Mubadalah.id – Lebaran kali ini dunia perfilman Indonesia sedang dihiasi oleh film terbaru garapan Ryan Andriandhy yang sebelumnya sukses menggarap film Jumbo. Na WIlla, merupakan film yang diadaptasi dari novel sastra anak yang ditulis oleh Reda Gaudiamo. Bu Reda sendiri merupakan seorang seniman, musisi, dan penulis Indonesia kelahiran 1963 yang dikenal sebagai bagian dari duo musikalisasi puisi AriReda. Ia juga aktif dalam industri penulisan/penerbitan, serta sering membawakan musikalisasi puisi.
Na Willa
Saat melihat teaser di media sosial, saya sangat antusias untuk menonton film yang ringan ini. Teaser-teaser yang berlalu lalang di linimasa sejenak membawa innerchild saya mengulang masa anak-anak. Tak sabar untuk segera menonton, setelah lebaran saya memutuskan untuk me time menikmati waktu sendiri menonton Na Willa di bioskop dekat mall kampus saya.
Na Willa, merupakan nama seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang tinggal di gang Krembangan, Surabaya. Latar waktu Na Willa sendiri terjadi pada tahun 2016-an. Saya rasa, hal yang sangat ikonik dalam film ini merupakan pemilihan latar tempat dan waktu yang mencoba membawa penonton untuk mengeksplor dan bernostalgia menjelajahi wisata “Surabaya Tempo Dulu.”
Tokoh Na Willa diperankan oleh Luisa Adreena dengan cara yang hangat dan alami, sehingga terasa dekat dengan pengalaman banyak orang. Melalui sudut pandang Na Willa yang polos dan penuh rasa ingin tahu, penonton diajak melihat dunia dengan cara yang sederhana sekaligus jujur.Na Willa hidup dalam keluarga multikultural. Ibunya berasal dari Nusa Tenggara Timur, sedangkan ayahnya memiliki latar belakang keturunan Tionghoa. Perbedaan latar belakang ini menjadi warna tersendiri dalam kehidupan keluarga mereka.
Cerita dalam film ini berfokus pada pengalaman-pengalaman kecil yang dialami Na Willa. Hal-hal seperti bermain, bertanya tentang sesuatu yang baru, berinteraksi dengan orang tua, hingga bergaul dengan lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam alur cerita. Kepolosan Na Willa menjadi kekuatan utama cerita. Ia melihat segala sesuatu dengan rasa ingin tahu yang besar.
Na Willa: Anak-Anak dan Keberagaman Kepercayaan
Unsur yang tak kalah keren dalam film tersebut ialah pengangkatan tiga isu utama seperti perbedaan, disabilitas, dan pernikahan dini. Film ini juga mengajak penonton untuk memahami arti keberagaman. Kehidupan keluarga Na Willa memperlihatkan bahwa perbedaan latar belakang dapat berjalan berdampingan dengan penuh kehangatan. Interaksi yang terjadi di dalam keluarga menunjukkan adanya saling pengertian dan penerimaan.
Selain itu, film ini membawa penonton melihat perubahan zaman dari sudut pandang seorang anak. Na Willa tumbuh di tengah lingkungan yang terus berkembang. Cara ia merespons perubahan tersebut terasa jujur dan apa adanya. Saya masih ingat scene yang menggelitik perut saat Willa meminta izin kepada Mak (Ibu Na Willa).
Sebagai seorang pemeluk agama Katolik, Na Willa merasa ingin tahu bagaimana teman-teman Muslimnya berkegiatan terutama ketika Farida tanpa sungkan mengajak Na Willa mengaji. Na Willa lantas meminta izin untuk mengikuti kegiatan mengaji di rumah seberang.
Respon Mak terhadap keinginan Na Willa patut diapresiasi. Alih-alih memarahi Willa, Mak memberikan pengertian bahwa kegiatan mengaji sama seperti Willa, Mak, dan Pak membaca Alkitab di Gereja. Lantas, Mak memahami bahwa Willa hanya ingin melihat saja. Di bawalah Na Willa ke rumah seberang (Farida) untuk dapat melihat temannya mengaji. Mak meminta izin kepada pemilik rumah dan meminta Na Willa untuk tidak membuat gaduh dan tidak berlari-lari.
Saya rasa, anak-anak memang fitrahnya sangat ingin tahu dengan perbedaan. Rasa ingin tahu itu lahir secara alami dan tanpa prasangka yang sering kali justru dibangun oleh orang dewasa. Melalui sikap Mak, film ini seperti ingin menyampaikan bahwa tugas orang tua bukanlah membatasi rasa ingin tahu tersebut, namun mengarahkannya dengan bijak. mak memberi ruang eksplorasi yang aman dan penuh pengertian, anak-anak dapat belajar bahwa perbedaan menjadi hal yang bisa dipahami dan dihargai.
Dul: Sikilku Iso Muni (Kakiku dapat Bersuara)
Salah satu Teman Willa, Dul sapaannya juga menjadi hal yang menarik untuk dibahas pada section ini. Sepupu Farida ini, dalam pertengahan cerita mengalami kecelakaan dengan tertabrak kereta yang mengharuskan ia menggunakan kaki palsu dalam kegiatannya. Tentu teman-temannya sedih melihat Dul harus menggunakan kaki palsu.
