Sat,11 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Ramadhan dan Al-Qur’an: Ketika Langit dan Bumi Saling Berpegang Erat

Ramadhan dan Al-Qur’an: Ketika Langit dan Bumi Saling Berpegang Erat

ramadhan-dan-al-qur’an:-ketika-langit-dan-bumi-saling-berpegang-erat
Ramadhan dan Al-Qur’an: Ketika Langit dan Bumi Saling Berpegang Erat
service

Ramadhan bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ia adalah perayaan turunnya petunjuk untuk manusia. Ikatan antara bulan suci ini dengan Al-Qur’an sangatlah erat, sehingga para ulama menamainya Syahrul Qur’an atau bulannya Al-Qur’an. Alasan utamanya sangat fundamental: Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada bulan ini, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah/2:185.

Polemik Turunnya Al-Qur’an

Peristiwa bersejarah ini, yang dikenal sebagai Nuzulul Quran, terjadi dalam dua tahap penting. Az-Zarkasyī dalam Al-Burhān fī ‘Ulūm Al-Qur’ān dan as-Suyuṭī dalam Al-Itqān fī ‘Ulūm Al-Qur’ān membagi proses turunnya Al-Qur’an menjadi dua fase. Fase pertama, Al-Qur’an diturunkan secara kontan (jumlatan wāḥidah) dari Lauh Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar. Fase kedua, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad saw. selama 23 tahun (tadrījī).

Pendapat tentang adanya fase pertama ini dikuatkan oleh riwayat-riwayat sahih dari sahabat Nabi, terutama Ibnu Abbas ra. Dalam sebuah hadis mauqūf yang diriwayatkan oleh Ibn aḍ-Ḍurais dalam Faḍā’il Al-Qur’ān, an-Nasā’ī dalam as-Sunan al-Kubrā, dan al-Ḥākim an-Naisābūrī dalam al-Mustadrak, dari Sa’id bin Jubair, Ibnu Abbas berkata tentang QS. Al-Qadr/97:1, “Bahwasanya Al-Qur’an diturunkan secara kontan pada malam Lailatul Qadar ke langit dunia.” Hadis ini disahihkan oleh al-Ḥākim dan disetujui oleh aż-Żahabī.

Dalam sumber yang sama, Ibn aḍ-Ḍurais, an-Nasā’ī, dan al-Ḥākim juga meriwayatkan hadis mauqūf lain. Hadis yang bersumber dari Ikrimah tersebut menyebutkan hal serupa, Ibnu Abbas mengatakan bahwa Al-Qur’an diletakkan di langit dunia, kemudian Allah menurunkan sebagiannya kepada Rasulullah sesuai dengan kejadian di bumi.

Dalam Al-Muḥarrar fī ‘Ulūm Al-Qur’ān, Musā’id aṭ-Ṭayyār, seorang ulama kontemporer, menjelaskan bahwa kedua fase ini tidaklah bertentangan. Lailatul Qadar adalah malam dimulainya perjalanan wahyu dengan penurunan Al-Qur’an secara kontan ke langit dunia sebagai bentuk pemuliaan dan pengumuman kepada makhluk langit tentang akan datangnya kitab suci terakhir. Sementara fase kedua, yang dimulai di Gua Hira, adalah realisasi petunjuk itu secara bertahap di bumi. Tidak ada pertentangan antara keduanya; keduanya adalah dua sisi dari satu peristiwa agung.

Sebagian ulama menolak adanya fase penurunan Al-Qur’an sekaligus ke langit dunia. Pendapat ini sering dinisbatkan kepada asy-Sya’bī dan Muḥammad bin Isḥāq, sebagaimana tercatat dalam kitab tafsir klasik seperti karya aṭ-Ṭabarī dan al-Alūsī. Namun, penisbatan tersebut tidak disertai bukti tekstual yang kuat. Ibn al-Jauzī dan al-Alūsī sendiri tidak mencantumkan satu pun perkataan langsung atau dalil yang mendukung klaim itu. Klaim tanpa bukti seperti ini dinilai lemah dan tidak dapat dijadikan landasan untuk menolak riwayat-riwayat lain yang lebih kukuh. Menariknya, ulama besar seperti as-Sakhāwī justru memasukkan asy-Sya’bī ke dalam kelompok ulama yang menerima konsep penurunan Al-Qur’an secara kontan, karena menilai riwayat-riwayat darinya tidak bertentangan dengan gagasan tersebut. Dengan demikian, klaim bahwa asy-Sya’bī menolak fase ini menjadi tidak pasti dan patut diragukan.

