Thu,30 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Lamine Yamal, Piala Dunia, dan Islamofobia

Lamine Yamal, Piala Dunia, dan Islamofobia

service

Di balik gegap gempita Piala Dunia, perdebatan mengenai ekspresi keagamaan seorang pesepak bola Muslim menunjukkan bahwa Islamofobia masih menjadi tantangan serius bagi sportivitas, toleransi, dan perdamaian dunia.

Bintang muda Spanyol Lamine Yamal kembali menjadi sorotan publik dunia. Namun, kali ini perhatian tidak hanya tertuju pada penampilannya di lapangan, melainkan juga pada sujud syukur yang dilakukannya selepas pertandingan. Bagi banyak orang, tindakan tersebut merupakan ekspresi spiritual yang lazim dilakukan seorang Muslim sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Akan tetapi, di media sosial, respons yang muncul justru terbelah. 

Di tengah apresiasi atas prestasinya, bermunculan pula komentar bernada sinis, bahkan mengandung sentimen Islamofobia. Sebuah ekspresi keagamaan yang bersifat personal berubah menjadi perdebatan tentang identitas, agama, dan batas kebebasan berekspresi.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Piala Dunia tidak pernah sekadar menghadirkan pertandingan sepak bola. Ajang yang mempertemukan berbagai bangsa, budaya, bahasa, dan agama itu juga menjadi cermin kondisi masyarakat global. Di lapangan hijau, para pemain dipersatukan oleh sportivitas dan semangat kompetisi yang sehat. 

Namun, di ruang digital, identitas keagamaan masih kerap menjadi sasaran prasangka dan polarisasi. Ketika ekspresi syukur seorang atlet lebih banyak dipersoalkan daripada prestasinya, yang sedang diuji sesungguhnya bukan hanya toleransi terhadap satu agama, melainkan komitmen dunia dalam menghormati keberagaman sebagai fondasi perdamaian.

Islamofobia

Fenomena tersebut bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Islamofobia masih menjadi persoalan serius di berbagai belahan dunia. Laporan European Union Agency for Fundamental Rights (FRA) tahun 2024 menunjukkan bahwa 47 persen Muslim di 13 negara Uni Eropa pernah mengalami diskriminasi dalam lima tahun terakhir, meningkat dibandingkan survei sebelumnya. 

Sementara itu, Tell MAMA UK pada 2025 mencatat 6.313 kasus kebencian terhadap Muslim sepanjang 2024, jumlah tertinggi sejak lembaga tersebut berdiri. Di Amerika Serikat, American Muslim Poll 2025 juga menunjukkan meningkatnya sentimen negatif terhadap komunitas Muslim.

Data tersebut menunjukkan bahwa prasangka terhadap Islam bukan sekadar persepsi, melainkan realitas yang masih mengemuka. Ruang digital memperburuk keadaan. Algoritma media sosial lebih mudah mengangkat konten yang memancing emosi dibandingkan yang membangun pemahaman. Akibatnya, sebuah potongan video beberapa detik dapat memicu ribuan komentar yang sarat kebencian tanpa memberi ruang bagi konteks yang utuh.

Dalam perspektif sosiologi, Émile Durkheim melalui The Elementary Forms of Religious Life (1912) menjelaskan bahwa simbol dan ritual keagamaan merupakan bagian dari identitas sosial yang memberi makna bagi kehidupan manusia. Karena itu, ekspresi religius tidak mungkin dipisahkan sepenuhnya dari ruang publik. 

Sejalan dengan itu, Jürgen Habermas dalam The Postnational Constellation (1998) menegaskan bahwa masyarakat demokratis dituntut mampu hidup berdampingan dengan berbagai keyakinan selama tidak mengganggu hak orang lain. Menghormati ekspresi religius seorang atlet merupakan bagian dari penghormatan terhadap kebebasan beragama.

Indonesia sesungguhnya memiliki modal sosial yang kuat melalui Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, derasnya arus informasi membuat polarisasi global dengan mudah memasuki ruang digital nasional. Tanpa literasi yang memadai, masyarakat rentan mengimpor prasangka tanpa memahami konteksnya.

Perdamaian

Dalam The Revolt of the Public (2014), Martin Gurri mengingatkan bahwa era media sosial telah mengubah cara opini publik terbentuk. Informasi yang paling cepat menyebar bukan selalu yang paling benar, melainkan yang paling mampu membangkitkan emosi. Karena itu, prasangka terhadap identitas agama mudah berkembang menjadi kebencian kolektif.

Padahal, olahraga sejak lama dipandang sebagai instrumen diplomasi. Joseph S. Nye melalui Soft Power: The Means to Success in World Politics (2004) menjelaskan bahwa olahraga merupakan kekuatan lunak yang mampu membangun kepercayaan dan mempererat hubungan antarbangsa. Semangat FIFA, For the Game. For the World., menegaskan bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang yang menyatukan manusia, bukan memperlebar jurang identitas.

Dari perspektif Islam, sujud syukur bukanlah simbol kemenangan atas orang lain, melainkan ungkapan kerendahan hati kepada Tuhan. Karena itu, mempersoalkan sujud syukur semata-mata karena identitas agama pelakunya menunjukkan bagaimana prasangka masih mengalahkan pemahaman.

Merawat perdamaian global tidak cukup hanya dengan mengecam Islamofobia. Yang lebih penting adalah memperkuat pendidikan toleransi, meningkatkan literasi digital, serta mendorong media dan platform digital lebih bertanggung jawab dalam menekan penyebaran ujaran kebencian. Organisasi olahraga internasional juga perlu memastikan bahwa arena pertandingan tetap menjadi ruang yang aman bagi setiap atlet untuk mengekspresikan identitas budaya dan keyakinannya tanpa rasa takut didiskriminasi.

Pada akhirnya, kemenangan terbesar dalam Piala Dunia bukanlah ketika sebuah negara mengangkat trofi, melainkan ketika olahraga mampu mempertemukan manusia tanpa mempersoalkan warna kulit, kebangsaan, maupun agama. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, sepak bola mengajarkan bahwa kita boleh berbeda keyakinan, tetapi tetap berbagi harapan yang sama. 

Ketika ekspresi keagamaan dipandang sebagai ancaman, sesungguhnya yang sedang diuji bukanlah satu agama, melainkan kemampuan peradaban modern untuk menghormati kebebasan, merawat toleransi, dan menjaga perdamaian global. Itulah makna terdalam Piala Dunia. Bukan sekadar kompetisi, tetapi jembatan kemanusiaan bagi dunia yang semakin membutuhkan saling pengertian.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.