Namun, bukan Na Willa namanya jika tidak keren. Justru film ini menyediakan musikalisasi drama yang membuat penonton untuk aware dengan isu disabilitas. Na Willa dan teman-teman menyanyikan sebuah lagu yang ditujukan untuk Dul agar tetap bersemangat dalam masa pemulihannya.
Coba kau dengarkan betapa merdu
Na Willa dengarkan, aduhai syahdu
Menemani indah bunyi-bunyi di bumi
Sikilku iso muni
Senangnya berjumpa dengan temanku lagi
Seperti buku berkumpul di lemari
Buat apa susah bila kau tak sendiri
Senyummu buat aku bahagia
Coba kau dengarkan
Langkah kaki berbunyi
Sikil Dul iso muni
Adegan ini memperlihatkan bagaimana pengalaman disabilitas dapat kita pahami dengan cara yang lebih ramah dan membebaskan. Kaki palsu yang Dul gunakan hadir sebagai bagian dari perjalanan hidupnya yang baru. Bunyi yang muncul dari langkahnya memberi warna tersendiri, seolah menjadi irama khas yang menemani setiap geraknya. Kehadiran Willa dan teman-temannya mengajak Dul untuk tetap terlibat, tertawa, dan bernyanyi bersama
Martini: Isu Pernikahan Dini
Martini atau yang kita kenal dengan Mbak Tin merupakan kakak kandung Farida. Salah satu scene yang sedikit membuat nyesek ketika scene Mbak Tin akan menikah di umur yang masih muada.
Scene itu berawal dari Farida dan Willa ke kamar Mbak Tin untuk memakan kue cucur. Tentu Mbak Tin mempersilahkan anak-anak lucu tersebut untuk makan kue cucur. Dengan nada polosnya, Farida memberi tahu Na Willa bahwa besok Mbak Tin akan menikah.
Farida: “Mbak Tin mau kawin,”
Na Willa: “Wah, aku boleh lihat?”
Farida: “Ya, boleh. Besok kawinnya. Mbak Tin, Willa boleh lihat Mbak Tin jadi penganten, ya!”
Mbak Tin yang awalnya tenang, mulai bersedih dan mengeluarkan air mata. Ia merebah ke ranjang dan menenggelamkan wajahnya di bantal. Lantas, memukul-mukul bantal sambil terisak. Sedangkan farida tetap tenang sambil mengunyah kue cucur. Kepolosan Farida memberitahu Willa bahwa, “kalau jadi penganten, nagisnya begitu nangis!”
Adegan ini terasa menyentuh karena memperlihatkan perbedaan cara pandang antara anak-anak dan Mbak Tin. Farida melihat pernikahan sebagai hal yang biasa dan menyenangkan. Ia bahkan menyampaikannya dengan santai sambil makan kue cucur. Sementara itu, Mbak Tin menunjukkan perasaan yang jauh lebih dalam melalui tangisnya.
Lewat adegan ini, film menggambarkan pernikahan dini dari sisi yang lebih dekat dengan perasaan. Mbak Tin terlihat masih sangat muda dan belum siap menghadapi perubahan besar dalam hidupnya. Tangis dan gerak tubuhnya seperti menyimpan banyak hal yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata.
Di sisi lain, kepolosan Farida dan Na Willa menunjukkan bahwa anak-anak sering memahami pernikahan hanya sebagai acara bahagia. Mereka belum mengerti tanggung jawab dan perubahan besar yang akan terjadi setelahnya. Penonton bisa melihat adanya perbedaan antara apa yang terlihat di luar dan apa yang sebenarnya pemain rasakan.
Adegan ini mengajak penonton untuk lebih peka terhadap perasaan perempuan muda yang berada dalam situasi seperti Mbak Tin. Pernikahan membutuhkan kesiapan, baik secara mental maupun emosional, agar seseorang dapat menjalaninya dengan lebih tenang dan bahagia.
Membuat Dunia yang Inklusif untuk Anak-Anak
Film Na Willa mengajak kita untuk belajar melihat dunia dari sudut pandang anak-anak yang jujur dan sederhana. Dari film ini, Dul, dan Mbak Tin, kita bisa memahami bahwa isu seperti perbedaan, disabilitas, dan nikah muda memang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal-hal ini sering terjadi di sekitar kita, hanya saja cara memahaminya bisa berbeda.
Membuat dunia yang inklusif bisa dimulai dari hal kecil. Orang tua seperti Mak memberi contoh dengan cara yang sederhana, yaitu memberi kesempatan anak untuk bertanya dan mengenal perbedaan. Kisah Dul juga mengajarkan pentingnya dukungan dari lingkungan sekitar.
Sementara itu, cerita Mbak Tin mengingatkan bahwa setiap anak dan remaja butuh waktu untuk tumbuh. Mereka perlu didengar dan dipahami, terutama saat menghadapi keputusan besar dalam hidup. Dunia yang baik untuk anak-anak bisa kita mulai dari rumah dan lingkungan terdekat. Dari sikap saling menghargai, saling mendukung, dan mau memahami satu sama lain, kita bisa menciptakan kehidupan yang lebih hangat dan penuh empati. []




Comments are closed.