Sat,25 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Penjualan kurang moncer, mobil listrik butuh promosi besar dan pasar lebih luas

Penjualan kurang moncer, mobil listrik butuh promosi besar dan pasar lebih luas

penjualan-kurang-moncer,-mobil-listrik-butuh-promosi-besar-dan-pasar-lebih-luas
Penjualan kurang moncer, mobil listrik butuh promosi besar dan pasar lebih luas
service

● Masih banyak yang enggan membeli mobil listrik karena kurangnya promosi.

● Padahal brand-brand Cina menawarkan produk dengan harga ramah kantong dengan fitur selangit.

● Penetrasi pasar mobil listrik perlu digiatkan lagi karena bisa berdampak banyak pada industri otomotif dan pengolahan nasional.


Penjualan mobil listrik di Indonesia melonjak 171,35% pada paruh pertama 2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kendati begitu, secara agregrat angka tersebut masih buncit, alias baru 5% dari total pangsa pasar mobil nasional. Bandingkan dengan Norwegia yang penjualan mobil listriknya mencapai 90% dari total mobil baru yang terjual—berkat edukasi masyarakat yang efektif.

Di Indonesia pabrikan asal Cina merajai penjualan mobil listrik. Mereka menawarkan fitur canggih namun dengan harga yang sangat ramah kantong untuk harga mobil. Infografis: Andi Ibnu/The Conversation Indonesia | Sumber: Gaikindo

Memang, sejak dipasarkan secara masif pada 2022, tren penjualan mobil listrik di Indonesia bertumbuh pesat sekali—sekitar tiga digit. Tapi secara nasional, angka pertumbuhannya masih tergolong kecil dan baru terjadi di kota-kota besar saja.


Read more: Bias kota dalam solusi mobil listrik mengatasi polusi udara Jakarta


Kampanye dan promosi perlu ditingkatkan dan dikembangkan

Tidak mudah mengubah persepsi masyarakat terhadap mobil listrik. Apalagi kendaraan konvensional sudah hadir lebih dari seabad silam.

Meski dalam perkembangannya menunjukkan tren positif, faktor harga unit mobil listrik tetap krusial. Survei menunjukkan pertumbuhan penjualan mobil listrik di Indonesia masih sangat bergantung pada subsidi dan promo.

Mobil listrik perlu diberi gula-gula pemanis seperti tersedianya fasilitas pengisian daya di banyak titik

Fasilitas pengisian daya mobil listrik jadi salah satu pain point lambatnya penetrasi mobil listrik khususnya di daerah. Per tahun 2024 tercatat baru 3.356 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh Indonesia. Bandingkan dengan Cina yang tersebar di 1 juta titik. Selain itu masing-masing produsen memiliki spesifikasi socket listrik yang berbeda-beda. Tidak seperti mesin berbahan bakar bensin yang tangki bensinnya bersifat universal. Mawaddah F/ Shutterstock.com

Para brand mobil dan pemerintah perlu menggeser narasi dari sekadar ramah lingkungan atau hijau menjadi praktis, hemat, dan relevan. Kampanye digital yang menekankan biaya operasional mobil listrik yang lebih murah dibanding bensin perlu diperbanyak dan dikemas semenarik mungkin.

Mobil listrik perlu ditekankan sebagai bagian dari gaya hidup yang mencerminkan status modern. Fitur-fitur canggih seperti aplikasi mobile, smart navigation yang ada perlu dipamerkan untuk menggambarkan bahwa mobil listrik adalah penunjang gaya hidup.


Read more: Riset: Kendaraan listrik hanya bisa benar-benar turunkan emisi jika bauran energi terbarukan tumbuh di atas 65% per tahun


Beragam fitur canggih mobil listrik sudah tersedia dari varian termurah di Indonesia, mulai dari Rp184 juta. Adapun mobil konvensional baru termurah dipatok Rp138 juta dengan minim fitur canggih. Dan yang tidak kalah penting, mobil listrik juga menawarkan citra yang keren.

Dasar tersebut bisa dikembangkan menjadi tren gaya hidup berkelanjutan. Kampanye pemasaran dapat menghubungkan mobil listrik dengan narasi hidup sehat, bersih, dan berkelanjutan. Misalnya, promosi dengan gerakan green living atau acara olahraga urban agar membentuk persepsi bagian dari gaya hidup aktif dan sehat.

Hibrida tetap diperlukan jadi jembatan transisi

Jagat otomotif belum lama ini dihebohkan dengan pernyataan bos Toyota pusat Akio Toyoda yang menuding mobil listrik tidak efektif mengurangi polusi. Dia mengklaim, polusi dari sembilan juta unit mobil listrik setara dengan yang dihasilkan 27 juta unit mobil hibrida Toyota.


