Tue,28 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Nasib Trenggiling Menghkhawatirkan di Sumut

Nasib Trenggiling Menghkhawatirkan di Sumut

nasib-trenggiling-menghkhawatirkan-di-sumut
Nasib Trenggiling Menghkhawatirkan di Sumut
service

Trenggiling (Manis javanica) terus jadi target sasaran perdagangan ilegal di Sumatera Utara (Sumut). Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Sumut mencatat, perdagangan ilegal trenggiling mencapai 28% kasus perdagangan ilegal satwa liar periode 2016-2026. Ia bahkan peringkat pertama kasus perdagangan gelap periode 2025-2026. Indra Kurnia, Direktur Perlindungan Spesies dan Habitat Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre (YOSL–OIC), dalam diskusi publik akhir Juni lalu, menyebut, Medan dan Tanjung Balai di Asahan jadi dua pintu utama pengumpulan dari seluruh Indonesia sebelum tersebar luas. Jalur penyelundupan lanjut ke Malaysia, kemudian Vietnam atau Kamboja, hingga mencapai Tiongkok sebagai pasar tujuan utama. “Jalur laut dari Tanjung Balai ini pun diketahui beririsan persis dengan jalur peredaran narkotika, memperlihatkan betapa rapi, terorganisir, dan berbahayanya jaringan kriminal ini,” katanya. Pola penyitaan pun  berubah drastis. Di Aceh, umumnya meliputi potongan tubuh, 48 kejadian. Di Sumut, tren 2025 menunjukkan dominasi satwa utuh, dan komposisi keduanya hampir seimbang pada 2026. Selama 2024-2026, katanya, aparat  menyita total 3.451,29 kilogram sisik trenggiling. Setiap satu kilogram sisik berasal dari 4-5  trenggiling, berarti setidaknya 13.805 hilang dari alam, dengan kerugian ekologis negara mencapai Rp648,53 miliar. “Mayoritas yang tertangkap adalah pengepul, sementara pemburu di lapangan umumnya didorong kondisi ekonomi yang sulit. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan ganda: penegakan hukum yang tegas bagi bandar besar, disertai pemberdayaan ekonomi warga sekitar hutan di Sumut.” Dede Tanjung, Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, menegaskan trenggiling bukan barang dagangan. Peraturan Pemerintah 7/1999, dan  Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 106/2018 melindungi hewan ini. Juga, secara internasional,…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.