Tue,11 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Pink dari simbol macho menjadi nuansa Valentine: Bagaimana persepsi kita terus berubah

Pink dari simbol macho menjadi nuansa Valentine: Bagaimana persepsi kita terus berubah

pink-dari-simbol-macho-menjadi-nuansa-valentine:-bagaimana-persepsi-kita-terus-berubah
Pink dari simbol macho menjadi nuansa Valentine: Bagaimana persepsi kita terus berubah
service

● Pink merupakan simbol romantis artifisial hasil sejarah dan kekuatan sosial.

● Makna warna dan kebiasaan bergeser, mengikuti kepentingan budaya, politik, ekonomi tertentu.

● Apa yang terasa normal sering hanya warisan lama yang belum dipertanyakan.


Menjelang hari valentine, warna pink bertebaran, seakan untuk melambangkan cinta dan kasih sayang. Toko, media sosial, hingga iklan seolah kompak sepakat pink adalah bahasa universal romantisme.

Namun, justru di momen inilah kita jarang berhenti untuk bertanya: sejak kapan dan bagaimana warna ini mendapat makna tersebut. Siapa yang sebenarnya membentuknya?

Hari ini, begitu mendengar warna pink, pikiran kita hampir otomatis terhubung dengan sesuatu yang feminin: kelembutan, boneka, atau Barbie.

Namun, persepsi ini sebenarnya hasil perubahan sosial. Pink dulu justru dianggap warna yang maskulin. Bagaimana ceritanya?

Perubahan persepsi pink

Di Eropa, sejak abad ke-18 (1701-1800), masyarakat setempat memandang merah sebagai warna gagah.

Sebagai warna turunan merah, pink dianggap lebih lembut tapi tetap membawa aura kekuatan, sehingga anak laki-laki sering dipakaikan baju pink. Adapun biru kerap dilekatkan pada anak perempuan karena diasosiasikan dengan kesucian Bunda Maria.

Cerita fesyen pun serupa. Sepatu hak tinggi, yang kini identik dengan perempuan, awalnya dipakai laki-laki Persia abad ke-10 untuk berkuda.

Dari sana, tren menyebar ke Eropa dan menjadi simbol maskulinitas bangsawan. Raja Louis XIV bahkan memopulerkan hak tinggi merah sebagai lambang kuasa.

Baru kemudian, di abad ke-18, penggunaannya bergeser ke perempuan hingga akhirnya diidentikkan dengan femininitas.

Perubahan simbol ini makin mengeras di abad ke-20. Artikel tahun 1918 di Earnshaw’s Infants’ Department masih menyebut pink cocok untuk anak laki-laki karena lebih “kuat.”

Lukisan Mamie Eisenhower oleh Thomas Edgar Stevens, 1950-an. (Avery Architectural and Fine Arts Library)

Namun, hanya beberapa dekade kemudian, industri mode bayi membalikkan logika itu. Titik kulminasi terjadi pada 1953 ketika Mamie Eisenhower, istri Presiden AS Dwight D. Eisenhower, mengenakan gaun pink di inaugurasi dan menghiasi Gedung Putih dengan nuansa sama.

Publik kemudian menjuluki Mamie sebagai “First Lady Pink.” Sejak saat itu, pink seolah ‘resmi’ menjadi warna perempuan.

Kristalisasi halusinasi persepsi yang lebih luas

Kisah ini mengajarkan bahwa makna warna atau busana tidak pernah alami: semuanya dibentuk sejarah.


Read more: Arti serbuk warna-warni dalam festival Holi


Hal serupa juga terjadi pada bahasa. Di Indonesia, kata “coklat” awalnya menunjuk minuman kakao (chocolade dalam bahasa Belanda), justru meluas menjadi nama warna.

Begitu juga istilah “air putih,” padahal air sejatinya bening. Bahasa membentuk cara pandang kita, sampai terasa wajar meski sebenarnya tidak tepat.

Jejak sejarah juga menanamkan persepsi yang keliru atau menyesatkan ketika konteksnya berubah.

Kolonialisme dulu dibungkus sebagai “misi peradaban,” padahal kini kita memahaminya sebagai penindasan. Rokok pernah dipromosikan sebagai simbol status dan bahkan kesehatan—bahkan iklan pada tahun 1940-an menampilkan dokter yang “merekomendasikan” merek tertentu. Kini ia terbongkar sebagai manipulasi industri.

Plastik dan minyak sawit dulu dipuja sebagai tanda modernitas dan efisiensi, sementara hari ini keduanya identik dengan krisis lingkungan. Jam kerja 9–5 pernah dianggap formula sempurna di era industri, tetapi di era digital, banyak pekerjaan justru lebih produktif dengan fleksibilitas.

Bahkan sistem ujian hafalan di sekolah, warisan lama yang lahir untuk menyiapkan pekerja patuh di birokrasi, kini sering dipertanyakan relevansinya di dunia yang menuntut kreativitas.

Semua itu adalah sisa sejarah yang bertahan hanya karena kita terbiasa.

Lingkungan membentuk kita

Fenomena-fenomena itu menunjukkan bagaimana sejarah membentuk persepsi, meski konteks sudah berubah.

Teori-teori sosial memberi kita kacamata untuk membaca hal ini. Realitas sehari-hari lahir dari interaksi sosial yang terus diulang, dilembagakan, lalu diwariskan lintas generasi (Berger & Luckmann, 1966). Ide dominan dapat dipaksakan hingga terasa wajar, meski sesungguhnya sarat kepentingan politik dan ekonomi.

Dengan kata lain, apa yang kita sebut realitas sering kali hanyalah hasil proses dan negosiasi panjang antara sejarah, kekuasaan, dan kebiasaan.

Ini pun termasuk soal persepsi kita terhadap warna pink.

Jika pink bisa bergeser makna, jika hak tinggi bisa berubah pemilik, jika bahkan kebiasaan-kebiasaan yang sekarang kita jalani hanyalah produk sejarah singkat, maka kita dipaksa bertanya: berapa banyak hal yang kita anggap “normal” hari ini sebenarnya hanya sementara?

Normalitas mungkin bukan hukum alam, melainkan mitos rapuh yang kita ciptakan sendiri. Dan mitos itu akan selalu bergeser—seiring sejarah, seiring budaya, seiring kita yang terus berubah.


Read more: Buah semangka dan maknanya bagi advokasi pembebasan Palestina di media sosial



0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.