Arina.id – Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, pesawat yang biasa digunakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan telah diterbangkan ke luar wilayah Israel. Hal ini memicu spekulasi terkait langkah pengamanan pemerintah Israel.
Berdasarkan data pelacakan Flight Radar, pesawat khusus Netanyahu yang dikenal dengan nama Wings of Zion lepas landas dari wilayah selatan Israel dan meninggalkan wilayah udara negara tersebut. Tidak ada keterangan resmi mengenai tujuan penerbangan pesawat itu.
Laporan yang beredar menyebutkan Netanyahu tidak berada di dalam pesawat saat penerbangan tersebut dilakukan. Hingga kini, otoritas Israel belum memberikan penjelasan resmi terkait alasan pemindahan pesawat maupun rute yang ditempuh.
Langkah tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional, menyusul laporan internasional yang menyebutkan kemungkinan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran di tengah gelombang protes yang masih berlangsung di negara itu.
Sejumlah analis menilai, jika Washington benar-benar melakukan serangan, Iran berpotensi melakukan aksi balasan yang tidak hanya menargetkan kepentingan AS, tetapi juga Israel. Situasi ini dinilai meningkatkan risiko keamanan di kawasan.
Pemindahan pesawat Netanyahu ke luar negeri bukan kali pertama dilakukan. Pada konflik antara Israel dan Iran pada Juni 2025, pesawat yang sama juga diterbangkan ke Yunani sebagai langkah pengamanan.
Menlu Iran peringatkan Amerika
Menteri Luar Negeri Iran memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar tidak mengulangi kesalahan konfrontasi militer sebelumnya, seraya menegaskan Teheran tetap siap menempuh diplomasi.
“Pesan saya, jangan ulangi kesalahan yang Anda buat pada Juni,” kata Abbas Araghchi, seperti dikutip dari Fox News, Rabu 15 Januari 2026, merujuk serangan AS ke tiga fasilitas nuklir Iran dalam perang Iran-Israel selama 12 hari.
“Fasilitas bisa dihancurkan, tetapi teknologi tidak bisa dibom. Tekad juga tidak bisa dibom,” ujarnya menanggapi ketegangan terbaru dan sikap Washington terhadap Teheran.
Araghchi mengatakan Iran tidak memiliki pengalaman positif dengan Amerika Serikat, namun jalur perundingan tetap lebih disukai. “Iran telah membuktikan siap bernegosiasi, siap berdiplomasi,” katanya.
Ia menuding Washington berulang kali meninggalkan diplomasi selama dua dekade terakhir. “Antara perang dan diplomasi, diplomasi lebih baik, meski pengalaman kami dengan AS tidak positif,” katanya.
Terkait kerusuhan terbaru di Iran, Araghchi mengklaim pemerintah menerapkan penahanan diri maksimal, namun menegaskan bahwa aksi protes itu telah dibajak oleh pelaku kekerasan.
Ditanya soal jumlah pengunjuk rasa yang tewas, ia menyebut pelaku kekerasan bukan demonstran sejati, melainkan “sel teror” yang didorong oleh “rencana Israel”.
“Kini situasi tenang. Kami sepenuhnya mengendalikan keadaan,” katanya, sambil menegaskan kalau eskalasi ketegangan akan “berdampak bencana bagi semua pihak”.





Comments are closed.