Read more: Mengurai sisi gelap mobil listrik: dari tambang nikel, batu bara, hingga limbah kendaraan


Perlahan tapi pasti penjualan mobil hibrida memang meningkat. Per kuartal II 2025 penjualan mobil hibrida (plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) menembus angka 1.117 unit-setelah sekian lama berada di angka ratusan penjualan.

Artinya, konsumen Indonesia masih membutuhkan transisi kebutuhan kendaraan ramah lingkungan yang terjangkau, tetapi tetap fleksibel dengan bensin.

Mobil hibrida bisa dijadikan instrumen transisi mobil listrik

Salah satu penggagas mobil listrik pertama dunia Nissan kini juga berfokus pada teknologi hibrida bernama e-Power yang mengkonversi daya listrik dari pembakaran bensin. Melvin hilman/ Shutterstock.com

Di Indonesia, Toyota yang sangat gembar-gembor memproduksi mobil hibrida merupakan brand dengan penjualan nomor wahid. Teknologi hibrida pun sudah tersedia di model yang sudah melekat di masyarakat seperti Innova, Corolla, Camry, hingga Yaris.

Masalahnya, harga mobil hibrida khususnya dari Jepang cenderung lebih mahal dari mobil listrik Cina. Harga mobil hibrida termurah di Indonesia seperti Suzuki XL7, misalnya, hampir menyentuh Rp300 juta.

Meski begitu, hibrida tetap menawarkan solusi lingkungan yang juga menawarkan fitur kendaraan yang canggih. Pun kepentingan pemerintah untuk menghidupi industri dalam negeri tetap terpenuhi. Sebab bahan baku baterai mobil hibrida juga berbahan baku nikel baik yang jenis lithium-ion maupun NiMH.

Hanya akan jadi pasar dan pemasok bahan baku semata?

Negara telah menggelontorkan trilunan rupiah untuk menghidupi industri mobil ramah lingkungan. Pada 2025 ini, ada alokasi insentif Rp6,16 triliun—terdiri dari diskon pajak penjualan (PPN) sebesar 10%, diskon pajak penjualan barang mewah (PPnBM) 15%, serta keringanannya untuk kendaraan hibrida sebesar 3%.

Pada saat bersamaan, para brand mobil listrik khususnya yang dari Cina berbondong-bondong membangun fasilitas produksi di Tanah Air. Wuling sudah sejak 2017 mendirikan pabrik di Cikarang yang juga dijadikan markas ekspor ke pasar Asia Tenggara.

Adapun brand BYD yang kini menguasai pasar Indonesia sedang ngebut membangun pabrik dengan taksiran investasi US$1 miliar (Rp16 triliun).

Hyundai Ioniq merupakan varian pertama mobil listrik yang dirakit di Indonesia dengan harga jual mendekati semiliaran. Namun untuk harga bekasnya bisa didapatkan mulai dari Rp400 jutaan saja karena durabilitas baterai jadi tolak ukur utama dalam menaksir harga bekas sebuah mobil listrik.

Begitu juga dengan Neta yang induknya di Cina sedang mengalami kesulitan keuangan telah memiliki fasilitas produksi di Bekasi berkapasitas 27.000 unit/tahun.

Pembangunan fasilitas produksi oleh brand mobil listrik maupun hibrida tidak lain karena adanya semangat dari pemerintah untuk menghidupi industri dalam negeri. Pemerintah juga telah mengutarakan berencana menyunat insentif mobil impor atau yang biasa disebut CBU (completely build-up).

Pertanyaan mendasarnya: apakah kita siap menjadi produsen yang berdaya saing, atau sekadar konsumen dari tren industri global ini?

Jawabannya bergantung pada seberapa cepat industri dan pemerintah bisa berkolaborasi membangun ekosistem yang berpihak pada konsumen dan industri nasional.


Read more: Mengapa tren kendaraan listrik adalah momentum transformasi industri otomotif Indonesia


Sayangnya meskipun 40% bahan baku pembuatan baterai berasal dari Indonesia, sejauh ini pemerintah masih berfokus mendatangkan investasi fasilitas pembuatan mobil listrik dan hibrida semata.

Setidaknya hilirisasi nikel sudah menghasilkan pabrik baterai dalam negeri milik Hyundai. Seyogianya harga baterai bisa lebih murah karena hingga saat ini komponen baterai bisa senilai sekurangnya 40% dari harga unit mobil.

Namun, untuk bisa memiliki brand mobil nasional tersendiri, niatan tersebut masih jauh panggang dari api. Paling tidak berkembangnya industri otomotif mulai dari model konvensional, hibrida, dan listrik di Tanah Air sudah memberikan banyak pilihan kepada konsumen.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.