Tue,26 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Pergeseran fungsi pecalang: Dari penjaga ritual ke pengawas pariwisata

Pergeseran fungsi pecalang: Dari penjaga ritual ke pengawas pariwisata

pergeseran-fungsi-pecalang:-dari-penjaga-ritual-ke-pengawas-pariwisata
Pergeseran fungsi pecalang: Dari penjaga ritual ke pengawas pariwisata
service

● Pecalang adalah satuan pengamanan tradisional khas Bali yang memiliki sejarah panjang sejak zaman kerajaan.

● Kini perannya meluas, bukan hanya menjaga ketertiban adat, tapi juga mengurusi kriminalitas, narkoba, dan konflik sosial.

● Pecalang membutuhkan pelatihan, dukungan kelembagaan, dan pendanaan pemerintah agar bisa maksimal menjalankan perannya.


Reformasi 1998 membawa banyak perubahan dalam tatanan sosial masyarakat Indonesia. Di Bali, salah satunya adalah meningkatnya perhatian pada pengamanan adat yang dikenal dengan nama pecalang.

Asal-muasal pecalang sebenarnya tidak begitu jelas dalam sejarah Bali. Ada yang meyakini pecalang sudah menjadi bagian dari kebudayaan Bali sejak masa kerajaan dengan sebutan beragam, seperti sikep, dolop atau sambangan. Mereka adalah barisan pengamanan, semacam telik sandi (mata-mata) yang bertugas untuk menjaga keamanan lingkungan kerajaan dari ancaman musuh.

Seiring waktu, pecalang juga berkembang dan tumbuh di tiap desa adat dengan ciri khasnya masing-masing. Setiap desa adat punya ciri khas dan sebutan yang berbeda.

Versi lain menyebutkan, pada 1965 barisan pecalang mengingatkan sebagian survivor seperti barisan tameng, milisi sipil berpakaian hitam yang terlibat dalam peristiwa pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh PKI (Partai Komunis Indonesia).

Namun, ada juga yang berpendapat bahwa pecalang dibentuk untuk menjaga parkir dan mengatur lalu lintas saat Pesta Kesenian Bali (PKB) yang mulai berlangsung pada tahun 1970-an.

Terlepas dari asal-usulnya, momentum yang membawa pecalang dikenal publik luas adalah Kongres PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) Ke-V di kawasan Sanur, Bali pada 8-10 Oktober 1998.

Pecalang kerap membantu aparat kepolisian mengatur ketertiban

vnvnvn. I Wayan Adisaputra/shutterstock

Saya (Ngurah) menyaksikan sendiri bagaimana suasana kala itu begitu meriah menyambut kongres. Ajakan menjadi pecalang untuk mengamankan kongres berseliweran sampai ke desa dan banjar—satuan komunitas terkecil di Bali.

Selain satgas partai, PDIP memanfaatkan barisan pecalang untuk mengatur para simpatisannya yang datang berbondong-bondong ke Bali. Sejak saat itu, pecalang semakin dikenal sebagai simbol budaya Tanah Dewata.

Dari segi bahasa, pecalang berasal dari kata ‘calang’ atau ‘celang’ yang berarti “waspada.” Namun dalam praktiknya, sejarah menunjukkan bahwa peran pecalang begitu lentur, sehingga sering dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk beragam kepentingan.

Multifungsi pecalang

Cairnya peran pecalang membuat mereka rentan dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan kekuasaan. Tidak terkecuali untuk sebagai barisan pengawas kepentingan pariwisata. Citra dan simbol tradisi menjadikan pecalang sebagai pintu masuk legitimasi dan melibatkan kearifan lokal dalam berbagai kepentingan.

Setelah sukses mengawal kongres PDIP pada 1998, pecalang semakin dipercaya sebagai “jaminan keamanan Bali”. Banyak desa lantas membuat posko, memberi peralatan lengkap, bahkan menyediakan mobil patroli untuk mereka bertugas.


Asal-usul, tradisi, cara hidup, cara menjaga alam, hingga merawat sesama. Semuanya berakar dari pengetahuan lokal. Ada yang sebatas mitos dan tinggal cerita, ada juga yang masih hidup dan relevan, bahkan menjawab masalah terkini.

Simak ‘Semburat Warna Adat’, menggali pengetahuan lokal berdasar riset dan pandangan para pakar.