Sebaliknya, pendapat yang menetapkan adanya penurunan sekaligus ke langit dunia memiliki landasan yang sangat kuat, yaitu riwayat-riwayat sahih dari Ibnu Abbas ra. Riwayat-riwayat tersebut tidak hanya sahih, tetapi juga saling menguatkan.

Kesimpulannya, Al-Qur’an benar-benar diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar. Informasi ini termasuk perkara gaib yang mustahil diketahui melalui akal semata. Musā’id aṭ-Ṭayyār menjelaskan bahwa karena itu, perkataan Ibnu Abbas tidak mungkin berasal dari ijtihad pribadi, melainkan dari wahyu yang beliau terima dari Nabi Muhammad saw. Dalam ilmu hadis, meskipun secara redaksi terhenti pada Ibnu Abbas (mauqūf), perkataan semacam ini berstatus marfū’—setara dengan sabda Nabi—sehingga wajib diterima dan diimani.

Refleksi Nuzulul Qur’an 

Di balik perbedaan pendapat, para ulama mengajak untuk merenungkan hikmah agung dari penurunan Al-Qur’an secara kontan. As-Sakhāwi dalam Jamāl al-Qurrā’ menjelaskan bahwa peristiwa ini merupakan bentuk pengagungan terhadap syiar Al-Qur’an. Allah seolah-olah mengumumkan kepada seluruh penghuni langit, termasuk para malaikat, bahwa kitab suci terakhir akan segera turun kepada umat terbaik. Penurunan Al-Qur’an ke Baitul Izzah menjadi tanda istimewa yang membedakan Al-Qur’an dari kitab-kitab sebelumnya, sekaligus bukti nyata akan kedudukan mulia umat Islam di sisi Allah Swt.

Ramadhan, dengan segala keistimewaannya, adalah momentum terbaik untuk mempererat hubungan kita dengan Al-Qur’an. Rasulullah saw. sendiri memberi teladan dengan melakukan tadarus setiap malam bersama Jibril (HR. al-Bukhārī). Membaca, menghafal, dan mentadaburi Al-Qur’an di bulan ini memiliki keutamaan yang berlipat ganda, sekaligus menjadi penerang di dunia dan syafaat di akhirat. Memperingati Nuzulul Quran bukanlah sekadar seremoni, melainkan ajakan untuk merenungkan kembali sejauh mana Al-Qur’an telah menjadi al-Furqān (pembeda) dalam hidup kita. Di tengah perjalanan Ramadan, malam Nuzulul Qur’an menjadi penyemangat untuk kembali pulang kepada Al-Qur’an, sebelum kita memasuki sepuluh malam terakhir yang penuh dengan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Dengan memahami proses turunnya Al-Qur’an yang agung ini, kita semakin menyadari bahwa Ramadhan benar-benar bulan yang istimewa. Ia bukan sekadar bulan puasa, melainkan bulan di mana langit dan bumi seakan berjabat tangan, bulan di mana wahyu memulai perjalanannya menuju hati manusia. Nuzulul Qur’an mengajarkan kita bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan penuh perhitungan dan hikmah. Penurunan sekaligus ke langit dunia menjadi simbol kemuliaan, sementara penurunan bertahap selama 23 tahun menjadi bukti kasih sayang Allah yang menyesuaikan wahyu dengan realitas yang dihadapi Rasulullah dan para sahabat. Ini memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa dalam memahami dan mengamalkan Al-Qur’an, kita pun perlu melakukannya secara bertahap, konsisten, dan sesuai dengan kemampuan. 

Di bulan Ramadhan, sudah sepatutnya kita meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an. Tadarus bukan hanya tradisi, tetapi kebutuhan spiritual. Membaca Al-Qur’an dan tafsirnya bukan sekadar wacana, tetapi upaya untuk memahami pesan Tuhan. Mentadaburi ayat-ayat-Nya bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi jalan untuk menenangkan jiwa yang gelisah. Para ulama salaf, seperti asy-Syafi’i yang mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali selama Ramadhan (Abu Nu’aim al-Aṣfihānī dalam Hilyah al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’), telah memberikan teladan tentang bagaimana memaksimalkan momentum ini. Mereka memahami betul bahwa Ramadan adalah madrasah Al-Qur’an, sekolah tempat kita belajar kembali tentang petunjuk hidup yang hakiki.

