Bincangperempuan.com- Pernahkah kamu merasa bahwa kebanyakan orang Indonesia itu “orang baik”? Kita sering membanggakan keramah-tamahan, keguyuban, dan ketaatan kita pada nilai-nilai agama. Data terbaru dari Pew Research Center dalam Global Attitudes Survey yang dirilis Maret 2026 mengonfirmasi hal ini. Indonesia menjadi salah satu negara dengan persepsi moral paling positif di dunia.
Sebanyak 92% orang Indonesia menilai moralitas dan etika sesama warga negaranya sebagai sesuatu yang “baik”. Angka ini menempatkan kita di puncak global, bersaing ketat dengan Kanada.
Namun, di balik angka yang memukau ini, kenapa rasa paling suci ini tidak berbanding lurus dengan kebersihan tangan kita dari praktik korupsi? Nyatanya, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2025 cuma mentok di skor 34 dari 100—anjlok 3 poin dibanding tahun lalu. Angka ini melempar posisi Indonesia ke peringkat 109 dari 182 negara.
Indonesia: Negara dengan Rasa “Paling Suci” Secara Kolektif
Dalam survei yang mencakup 25 negara tersebut, Indonesia menonjol sebagai negara yang warganya sangat percaya pada kebaikan sesamanya. Bandingkan dengan Amerika Serikat (AS), di mana hanya 47% warganya yang merasa sesama warga Amerika itu punya moral yang baik. Sisanya, mereka memandang sinis satu sama lain.
Namun, meskipun sesama warga AS saling menghakimi sesamanya sebagai “kurang bermoral,” pertanyaan lanjutan survei tersebut justru menunjukkan bahwa publik AS sebenarnya tidak menghakimi dalam pilihan hidup pribadi.
Sebaliknya, orang Indonesia yang merasa sesamanya “baik” justru memiliki standar moral yang sangat kaku dan sempit. Kita hanya akan menganggap seseorang bermoral baik asalkan mereka patuh pada standar sosial yang seragam.
Baca juga: Benarkah Kalau Miskin Dilarang Punya Anak?
Standar Moral yang Sangat Ketat dan Konservatif
Data Pew Research juga menunjukkan mengapa kita merasa memiliki moral tinggi. Di Indonesia, standar “baik” dan “buruk” bersifat sangat hitam-putih, terutama untuk urusan privasi. Indonesia secara konsisten menempati angka tertinggi dalam menganggap perilaku tertentu sebagai “tidak dapat diterima secara moral” (morally unacceptable):
- Homoseksualitas: 93% (Tertinggi setelah Nigeria).
- Aborsi: 93% (Tertinggi dari seluruh negara yang disurvei).
- Minum Alkohol: 83% (Sangat kontras dengan negara Barat yang rata-rata di bawah 20%).
- Perjudian: 89% menganggapnya salah secara moral.
- Perselingkuhan: 92% (sama dengan AS dan Turki)
Melihat angka-angka di atas, jelas bahwa definisi “moral” bagi orang Indonesia sangat berkaitan erat dengan perilaku individu di ruang privat. Kita punya obsesi aneh untuk menghakimi urusan selangkangan atau isi gelas orang lain. Jika kamu tidak minum alkohol, tidak berjudi, dan patuh pada norma seksual, maka selamat kamu otomatis dapet label “orang baik” yang mengisi angka 92% tersebut.
Tapi di sinilah paradoksnya, kita begitu sibuk menghakimi dosa-dosa privat yang tidak merugikan kas negara, sampai kita lupa kalau ada kejahatan yang jauh lebih destruktif. Kita lebih mudah memaafkan pejabat yang korupsi milyaran asalkan dia terlihat rajin ibadah dan “sayang keluarga”, daripada memaafkan orang yang berbeda pilihan hidup tapi jujur.
Kita saling menghakimi dengan standar yang mencekik, tapi di saat yang sama, kita justru saling memuji sebagai “bangsa yang bermoral tinggi”. Akibatnya kita terjebak dalam lingkaran setan, merasa paling suci secara kolektif, sedangkan integritas publik kita sedang hancur.
