Sulit membayangkan bahwa sejarah sepeda berawal dari sebuah letusan gunung api di Indonesia. Namun, sejumlah sejarawan meyakini letusan dahsyat Gunung Tambora pada 1815 menjadi salah satu pemicu lahirnya kendaraan roda dua yang kini digunakan miliaran orang di seluruh dunia.
Letusan Tambora merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah modern. Selain menewaskan puluhan ribu orang di Nusantara, abu dan gas sulfur yang terlontar hingga ke atmosfer menyebabkan suhu Bumi turun. Tahun 1816 kemudian dikenal sebagai “tahun tanpa musim panas”. Cuaca yang tidak menentu memicu gagal panen di berbagai wilayah Eropa dan Amerika Utara, sehingga terjadi krisis pangan yang juga berdampak pada ketersediaan pakan ternak.
Saat itu, kuda merupakan moda transportasi utama. Ketika pakan langka, banyak kuda mati atau disembelih. Kondisi tersebut mendorong Karl Drais, seorang penemu asal Jerman, mencari alternatif transportasi yang tidak bergantung pada hewan. Pada 1817, ia memperkenalkan laufmaschine atau “mesin berjalan”, cikal bakal sepeda modern.
Kendaraan itu masih sangat sederhana. Terbuat dari kayu, memiliki dua roda dan kemudi, tetapi belum dilengkapi pedal. Penggunanya melaju dengan mendorong tanah menggunakan kedua kaki, mirip sepeda keseimbangan yang kini populer di kalangan anak-anak. Meski sederhana, inovasi ini membuka jalan bagi perkembangan sepeda selama dua abad berikutnya.
Berbagai penyempurnaan kemudian dilakukan, mulai dari penambahan pedal, rantai, rem, bantalan bola, hingga ban karet. Pada akhir abad ke-19, lahirlah desain “safety bicycle” dengan dua roda berukuran sama yang menjadi dasar hampir semua sepeda modern saat ini.
Dampak sepeda ternyata melampaui dunia transportasi. Kendaraan ini ikut mengubah kehidupan sosial, terutama bagi perempuan. Kemudahan bergerak membuat banyak perempuan di Eropa memperoleh kebebasan bepergian yang sebelumnya sulit dilakukan. Bahkan, perubahan gaya berpakaian menjadi lebih praktis juga dipengaruhi oleh meningkatnya penggunaan sepeda.
Kini, lebih dari dua abad setelah Tambora meletus, sepeda kembali menjadi bagian dari solusi atas tantangan lingkungan. Berbeda dengan kendaraan bermotor, sepeda tidak menghasilkan emisi saat digunakan, membantu mengurangi polusi udara, kemacetan, sekaligus meningkatkan kesehatan penggunanya. Perkembangannya pun terus berlanjut melalui sepeda listrik dan sistem berbagi sepeda yang semakin memudahkan masyarakat beralih ke transportasi rendah karbon.
Sulit membayangkan bahwa letusan gunung api di Indonesia dua abad lalu ikut mengubah sejarah transportasi dunia. Namun, dari krisis yang dipicu Tambora lahir gagasan tentang kendaraan tanpa tenaga hewan, yang kemudian berevolusi menjadi sepeda modern. Hingga kini, sepeda terus berkembang dan justru menjadi salah satu solusi untuk menghadapi tantangan lingkungan yang berbeda: krisis iklim.
Foto utama: Seseorang sedang mencoba sepeda Penny Farthing. Foto: Alistair Paterson/flickr CC BY 2.0.





Comments are closed.