Thu,6 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Sebagai Lulusan Magister University of Melbourne, Rambu Punya Tiket ke Mana pun, tapi Ia Memilih Pulang ke Panti Asuhan di Sumba

Sebagai Lulusan Magister University of Melbourne, Rambu Punya Tiket ke Mana pun, tapi Ia Memilih Pulang ke Panti Asuhan di Sumba

sebagai-lulusan-magister-university-of-melbourne,-rambu-punya-tiket-ke-mana-pun,-tapi-ia-memilih-pulang-ke-panti-asuhan-di-sumba
Sebagai Lulusan Magister University of Melbourne, Rambu Punya Tiket ke Mana pun, tapi Ia Memilih Pulang ke Panti Asuhan di Sumba
service

Rambu Asana bersama anak-anak Sumba


Rambu Asana tak memilih menetap di luar negeri, mengejar karier, atau pindah ke kota besar di Jawa, begitu gelar magister sudah ia dapatkan. Setelah menyelesaikan Magister Social Policy di University of Melbourne, Australia, lewat Beasiswa LPDP jalur Daerah Afirmasi 2019, Rambu pulang. Ia memutuskan kembali ke asalnya, Sumba Tengah, salah satu wilayah di Nusa Tenggara Timur yang selama ini identik dengan keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi.

Salah satu alasannya, Rambu adalah orang asli Sumba sehingga ia paham betul apa yang terjadi di sana. Harapannya, Rambu bisa berkontribusi di daerahnya atau setidaknya bermanfaat bagi orang-orang sekitar.

“Kalau saya balik ke daerah saya, saya hidup dan besar di daerah saya, saya ngerti apa yang terjadi,” katanya.

Rambu Tumbuh di Tengah Anak-anak Panti Asuhan

Untuk memahami keputusan Rambu, Kawan perlu mundur jauh ke masa kecilnya. Bisa dikatakan, Rambu tumbuh dengan cara yang berbeda dan tidak sebagaimana anak-anak pada umumnya.

Ayahnya meninggal saat Rambu baru berusia satu tahun sembilan bulan. Sejak itu, ibunya membesarkannya sendirian sembari bekerja sebagai guru PNS.

Tak hanya itu, sang ibu juga jadi bagian dari relawan pengasuh di panti asuhan di bawah Yayasan Binar Asa Sumba. Makanya, Rambu kecil ikut ibunya ke panti setiap hari. Ia makan, belajar, dan tumbuh bersama anak-anak panti yang datang dari latar belakang yang jauh lebih rentan darinya. Panti ini, menurut Rambu, tidak sekadar menyediakan tempat tinggal.

Sebagian anak yang tinggal di sana sebenarnya masih memiliki orang tua, tapi kondisi keluarga membuat mereka tak bisa tumbuh dengan aman. Ada yang dititipkan ke nenek, lalu sang nenek meninggal dan anak itu tak punya lagi tempat pulang.

“Di Binar Asa ini kami lebih kepada menjawab persoalan kemiskinan… terutama anak-anak yang terlantar atau hidup di tengah keluarga yang bisa dibilang kurang sehat untuk mereka … misalnya anaknya dititipkan ke omanya, lalu omanya meninggal dan anaknya tidak tahu harus ke mana,” jelas Rambu.

Yang perlu diketahui, panti ini berjalan tanpa biaya dari anak asuh sehingga hanya mengandalkan donatur. Ibu Rambu dan seorang pengasuh lain bahkan tak dibayar sama sekali, dan tak jarang justru mereka yang menombok kebutuhan dapur.

“Kadang malah mereka yang membayar uang lauk kalau sudah menipis,” ujarnya.

Dulu, saat masih ditopang donor tetap dari Yayasan Dharmais Jakarta, panti ini pernah menampung sekitar 70 anak. Setelah dukungan itu menyusut, jumlahnya kini stabil di angka sekitar 20 anak, jumlah yang lebih realistis dengan sumber daya terbatas yang ada.

Sekolah Gratis Berkat Prestasi, Bukan Privilese

Bertolak dari anak-anak panti, Rambu juga punya cerita dengan kesulitan yang kurang lebih sama. Meski ibunya berstatus PNS, di Sumba, biaya pendidikan yang layak sering kali tetap terasa berat. Meski demikian, Rambu nyaris tak pernah membayar uang sekolah dari SD hingga SMA, salah satunya karena ia kerap mengantongi sejumlah prestasi. Setiap kali menang lomba, uang hadiahnya diarahkan ibunya untuk biaya sekolah, bukan jajan.

“Dari SD sampai SMA saya tidak pernah bayar uang sekolah… saya dihantar oleh beasiswa,” katanya.

Jalan itu membawanya kuliah Hubungan Internasional di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, dengan beasiswa dari Korea. Di sanalah ia mulai bersentuhan dengan isu pembangunan dan kebijakan publik. Rambu pun sempat bekerja di lembaga kemanusiaan internasional Save The Children, sebelum akhirnya lolos LPDP dan berangkat ke Melbourne pada 2021.

Dari Empat Sesi Kelas Kecil, Lahir Naka Education

Rambu sebenarnya tak menunggu gelar magister rampung untuk mulai bergerak. Pada 2020, saat pandemi membuat banyak anak Sumba kesulitan mengikuti sekolah daring karena tak punya gawai atau akses internet, Rambu membuka ruang belajar kecil di sekitar rumahnya.

“Saya bikin empat sesi kelas. Dalam ruangan besar itu saya mengajar kurang dari 10 anak. Saya mengajarkan bahasa Inggris, IPA, dan Matematika,” kenangnya.

Komunitas kecil itu makin tumbuh menjadi Yayasan Naka Edukasi Nusantara atau Naka Education. Dalam lima tahun, jumlah pengajarnya berkembang jauh.

“Sekarang sudah 12 orang pengajar… total tim kami ada 14 orang,” kata Rambu, sebagaimana dikutip dari laman LPDP Kemenkeu.

Programnya pun meluas, bukan cuma bimbingan belajar, tapi juga kelas TOEFL dan IELTS, pelatihan administrasi, hingga kerja sama dengan British Council untuk pelatihan digital bagi masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Semua ini bermuara pada satu keyakinan yang dipegangnya erat bahwa kemiskinan dapat ditekan lewat pendidikan.

“Saya selalu percaya bahwa kemiskinan itu mampu untuk kita eradicate. Salah satu yang besar pengaruhnya dari pendidikan,” ujarnya.

Di ujung ceritanya, Rambu bicara tentang apa yang sebenarnya ia kejar. Inilah yang jadi latar belakang ia pulang. Bukan perkara uang, tapi apa kontribusinya di masyarakat.

“Saya ingin mati dikenal… bukan dikenal karena banyak uang, tapi karena pernah ada dalam perjalanan hidupnya mereka,” katanya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.