Al-Qur’an for All

Semangat Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an tidak hanya berhenti pada pemahaman teologis tentang proses turunnya wahyu, tetapi juga harus tercermin dalam cara kita memperlakukan sesama. Dalam rangka ini, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama menghadirkan sebuah program inovatif yang mewujudkan nilai-nilai Al-Qur’an secara nyata dan berdampak. LPMQ menggelar Tadarus Al-Qur’an Inklusi (TAQI) pada Ramadan 1447 H. Program ini dirancang khusus untuk memastikan bahwa saudara-saudara kita penyandang disabilitas netra, tuli, dan bisu juga dapat merasakan keberkahan bulan suci ini. Karena Al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh manusia (hudan lin-nās), sehingga akses untuk membaca dan memahaminya harus tersedia bagi semua pihak. LPMQ berkomitmen bahwa tidak ada satu pun hamba Allah yang tertinggal dalam meraih cahaya petunjuk-Nya.

Untuk mewujudkan semangat inklusivitas ini, LPMQ telah menyiapkan dua mushaf khusus yang menjadi andalan dalam program TAQI. Pertama, LPMQ menghadirkan Al-Qur’an Braille bagi penyandang disabilitas netra. Melalui Al-Qur’an Braille ini, LPMQ membuka jalan bagi jemari para tunanetra untuk menjadi “mata” yang mengeja setiap huruf firman Allah. Kedua, LPMQ meluncurkan Al-Qur’an Isyarat sebagai terobosan mutakhir bagi disabilitas tuli dan bisu. Inovasi ini memungkinkan firman Allah terpancar melalui gerakan tangan yang sistematis dan terstandar. Kedua mushaf ini telah melalui proses pentashihan yang ketat oleh para pentashih LPMQ, sehingga keakuratannya terjamin. Dalam kegiatan TAQI yang diselenggarakan secara online setiap Senin hingga Kamis, LPMQ memfasilitasi para peserta dari kalangan tuli untuk mempelajari makna ayat-ayat suci melalui bahasa isyarat yang telah disusun dengan metode kitabah dan tilawah.

LPMQ memandang kehadiran kedua mushaf inklusif ini sebagai bentuk nyata dari pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an di era modern. Jika dahulu Al-Qur’an turun untuk meruntuhkan sekat-sekat kelas sosial di masyarakat Arab, maka hari ini LPMQ hadir untuk meruntuhkan sekat-sekat keterbatasan fisik. LPMQ meyakini bahwa keadilan Al-Qur’an berarti setiap hamba memiliki hak yang sama untuk mendekat kepada Sang Pencipta. Inilah esensi dari firman Allah bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan LPMQ berperan sebagai salah satu institusi yang mewujudkan rahmat tersebut dalam bentuk layanan yang accessible bagi semua lapisan masyarakat.

Melalui program Tadarus Al-Qur’an Inklusi ini, LPMQ mengajak seluruh masyarakat untuk tidak lagi memiliki alasan tidak mampu membaca Al-Qur’an. LPMQ telah membuka akses seluas-luasnya—baik melalui sentuhan jemari bagi tunanetra maupun gerakan isyarat penuh makna bagi tunarungu. LPMQ berharap Ramadan tahun ini benar-benar menjadi musim semi bagi semua hati. Di bulan yang mulia ini, LPMQ mengundang seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendukung ekosistem Al-Qur’an yang inklusif. Sebab, pada hakikatnya, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dan rahmat bagi semesta alam—tanpa kecuali.

Marilah kita jadikan Nuzululquran sebagai titik tolak untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dan solusi dalam setiap aspek kehidupan. Bukan hanya sebagai bacaan yang indah didengar, tetapi juga sebagai pedoman yang membimbing langkah. Semoga di Ramadan ini, kita termasuk hamba-hamba yang mendapatkan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Semoga setelah Ramadhan berlalu, Al-Qur’an tetap hidup dalam diri kita, menjadi penerang di dunia dan pemberi syafaat di akhirat kelak. Wallahu a’lam biṣ-ṣawab.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Abdul Aziz Sidqi
Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Kementerian Agama

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.