai ancaman bersama.
“Tidak ada ancaman bersama yang telah kami tuangkan secara tertulis,” kata Fidan seperti dikutip dari Anadolu, seraya menambahkan bahwa negara-negara yang tidak menyerang pihak-pihak yang menandatangani perjanjian tersebut tidak akan dianggap sebagai target.
Fidan menggambarkan pakta tersebut sebagai sesuatu yang “secara teknis” mirip dengan klausul pertahanan kolektif Pasal 5 NATO, di mana serangan terhadap satu anggota diperlakukan sebagai serangan terhadap semua anggota. Namun, respons yang diberikan akan bergantung pada situasi dan keadannya.
Menurut Fidan, negara yang diserang harus meminta bantuan dan menentukan jenis dukungan apa yang dibutuhkan. Dukungan tersebut dapat berupa intelijen dan logistik, amunisi, atau pengerahan unit militer. Aliansi juga akan membentuk komite politik dan militer, yang menyatukan menteri luar negeri dan menteri pertahanan serta kepala militer, dan sebuah sekretariat di Arab Saudi.
Fidan menyebut, ke depan ketiga negara tersebut akan bekerja sama dalam pelatihan bersama, berbagi informasi intelijen, logistik, penilaian ancaman, dan interoperabilitas militer. Kemudian kerja sama industri pertahanan juga diharapkan menjadi bagian penting dari pakta tersebut.
Fidan mengatakan, hal itu merupakan salah satu isu utama yang dibahas oleh ketiga pemimpin di Mekkah, termasuk bagaimana negara-negara tersebut dapat saling memanfaatkan teknologi militer masing-masing.
Lalu bagaimana respons Teheran? Terlepas dari jaminan yang diberikan Ankara, beberapa pejabat negeri Para Mullah justru mempertanyakan kesepakatan tersebut dan memperingatkan Arab Saudi agar tidak bergantung pada mitra barunya untuk masalah keamanan di kawasan.
Seperti disampaikan Mahmoud Nabavian, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, para pemimpin Saudi harus memahami bahwa kerja sama dengan Turki dan Pakistan tidak akan menjamin keamanan mereka. Anggota komisi lainnya, Ebrahim Rezaei, juga menolak pakta tersebut sebagai “kesepakatan di atas kertas”.
Sedangkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tidak secara langsung menyebutkan perjanjian tersebut dalam pesan di X di hari yang sama. Namun ia menyerukan negara-negara di kawasan saling mengandalkan dan mengejar apa yang ia sebut sebagai “persaudaraan sejati”. Pada saat yang sama, ia menekankan kekuatan dan kesiapan angkatan bersenjata Iran menghadapi situasi apapun.
Jadi apakah Aliansi ini sebagai solusi keamanan atau justru sebagai front baru? Yang pasti ada dua perang krusial yang akan memengaruhi masa depan kawasan. Dari dua perang tersebut, semuanya melibatkan Amerika dan Israel. Perang pertama penjajahan Palestina yang dilakukan Israel (didukung Amerika), lalu perang kedua ketika Israel dan Amerika menyerang sepihak terhadap Iran.
Di sisi lain, sepak terjang dua “setan”: Setan Besar (Amerika) dan Setan Kecil (Israel) ini sudah sejak lama berhasil mengacak-acak kawasan Timur Tengah. Di kawasan itu, hanya Palestina dan Iran yang bisa merepotkan keduanya. Lalu apakah Aliansi Pakta Pertahanan Mekkah ini nanti bisa membentengi kawasan dari dua setan tersebut? Atau justru menjadi front baru yang justru bakal mengganyang Iran?





Comments are closed.