Sat,18 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Sejarah Tragedi Karbala dan Gugurnya Husein bin Ali

Sejarah Tragedi Karbala dan Gugurnya Husein bin Ali

sejarah-tragedi-karbala-dan-gugurnya-husein-bin-ali
Sejarah Tragedi Karbala dan Gugurnya Husein bin Ali
service

Arina.id – Dalam catatan sejarah Islam, tanggal 10 Muharram menjadi salah satu hari yang paling menyedihkan. Pada hari itulah cucu Rasulullah SAW, Husein bin Ali, gugur secara tragis dalam Perang Karbala. Peristiwa tersebut meninggalkan luka yang begitu mendalam, bukan hanya bagi keluarga Rasulullah SAW, tetapi juga bagi umat Islam sepanjang sejarah.

Perang Karbala berlangsung pada 10 Muharram 61 Hijriah, bertepatan dengan 10 Oktober 680 Masehi, di kawasan Padang Karbala yang berada di dekat Sungai Eufrat, wilayah yang kini termasuk Irak.

Dalam peristiwa itu, rombongan Husein bin Ali berhadapan dengan pasukan yang berpihak kepada Yazid bin Muawiyah, khalifah kedua dari Dinasti Bani Umayyah. Pertempuran tersebut berakhir dengan gugurnya Husein bersama 72 orang pengikutnya dalam keadaan yang sangat memilukan.

Kronologi Perang Karbala

Setelah Rasulullah SAW wafat, umat Islam menghadapi dinamika politik mengenai siapa yang berhak melanjutkan kepemimpinan beliau. Meskipun sempat terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat, akhirnya Abu Bakar Ash-Shiddiq dipilih sebagai khalifah pertama. Kedekatannya dengan Rasulullah SAW serta kapasitasnya sebagai sahabat utama menjadi pertimbangan utama dalam penetapan tersebut.

Sepeninggal Abu Bakar, kepemimpinan beralih kepada Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua. Pada masa pemerintahannya, Umar wafat akibat serangan Abu Lu’luah, seorang pandai besi asal Persia yang menyimpan dendam setelah wilayah Persia ditaklukkan oleh umat Islam. Umar ditikam ketika memimpin sholat Subuh di Masjid Nabawi hingga akhirnya meninggal dunia.

Khalifah ketiga, Utsman bin Affan, juga mengalami akhir hayat yang tragis. Beliau terbunuh setelah rumahnya dikepung oleh kelompok oposisi yang berasal dari Mesir, Kufah, dan Bashrah. Pengepungan berlangsung hampir empat puluh hari sebelum akhirnya dua tombak mengenai tubuh Utsman hingga beliau wafat.

Sementara itu, Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat sekaligus penutup masa Khulafaur Rasyidin, gugur akibat serangan seorang anggota Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Ketika Ali sedang bersiap menunaikan sholat Subuh dan berwudu, pedang yang diayunkan Ibn Muljam mengenai kepala beliau hingga menyebabkan wafatnya Ali beberapa saat kemudian.

Sesudah Ali bin Abi Thalib meninggal dunia, masyarakat Kufah yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Islam membaiat putranya, Hasan bin Ali, sebagai khalifah. Setelah menerima baiat, Hasan mengirim surat kepada Muawiyah yang berisi ajakan agar bergabung bersama umat Islam yang telah mengangkatnya sebagai pemimpin.

Namun ajakan tersebut tidak diterima. Muawiyah justru menganggap dirinya lebih layak menjadi khalifah karena pengalaman dan pengaruh politik yang dimilikinya. Bahkan, ia meminta Hasan agar memberikan dukungan kepadanya.

Untuk mewujudkan keinginannya memegang kekuasaan, Muawiyah membawa pasukan dari Syam menuju Kufah. Hasan pun mengajak masyarakat Kufah bersiap mempertahankan pemerintahannya. Akan tetapi, dukungan yang diharapkan tidak sepenuhnya datang. Sebagian besar masyarakat memilih tidak ikut berperang.

Situasi semakin memburuk ketika Ubaidillah bin Abbas, panglima yang dipercaya Hasan memimpin pasukan, justru membelot dan berpihak kepada Muawiyah. Tidak sedikit pula prajurit Hasan yang ikut meninggalkan barisannya dan berbalik mendukung lawan.

