Sat,30 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Pemulihan Pascabencana Aceh Masuk Tahap R3P, Akademisi Ingatkan Risiko Lemah Implementasi

Pemulihan Pascabencana Aceh Masuk Tahap R3P, Akademisi Ingatkan Risiko Lemah Implementasi

pemulihan-pascabencana-aceh-masuk-tahap-r3p,-akademisi-ingatkan-risiko-lemah-implementasi
Pemulihan Pascabencana Aceh Masuk Tahap R3P, Akademisi Ingatkan Risiko Lemah Implementasi
service

Aceh, NU Online

Penyusunan Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Aceh memasuki fase penting dalam penanganan pascabencana. Pemerintah Aceh kini bergerak dari tahap tanggap darurat menuju pemulihan yang lebih terstruktur dan terencana. Namun, tantangan utama bukan sekadar percepatan penyusunan dokumen, melainkan memastikan R3P benar-benar efektif dan tepat sasaran dalam implementasinya.

Akademisi lingkungan Aceh, Teuku Muhammad Zulfikar, menilai secara normatif R3P merupakan dokumen strategis yang menentukan arah rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana. Dokumen ini sekaligus menjadi dasar pengajuan dukungan anggaran dari pemerintah pusat serta kementerian dan lembaga terkait.

“Dalam konteks tersebut, inisiatif Pemerintah Aceh untuk mempercepat penyusunan R3P patut diapresiasi,” ujar Teuku kepada NU Online, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, langkah ini menunjukkan kesadaran bahwa pemulihan pascabencana tidak dapat dikelola secara ad hoc, melainkan membutuhkan perencanaan yang matang, terukur, dan berbasis data.

Namun demikian, Teuku mengingatkan adanya persoalan klasik yang kerap berulang, yakni validitas dan konsistensi data kerusakan serta kerugian. Proses verifikasi yang berlarut-larut, terutama pada kategori kerusakan rumah dan fasilitas sosial, berpotensi menghambat penetapan prioritas pemulihan.

“Tanpa data yang solid, R3P berisiko menjadi sekadar dokumen administratif yang rapi di atas kertas, tetapi lemah dalam implementasi,” tegasnya.

Ia mengapresiasi langkah koordinasi lintas kabupaten/kota serta peninjauan lapangan yang dilakukan pemerintah provinsi untuk menutup celah tersebut. Menurutnya, pendekatan ini penting agar rencana pemulihan tidak tercerabut dari realitas di lapangan.

Meski begitu, koordinasi tidak boleh berhenti pada forum rapat atau kunjungan seremonial semata. Diperlukan mekanisme kerja yang tegas, terpadu, dan berbasis satu data agar seluruh pemangku kepentingan bergerak dalam arah yang sama.

Di sisi lain, keterlibatan pemerintah pusat dan lintas kementerian/lembaga dinilai membuka peluang percepatan pemulihan, khususnya melalui program padat karya, pembersihan wilayah terdampak, serta rehabilitasi infrastruktur dasar. Namun, sinergi ini perlu dikelola dengan baik agar tidak memicu tumpang tindih kewenangan atau tarik-menarik kepentingan sektoral yang justru memperlambat proses pemulihan.

Teuku juga menyoroti aspek partisipasi masyarakat yang kerap luput dari perhatian. Menurutnya, R3P idealnya tidak hanya mencatat kerusakan fisik, tetapi juga memetakan kerentanan sosial dan kebutuhan riil warga terdampak bencana.

Tanpa pelibatan masyarakat secara bermakna, kebijakan rehabilitasi berisiko tidak menjawab persoalan mendasar, seperti pemulihan mata pencaharian, penguatan ketahanan ekonomi lokal, serta pemulihan kepercayaan publik terhadap pemerintah.

“Keberhasilan R3P Aceh tidak diukur dari seberapa cepat dokumen ini disahkan, melainkan dari seberapa besar dampaknya dirasakan oleh masyarakat penyintas,” ujarnya.

Ia menegaskan, R3P harus menjadi peta jalan pemulihan yang hidup, fleksibel terhadap dinamika lapangan, akurat dalam data, dan berani menetapkan prioritas.

“Jika tidak, Aceh hanya akan kembali mengulang pola lama: rencana yang ambisius, tetapi hasilnya jauh dari harapan,” pungkas Teuku.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.