Tugas pecalang juga makin beragam. Mereka melakukan patroli keamanan desa, ikut dalam razia pendatang, melakukan sweeping pasca-Bom Bali 2002 dan 2005, hingga menjaga konser-konser musik.

Pasca Bom Bali 2002 dan 2005, pecalang menjadi bagian penting dalam fragmen razia, penggerebekan, atau “penertiban” penduduk pendatang. Aksi sweeping ini dinilai penting untuk memulihkan keamanan dan kedamaian Bali pascatragedi bom.

Peraturan daerah Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali pada pasal 47 semakin menguatkan posisi pecalang. Dalam Perda tersebut, mereka resmi bertugas menjaga keamanan, ketenteraman, dan ketertiban dalam wewidangan atau wilayah desa adat. Pecalang juga diminta berkoordinasi dengan aparat keamanan negara, serta mendapatkan pelatihan dari lembaga berkompeten.

Menurut Lontar Purwadigama Sasana, panduan moral dan etika Bali, syarat menjadi pecalang antara lain:

  • Nawang kangin kauh: memahami arah mata angin dan medan tugas.

  • Wanen lan wirang: berani dan tegas.

  • Celang can cale: peka, cerdas, dan gesit.

  • Rumaksa guru: berperilaku dan bertindak layaknya seorang guru.

  • Sathya bakti ikang widhi: tulus dan ikhlas serta setia berbakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

  • Krama desa adat: wajib terdaftar dan memiliki status hukum sebagai anggota sah di desa adat, serta memiliki kestabilan jiwa.

Lebih dari sekadar penjaga adat

Dalam perkembangannya, pecalang kini menghadapi sejumlah masalah yang lebih kompleks.

Riset saya (Made) menunjukkan, pecalang bukan hanya menjaga ketertiban upacara adat, tetapi juga sudah jauh terlibat dalam mengatasi berbagai masalah sosial, termasuk kriminalitas, narkoba, dan konflik sosial.

Sayangnya, kontribusinya terhadap sistem pertahanan nasional belum sepenuhnya diakui. Padahal, pecalang bisa berperan penting dalam mendeteksi dan merespons ancaman nonmiliter di masyarakat, sekaligus menjembatani hubungan antara masyarakat adat dan aparat formal agar keamanan lokal lebih inklusif dan berbasiskan kondisi setempat.

Untuk mendukung fungsi tersebut, penelitian saya merekomendasikan perlunya peningkatan kapasitas pecalang melalui pelatihan keamanan, pemahaman hukum, dan keterampilan menghadapi ancaman modern.

Dan hal ini hanya bisa terjadi dengan dukungan kelembagaan, pendanaan, serta integrasi formal ke sistem pertahanan nasional tanpa menghilangkan identitas adat yang menjadi dasar keberadaan mereka.

Perkuat negara, dari desa

Tanggal 17 Mei 2025 lalu, para pecalang yang tergabung dalam Pesikian Pecalang Bali (perkumpulan pecalang Bali)—yang mewakili 1.500 desa adat dengan total 13 ribu anggota—menggelar deklarasi bertajuk Gelar Agung Pecalang di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala, Denpasar.

Ribuan pecalang tersebut menyampaikan tiga poin pernyataan sikap.

Pertama, menolak kehadiran organisasi kemasyarakatan (ormas) yang berkedok menjaga keamanan, ketertiban, dan sosial dengan tindakan premanisme, kekerasan, dan intimidasi. Aksi premanisme yang berbaju ormas tersebut menimbulkan keresahan dan ketegangan di tengah masyarakat Bali.

Kedua, mendukung aparat penegak hukum, seperti TNI dan Polri dalam penyelenggaraan keamanan dan ketertiban di Bali, serta menindak ormas yang melakukan tindakan premanisme dan kriminalitas.

Ketiga, mendukung sistem pengamanan terpadu berbasis desa adat (Sipanduberadat) dan bantuan keamanan desa adat (Bankamda) dalam menjaga dan mengamankan wilayah Bali.

Deklarasi tersebut menegaskan bahwa pecalang bukan sekadar penjaga upacara adat. Mereka bisa juga menjadi aktor penting dalam menjaga keamanan Bali dari berbagai ancaman nonmiliter di tingkat lokal. Namun di sisi lain, pelibatan pecalang dan institusi desa adat yang menaunginya menjadikan mereka rentan terhadap berbagai kepentingan yang ada.


Read more: Sakti perempuan Bali: Kekuatan penopang pariwisata yang terabaikan



0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.