Baca juga: Dari Sukatani Band hingga Payung Hitam: Pola Lama Represi Seni di Indonesia
Hubungan Moralitas dengan Tuhan
Akar dari standar ketat ini adalah religiusitas yang sangat kuat. Pew Research mencatat bahwa hampir seluruh responden di Indonesia (99%) merasa bahwa seseorang harus percaya pada Tuhan untuk bisa memiliki moral yang baik. Indonesia, bersama Kenya (94%) dan India (85%), menjadi garda terdepan dalam keyakinan bahwa moralitas dan ketuhanan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Bagi warga Indonesia, menjadi bermoral berarti menjadi religius. Logika ini menciptakan sebuah filter sosial: selama seseorang terlihat beriman, beribadah, dan menjauhi “maksiat” yang kasat mata, maka dia dianggap bermoral. Tapi, filter inilah yang kemudian menciptakan lubang besar bagi perilaku korup yang yang sistematis.
Paradoks: Kenapa Korupsi Tetap Tinggi?

Bagaimana mungkin negara yang 92% warganya merasa sesamanya bermoral baik, justru terus berkubang dalam indeks persepsi korupsi yang buruk? Ada tiga alasan krusial yang bisa menjelaskan mispersepsi ini:
1. Moralitas Seksual vs Moralitas Sosial
Masyarakat kita jauh lebih cepat menghujat perempuan yang berpakaian terbuka atau pasangan yang pacaran di tempat umum daripada pejabat yang menerima gratifikasi. Di Indonesia, dosa selangkangan dianggap sebagai aib nasional, sementara “nyogok” agar anak masuk sekolah favorit atau pelicin untuk urus izin usaha malah dianggap sebagai “rezeki” atau “cara cerdik”. Kita keras pada moralitas privat, tapi lembek pada integritas publik.
2. In-group Bias dan Blind Spot
Karena 92% dari kita merasa sesama warga itu “orang baik,” kita akhirnya memiliki titik buta (blind spot). Kita cenderung berpikir, “Mana mungkin dia korupsi, dia kan rajin ibadah,” atau “Dia kan orang kita, pasti dia baik.” Rasa percaya yang terlalu tinggi pada sesama berdasarkan label religiusitas membuat kita kurang kritis terhadap sistem yang korup. Kita gagal melihat bahwa seseorang bisa saja saleh di masjid, tapi jahat saat mengelola anggaran negara.
3. Moralitas Simbolis
Pew Research membuktikan betapa pentingnya Tuhan bagi kita. Tetapi, dalam praktiknya, hal ini sering kali terjebak pada simbolisme. Yang penting terlihat religius lewat ucapan, pakaian, atau seremonial, maka otomatis seseorang akan dicap bermoral baik. Padahal, korupsi adalah kejahatan yang sering dilakukan secara rapi di balik penampilan yang paling sopan dan agamis sekalipun.
Oleh karena itu, jika kita terus membiarkan definisi moralitas hanya berhenti di urusan selangkangan dan simbolisme agama, maka angka 92% itu hanyalah angka kosong. Kita mungkin merasa paling bermoral dan suci di dunia, tapi kesucian itu tak ada gunanya jika indeks korupsi kita terus anjlok dan hak-hak rakyat dirampas oleh mereka yang terlihat baik.
Sudah saatnya kita menggeser kompas moral kita dari sekadar menghakimi pilihan hidup privat orang lain, menjadi lebih galak pada integritas publik. Menjadi bermoral seharusnya tidak lagi tentang seberapa rajin kita beribadah secara seremonial, tapi seberapa berani kita menolak suap dan menjaga tangan tetap bersih.
Jangan sampai kita menjadi bangsa yang ramah dan merasa paling dekat dengan Tuhan, tapi justru paling permisif terhadap pencuri uang rakyat. Karena kesucian tanpa integritas hanyalah kemunafikan yang dirayakan secara massal.
Referensi:
- Evans, J. (2026, March 5). In the U.S. and other countries, fewer people now say it’s necessary to believe in God to be moral. Pew Research Center.https://www.pewresearch.org/short-reads/2026/03/05/in-the-us-and-other-countries-fewer-people-now-say-its-necessary-to-believe-in-god-to-be-moral/
- Evans, J., LeSage, K., Corichi, M., Miner, W., Prozorovsky, A., Armeli, J., & Cooperman, A. (2026, March 5). In 25-country survey, Americans especially likely to view fellow citizens as morally bad. Pew Research Center.https://www.pewresearch.org/religion/2026/03/05/in-25-country-survey-americans-especially-likely-to-view-fellow-citizens-as-morally-bad/
- Transparency International. (2026). Corruption Perceptions Index 2025: Indonesia.https://www.transparency.org/en/countries/indonesia




Comments are closed.