Pacitan, NU Online
Wakil Presiden Republik Indonesia melakukan kunjungan ke Perguruan Islam Pondok Tremas, Pacitan, Jawa Timur, Kamis (30/4/2026) lalu, untuk meninjau langsung implementasi pembelajaran berbasis artificial intelligence (AI) dalam proses belajar mengajar. Kunjungan ini menjadi penegasan bahwa pesantren tidak hanya menjaga tradisi keilmuan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Kunjungan tersebut didahului pelatihan intensif AI Teaching Power selama dua hari pada 27–28 April 2026. Pelatihan ini menjadi langkah awal dalam membekali para guru dengan pemahaman dan keterampilan praktis memanfaatkan AI sebagai alat bantu pembelajaran.
Salah satu guru, Dimas Hamam Agil Syiroth, pengajar Sejarah Kebudayaan Islam di Perguruan Islam Pondok Tremas, mengaku awalnya merasa jauh dari perkembangan teknologi dan pesimistis terhadap penggunaan AI. Namun, setelah mengikuti pelatihan, pandangannya berubah.
“Awalnya saya melihat AI sebagai ancaman, tetapi ternyata ini peluang. AI bukan pengganti guru, melainkan alat bantu yang mempermudah kami menyiapkan materi dan membantu santri memahami pelajaran dengan lebih baik,” ujarnya.
Menurut Dimas, penerapan AI di kelas membawa perubahan signifikan pada suasana belajar. Santri menjadi lebih antusias, diskusi lebih hidup, dan pembelajaran mendorong pendekatan yang lebih reflektif serta kreatif. Ia menilai kehadiran Wakil Presiden memberi pesan kuat bahwa pesantren tidak harus tertinggal dalam perkembangan zaman.
“Ini seperti pesan bahwa pesantren juga bisa berjalan seiring dengan kemajuan,” tambahnya.
Hal serupa disampaikan Ridho Wahdhirroman, pengajar fiqih di Madrasah Salafiyah Pondok Tremas. Ia menekankan bahwa AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran guru.
“Pesantren memiliki peran penting menjaga nilai, tradisi, dan keilmuan para ulama. Dengan AI, kita bisa tetap menjaga itu sekaligus menjawab tantangan zaman,” jelasnya.
Meski demikian, Ridho mengingatkan adanya potensi dampak negatif dari penggunaan AI. Karena itu, ia berharap guru dan santri dapat memanfaatkan teknologi ini secara bijak agar pembelajaran Islami tetap terjaga dan bahkan dapat menjangkau lebih luas secara global.
Dari sisi santri, perubahan juga dirasakan Armie AlHauro, pelajar Madrasah Salafiyah. Ia mengaku sempat khawatir AI akan membuat manusia bergantung. Namun setelah mengikuti pembelajaran, pandangannya berubah.
“Ternyata jika digunakan dengan bijak, kita tidak akan bergantung sepenuhnya. Justru AI bisa membantu kita belajar lebih baik,” ungkapnya.
Dalam kunjungan tersebut, Wakil Presiden menegaskan bahwa AI hadir bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan meningkatkan produktivitas pembelajaran. AI dapat dimanfaatkan untuk membuat simulasi soal ujian, menyusun kuis, hingga menghadirkan media pembelajaran interaktif.
Ia juga mencontohkan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan mulai diterapkan di berbagai daerah, termasuk di wilayah Papua. Ke depan, pemanfaatan teknologi ini diharapkan terus berkembang guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Kunjungan ini menjadi simbol bahwa transformasi pendidikan berbasis teknologi dapat berjalan selaras dengan nilai dan tradisi pesantren. Perguruan Islam Pondok Tremas menjadi contoh bahwa inovasi dan kearifan lokal dapat berjalan berdampingan dalam menyiapkan generasi masa depan.




Comments are closed.