Jakarta, Arina.id – Argentina menjadi kandidat terkuat untuk menjuarai Piala Dunia 2026 berdasarkan simulasi berbasis machine learning yang dilakukan peneliti dan analis data Indonesia, Hasanuddin Ali. Dalam simulasi tersebut, juara bertahan dunia itu memiliki peluang juara sebesar 19,6 persen, mengungguli Spanyol dan Prancis.
Hasil tersebut dipublikasikan Hasanuddin Ali dalam tulisannya berjudul Prediksi Piala Dunia 2026 Berbasis Machine Learning: Siapa Kandidat Juara Terkuat? yang dirilis pada 9 Juni 2026. Analisis dilakukan menggunakan model Gradient Boosting Classifier, salah satu algoritma ensemble learning yang terbukti efektif untuk klasifikasi data tabular dengan pola non-linear. Model dilatih (train) menggunakan 375 pertandingan Piala Dunia resmi sejak 1994 hingga 2022, dengan 19 fitur prediktor yang mencakup dimensi kekuatan tim secara historis maupun performa terkini.
Setelah model dilatih, simulasi turnamen dilakukan sebanyak 10.000 kali menggunakan metode Monte Carlo. Dalam setiap simulasi, seluruh pertandingan dari fase grup hingga final disimulasikan secara acak berdasarkan probabilitas yang dihasilkan model. Komposisi grup yang digunakan adalah hasil draw resmi FIFA tanggal 5 Desember 2025, termasuk enam tim yang baru lolos melalui playoff UEFA dan antarkonfederasi pada Maret 2026.
Menurut Hasanuddin Ali, kekuatan sebuah tim bukan satu-satunya faktor yang menentukan peluang juara pada format baru Piala Dunia yang diikuti 48 negara.
“Dominasi Argentina bukan semata-mata karena kualitas skuad, meskipun rating ELO mereka memang tinggi di angka 2.183, melainkan karena kombinasi antara kekuatan tim dan jalur bracket yang sangat menguntungkan,” tulis Hasanuddin Ali.
Dalam simulasi tersebut, Argentina menempati posisi pertama dengan probabilitas juara 19,6 persen. Posisi berikutnya ditempati Spanyol dengan peluang 12,1 persen dan Prancis 11,3 persen. Sementara Swiss muncul sebagai kejutan terbesar dengan peluang juara mencapai 9,9 persen.
Hasanuddin menjelaskan, keunggulan Argentina tidak hanya berasal dari kualitas skuad, tetapi juga jalur kompetisi yang relatif lebih ringan dibanding para rivalnya.
“Dominasi Argentina bukan semata-mata karena kualitas skuad, melainkan karena kombinasi antara kekuatan tim dan jalur bracket yang sangat menguntungkan,” tulisnya.
Swiss Jadi Ancaman yang Diremehkan
Salah satu temuan paling menarik dari simulasi tersebut adalah munculnya Swiss sebagai kandidat juara keempat. Tim yang selama ini tidak masuk dalam daftar favorit publik justru memperoleh probabilitas juara yang cukup tinggi.
Menurut Hasanuddin, performa konsisten Swiss dalam 10 pertandingan terakhir serta komposisi grup yang relatif ringan menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan peluang mereka.
“Kombinasi grup yang mudah dan performa yang solid menciptakan jalur bracket yang nyaris ideal bagi Swiss,” tulisnya.
Format Baru Ubah Peta Persaingan
Hasanuddin menilai format baru Piala Dunia 2026 akan membuat posisi dalam bagan pertandingan atau bracket menjadi faktor yang sangat menentukan.
Dengan format 48 tim, variasi jalur menuju final menjadi jauh lebih besar dibanding era 32 tim. Akibatnya, tim dengan kualitas setara bisa memiliki peluang juara berbeda hanya karena perbedaan lawan yang dihadapi pada fase gugur.
“Jalur bracket lebih menentukan dari sekadar kualitas skuad,” tulis Hasanuddin dalam kesimpulan analisanya.
Model Bukan Ramalan Mutlak
Meski demikian, Hasanuddin mengingatkan bahwa hasil simulasi bukanlah ramalan pasti. Model yang digunakan tidak memperhitungkan faktor-faktor seperti cedera pemain, akumulasi kartu, kondisi fisik, maupun aspek psikologis yang sering menjadi penentu dalam turnamen besar.
“Model ini tidak meramalkan masa depan, ia hanya memetakan probabilitas berdasarkan data masa lalu,” tulis Hasanuddin.

Peringkat Kandidat Juara Piala Dunia 2026 Versi Machine Learning
- Argentina (19,6%)
- Spanyol (12,1%)
- Prancis (11,3%)
- Swiss (9,9%)
- Brasil (5,0%)
- Negara lain (Di bawah 5%)
Piala Dunia 2026 akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen ini menjadi edisi pertama yang diikuti 48 negara peserta dan akan mencapai puncaknya pada 19 Juli 2026 di MetLife Stadium.





Comments are closed.