Sun,19 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Pura-pura Disabilitas untuk Mengemis: Fenomena yang Mengkhawatirkan

Pura-pura Disabilitas untuk Mengemis: Fenomena yang Mengkhawatirkan

pura-pura-disabilitas-untuk-mengemis:-fenomena-yang-mengkhawatirkan
Pura-pura Disabilitas untuk Mengemis: Fenomena yang Mengkhawatirkan
service

Mubadalah.id – Fenomena pengemis non-disabilitas yang menipu dengan kondisi disabilitas semakin merajalela. Hal tersebut tentu saja perbuatan yang buruk dan sangat merendahkan teman disabilitas. Pengemis merupakan masalah sosial yang cukup meresahkan di kalangan masyarakat.

Sebagaimana pengalaman saya saat sedang berjalan-jalan. Saat jalanan sepi, tiba-tiba datang seorang pemuda yang sehat dan bugar sekali badannya. Ia menggerakkan tangannya ke arah mulut, seakan-akan isyarat ingin makan.

Berulang kali ia melakukan hal yang sama tanpa suara. Pemuda tersebut ingin memperlihatkan bahwa ia seorang yang disabilitas wicara yang ingin meminta makan. Akan tetapi, saya melihat gelagatnya sangat mencurigakan. Oleh karena itu, saat datang kepada saya, dengan kata maaf tidak bisa memberikan sesuatu.

Dan betul saja, saat saya tidak bisa memberikan sesuatu, terlontarlah kalimat kasar kepada saya dengan suara yang jelas dan lantang. Yang mana awalnya Ia hanya memakai isyarat dan memperlihatkan seolah-olah disabilitas wicara, tiba-tiba Ia bisa berbicara ketika tidak mendapatkan sesuatu.

Sempat viral juga seorang Ibu yang berjalan dengan mengesot sembari meminta belas kasihan. Yang awalnya terlihat seolah-olah mengalami disabilitas daksa, tiba-tiba berdiri dan berjalan normal.

Aksi tersebut pun menuai beragam reaksi dan memicu perbincangan mengenai maraknya praktik mengemis yang dilakukan dengan cara menipu pura-pura disabilitas. Selain dari kedua fenomena tersebut, masih banyak lagi kasus yang kita temui di berbagai tempat dan daerah.

Ketika Kepalsuan Menggerus Kepercayaan

Ketika seorang pengemis berpura-pura menjadi disabilitas, yang dipertaruhkan bukan hanya kejujuran. Ada makna yang lebih menyakitkan yaitu seolah-olah difabel adalah “alat” untuk mengundang belas kasihan. Seolah-olah menjadi difabel identik dengan ketidakberdayaan total, dengan hidup yang hanya bisa bergantung pada pemberian orang lain.

Hal tersebut sesuai dengan pengalaman salah satu teman disabiltas saya, Ia mengatakan bahwasanya, “Miris. Karena tindakan tersebut sangat merugikan disabilitas. Selain karena tindakan tersebut merupakan scam untuk keuntungan pribadi, juga membuat stigma masyarakat semakin tinggi dalam memandang penyandang disabilitas sebagai orang yang lemah dan tidak berdaya”.

Padahal, di kehidupan nyata, gambaran itu sudah lama coba terpatahkan. Antaranya yaitu difabel yang bekerja menjalankan usaha, mengajar, mendesain, bahkan memimpin komunitas. Mereka bangun pagi, berangkat kerja, menghadapi target dan tekanan seperti orang lain. Mereka tidak menunggu dikasihani, sebaliknya mereka menuntut ruang yang adil untuk berpartisipasi.

Di titik inilah ironi terasa begitu tajam. Satu sisi, ada perjuangan panjang untuk mengubah cara pandang masyarakat bahwa difabel bukanlah ketidakmampuan total. Adapun di sisi lain, praktik pengemis berpura-pura disabilitas justru menarik masyarakat mundur, menghidupkan lagi gambaran lama bahwasanya difabel adalah identik dengan meminta-minta.

Disabilitas di Dunia Kerja

Namun di sinilah ironi terbesar itu muncul. Bukan karena penyandang disabilitas tidak mampu bekerja. Justru mereka mampu, tapi tidak selalu mendapatkan akses yang adil untuk bekerja.

Lamaran kerja yang tak pernah terbalas begitu mengetahui kondisi disabilitas. Wawancara yang berakhir halus dengan alasan “belum sesuai kebutuhan”.

Selain itu, lingkungan kerja yang tidak ramah seperti tanpa akses fisik, tanpa alat bantu, ataupun tanpa sistem yang inklusif. Belum lagi stigma yang masih kuat, difabel dianggap tidak produktif, merepotkan, dan berisiko.

Akhirnya, banyak difabel terjebak bukan oleh keterbatasan fisiknya, tetapi oleh keterbatasan sistem. Sistem yang belum sepenuhnya siap menerima mereka sebagai bagian setara dari dunia kerja.

Di tengah kondisi seperti itu, praktik pengemis berpura-pura disabilitas menjadi semakin problematis. Ia bukan hanya merendahkan, tapi juga mengaburkan kenyataan. Seolah-olah masalah utama difabel adalah kemiskinan personal, bukan ketidakadilan struktural.

Padahal, jika akses kerja terbuka secara adil, jika perusahaan benar-benar inklusif, jika kebijakan tidak hanya berhenti di atas kertas, maka akan banyak difabel tidak berada dalam posisi rentan. Mereka bisa sebagai pekerja, sebagai profesional, sebagai individu yang mandiri.

Menuju Keadilan dan Inklusi yang Nyata

Salah satu teman disabiltas saya, Ia mengatakan bahwasanya, “Fenomena pengemis ini harus ditertibkan dan ditindak sesuai kebijakan yang berlaku, atas mereka yg memanfaatkan kondisi disabilitas tersebut secara tegas. Kemudian perlu adanya sosialisasi yang lebih masif kepada masyarakat terkait isu-isu disabilitas terutama bagi organisasi disabilitas bekerja sama dengan pemerintah terkait. Agar masyarakat lebih aware dan hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi”.

Pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan pengawasan dan edukasi agar tidak mudah tertipu. Selain itu, penting untuk selalu berhati-hati dan melakukan verifikasi.

Di satu sisi, kita melihat difabel sebagai individu yang mampu. Di sisi lain, sistem masih memperlakukan mereka seolah-olah tidak mampu.

Sudah saatnya kita menggeser cara pandang. Bahwa persoalannya bukan pada “apakah teman disabilitas bisa bekerja?”, karena jawabannya sudah jelas bisa.

Persoalannya adalah apakah kita, sebagai masyarakat dan sebagai sistem, sudah benar-benar membuka pintu untuk teman disabilitas?

Dan di titik itu, praktik pura-pura disabilitas terasa semakin tidak hanya salah, tapi juga tidak adil. Karena di saat sebagian orang memakai identitas disabilitas untuk mendapatkan uang dengan mudah, ada mereka yang benar-benar hidup dengan disabilitas justru harus berjuang ekstra keras untuk mendapatkan kesempatan yang sama.

Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk mengatasi fenomena ini dengan meningkatkan pengawasan dan edukasi.

Masyarakat perlu mendapatkan edukasi maupun sosialisasi. Adapun pemerintah bisa memperkuat regulasi dan melakukan razia di tempat-tempat umum yang sering terjadi aksi pura-pura disabilitas ini. Dengan begitu, aksi penipuan semacam ini bisa teratasi, masyarakat tetap merasa aman, khususnya untuk teman disabilitas semakin bermartabat. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.