Sariko, Warga Watangrejo, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah, berkeras mempertahankan sawahnya yang masuk dalam rencana pengolahan gamping dan bahan lain pabrik semen PT Anugrah Andalan Asia (AAA) dan PT Sewu Surya Sejati (SSS). Selain karena tidak pernah minta izin, dia yakin tambang itu akan membawa bencana tak berkesudahan. Dia baru tahu proyek mencaplok tanahnya Mei lalu, saat warga membedah dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) kedua perusahaan tersebut. Padahal, sejak Januari, muncul pipa putih dengan tutup abu-abu yang terpancang di dekat sawahnya. Ukurannya, hingga 28 meter ke dalam permukaan tanah. Amdal menyebut, ada lima titik pipa terpasang untuk mengecek kekuatan kontur tanah. Kelimanya membentuk diagonal di hamparan sawah di wilayah itu. Sebanyak 123 hektar lahan akan jadi tapak pabrik semen. “Sawah saya pernah ditawar mau dibeli, tapi saya menolaknya. Tanpa tanah itu saya enggak tahu lagi mau apa untuk memenuhi kebutuhan hidup karena cuma satu-satunya,” kata pria 45 tahun itu pada Mongabay, pertengahan September. Hingga kini, Sariko masih memegang sertifikat hak milik atas sawahnya. Dia bilang, penawaran atas tanahnya hingga berkali lipat harga normal, tapi tetap tidak dia jual. “Kalau tanah di sini harga normalnya Rp60.000 per meter perseginya, kemarin sudah ditawar Rp125.000. Sekalipun ditawar Rp5 juta per meter, saya enggak kasih kalau buat pabrik semen.” Baginya, pabrik semen bukan hanya menghilangkan penghidupan warga, juga memicu bencana. Mulai dari polusi udara, hilangnya mata air karena penambangan karst, hingga limbah berbahaya yang mencemari lingkungan. Jadi, bayangan di kepalanya jika industri itu berjalan. Belum lagi, izin pertambangan untuk pabrik semen berlangsung…This article was originally published on Mongabay
Riset Ungkap Kerugian Ekonomi Semen Wonogiri
Riset Ungkap Kerugian Ekonomi Semen Wonogiri





Comments are closed.