Menghadapi keadaan yang semakin sulit, Hasan akhirnya memilih jalan damai dengan Muawiyah. Keduanya menyepakati sebuah perjanjian yang salah satu isinya menyatakan bahwa pemerintahan diserahkan kepada Muawiyah, kemudian akan dikembalikan kepada Hasan setelah Muawiyah wafat. Kesepakatan ini dianggap logis mengingat usia Muawiyah jauh lebih tua dibandingkan Hasan.

Usai menyerahkan tampuk kepemimpinan, Hasan kembali ke Madinah dan menetap di sana. Namun takdir berkata lain. Hasan wafat lebih dahulu daripada Muawiyah sehingga perjanjian tersebut pada akhirnya tidak dapat terlaksana sebagaimana yang direncanakan.

Selanjutnya, Muawiyah berupaya memastikan agar putranya, Yazid bin Muawiyah, menjadi penerus kekhalifahan. Ia meminta umat Islam memberikan baiat kepada Yazid sehingga kekuasaan akhirnya berpindah kepada putranya tersebut.

Setelah resmi menjadi khalifah, Yazid mengirimkan surat kepada Gubernur Madinah agar meminta baiat dari Husein bin Ali, adik Hasan. Akan tetapi, Husein menolak memberikan kesetiaan kepada Yazid karena menurutnya pengangkatan Yazid bertentangan dengan isi perjanjian antara Hasan dan Muawiyah. Penolakan inilah yang kemudian memperuncing konflik.

Pada saat yang sama, Husein menerima banyak surat dari penduduk Kufah yang mengundangnya datang ke kota tersebut untuk dibaiat sebagai khalifah. Dalam surat-surat itu disebutkan bahwa lebih dari 100.000 penduduk Kufah siap memberikan dukungan kepadanya. Dukungan tersebut semakin menguatkan tekad Husein untuk berangkat menuju Kufah.

Akan tetapi, rencana tersebut segera diketahui oleh Yazid. Sebagai langkah politik, Yazid mengganti Gubernur Kufah, Nu’man bin Bisyr, dengan Ubaidillah bin Ziyad yang dikenal keras dan tegas. Pergantian itu berhasil mengubah situasi. Masyarakat Kufah yang sebelumnya menyatakan dukungan menjadi takut sehingga kondisi politik berubah secara drastis.

Pada tanggal 2 Muharram 61 Hijriah, Husein bersama rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, tiba di wilayah Kufah. Berbeda dengan harapan semula, mereka justru tidak memperoleh sambutan sebagaimana yang dijanjikan.

Puncaknya terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriah atau 10 Oktober 680 Masehi. Pasukan Ubaidillah bin Ziyad yang dipimpin Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash, berjumlah sekitar 4.000 orang, mengepung rombongan Husein yang hanya terdiri dari 72 orang.

Pertempuran berlangsung dengan kekuatan yang sangat tidak seimbang. Pasukan Husein dihujani panah, tombak, lembing, dan serangan pedang hingga satu per satu gugur. Pada akhirnya seluruh pasukan Husein tewas, termasuk beliau sendiri yang syahid dalam keadaan yang sangat mengenaskan.

Imam As-Suyuthi mengatakan:

قتل وجيء برأسه في طست حتى وضع بين يدي ابن زياد، لعن الله قاتله وابن زياد معه ويزيد أيضًا. وكان قتله بكربلاء، وفي قتله قصة فيها طول لا يحتمل القلب ذكرها، فإنا لله وإنا إليه راجعون، وقتل معه ستة عشر رجلًا من أهل بيته.

Artinya: “Husein dibunuh dan kepalanya diletakkan di bejana lalu dibawa ke hadapan Ibn Ziyad. Semoga Allah melaknat mereka yang membunuhnya, begitu juga Ibn Ziyad dan Yazid. Husein dibunuh di Karbala. Kisah pembunuhannya begitu panjang dan sangat memilukan sehingga hati tidak sanggup menanggungnya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Bersama Husein turut terbunuh enam belas orang dari keluarganya.

Tragedi Karbala kemudian dikenang sebagai salah satu peristiwa paling menyedihkan dalam sejarah Islam. Di tempat itulah cucu Rasulullah SAW yang sangat beliau cintai, Husein bin Ali, bersama keluarga dan para pengikutnya gugur sebagai syuhada.

Husein adalah putra Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan Rasulullah SAW. Sejak kecil beliau dikenal sangat dekat dengan Nabi SAW, bahkan sering berada dalam satu selimut bersama beliau dan disebut memiliki kemiripan wajah dengan sang kakek. Lahul Fatihah. Wallahu a’lam.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.