● Di setiap Piala Dunia, taruhan tebak skor seolah sudah jadi kebiasaan yang lumrah.
● Benih judi impulsif kerap berawal dari taruhan kecil untuk sekadar seru-seruan.
● Jika tidak dikendalikan, kebiasaan judi ini bisa bikin candu dan berakibat fatal bagi keuangan kita.
Masyarakat kerap memiliki banyak cara agar pertandingan di Piala Dunia terasa lebih personal. Salah satunya lewat kesepakatan sederhana antarteman atau keluarga: siapa yang tim jagoannya kalah, wajib mentraktir yang menang.
Kebiasaan yang dianggap lazim ini kerap berkembang lebih dari sekadar traktiran menjadi taruhan kecil-kecilan. Tanpa disadari, angka taruhan bisa semakin besar.
Jika kebablasan, perilaku ini bisa berujung pada jeratan utang hingga membawa ke jurang kebangkrutan.
Di tahap inilah turnamen olahraga dunia ini menguji cara seseorang mengambil keputusan keuangan yang bisa berdampak pada kondisi finansialnya.
Sedikit demi sedikit, lama-lama terjepit
Riset menunjukkan kecanduan judi kerap berawal dari niat yang tidak disengaja, seperti halnya aktivitas rekreasional/hiburan semacam taruhan di Piala Dunia.
Polanya cukup jelas. Ia bertumbuh dari reaksi spontan atau impulsivitas yang cenderung mengutamakan kepuasan instan ketimbang komitmen jangka panjang.
Dalam pertandingan sepak bola, penonton biasanya terpicu menebak hasil akhir. Dari sinilah taruhan muncul sebagai cara untuk menguji prediksi masing-masing. Ketepatan prediksi kemudian memicu rasa senang.
Semakin besar taruhan, semakin besar rasa senang jika menang. Meski sebaliknya, kalah taruhan berisiko besar merugikan.
Studi terhadap hampir 48 ribu profil pinjaman di Swedia menemukan bahwa lonjakan aktivitas judi selama turnamen berlangsung beriringan dengan meningkatnya risiko gagal membayar pinjaman.
Celakanya, kebiasaan judi, saat ini mayoritas daring dan melibatkan orang muda mulai dari usia 20 tahun—yang akhirnya turut meningkatkan risiko kesulitan membayar pinjaman dua kali lebih tinggi.
Read more: Brand nonsponsor resmi juga bisa nebeng euforia dan meraup untung dari Piala Dunia 2026
Tiga bias pemicu judi
Kenapa kebiasaan yang berawal dari sekadar taruhan bola bisa berujung memengaruhi perilaku berutang dan berinvestasi? Jawabannya terletak pada tiga bias kognitif berikut.
Bias pertama adalah illusion of control/ilusi kendali yang diperkenalkan Ellen Langer (1975). Konsep ini menekankan keyakinan seseorang yang dapat mengendalikan hasil yang sesungguhnya bersifat acak.
Dorongan berjudi kerap muncul jika seseorang memiliki tim jagoan sejak awal turnamen, lalu merasa telah “membaca” jalannya kejuaraan dengan tepat. Padahal, keyakinan tersebut semu karena sepak bola dipenuhi dengan ketidakpastian.
Bias kedua adalah fenomena hot hand fallacy atau tangan panas, dari Gilovich, Vallone, dan Tversky (1985).
Konsep ini berasal dari olahraga basket, yakni kondisi seorang shooter (contohnya Stephen Curry) yang tembakannya akurat masuk ring beruntun. Bias ini menimbulkan keyakinan keliru bahwa keberhasilan yang beruntun akan terus berlanjut.
Padahal, sehebat apa pun “atletnya”, mereka tetap memiliki batasan.
Bias ketiga adalah kepercayaan diri berlebih atau overconfidence. Terbukti bahwa investor individu yang terlalu percaya diri pada kalkulasi pribadinya memiliki risiko lebih besar melakukan transaksi berlebihan yang berujung pada kerugian.
Read more: Padatnya kompetisi sepak bola di Eropa berpotensi bikin atlet, klub, dan bisnis ‘burnout’
Bisa menjalar ke keputusan finansial yang lebih besar
Kaitan antara sepak bola dan judi bukan sekadar asumsi. Ada hubungan yang erat antara intensitas menonton pertandingan sepak bola, khususnya turnamen besar seperi Piala Dunia dan perilaku berjudi.
Dampaknya tidak berhenti pada kebiasaan memasang taruhan. Pola pikir spekulatif dari hal-hal kecil dapat berlanjut ke keputusan finansial yang lebih besar, termasuk di pasar saham.
Goldman Sachs melansir pasar saham negara juara piala dunia (dalam konteks ini Jerman pada 2014) melesat melebihi benchmark global pada bulan pertama setelah final. Namun, euforia tersebut bersifat jangka pendek lantaran berbalik arah dalam setahun.
Demam bola ini bahkan memengaruhi perilaku seseorang di pasar saham. Studi terhadap day trader di Kanada bahkan mengungkap bahwa semakin tinggi kecenderungan berjudi seseorang, semakin spekulatif pula gaya bermainnya di pasar.
Riset lain menambahkan instrumen finansial modern seperti perdagangan komoditas menunjukkan profil risiko yang setara dengan mesin slot dan taruhan olahraga.
Artinya, para penjudi cenderung memilih pasar saham bervolatilitas tinggi (high risk, high return). Mereka diselimuti dorongan spekulatif ketimbang akal sehat.
Kesimpulannya, spekulasi finansial memiliki korelasi kuat dengan perilaku berjudi, dan spekulasi yang bermasalah memiliki hubungan kuat dengan judi yang bermasalah.
Pentingnya pengendalian diri
Uraian di atas tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa taruhan rekreasional saat nobar Piala Dunia pasti menghancurkan keuangan kita. Namun, berbagai studi membuktikan garis antara kebiasaan yang wajar dan pola membahayakan ternyata jauh lebih tipis dari yang kita bayangkan.
Masalahnya, momen Piala Dunia ini juga dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki utang untuk mencoba peruntungan untuk melunasinya. Kepercayaan diri berlebih membuat seseorang hakulyakin bisa melunasi utang-utangnya yang hasil akhirnya justru lebih banyak berujung pada kebangkrutan.
Pelajaran ini relevan bagi Indonesia, meski dalam konteks yang berbeda. Judi tetap ilegal di sini, apa pun dalihnya. Pesannya harus tegas bahwa taruhan di Piala Dunia, sekecil apa pun, tetap membawa risiko. Bukan cuma risiko secara hukum, tapi juga risiko dalam pengelolaan keuangan
Piala Dunia akan selalu datang setiap empat tahun. Begitu pula godaan untuk menjadikannya ajang taruhan, sekecil apa pun bentuknya. Yang perlu diingat bukan soal menang atau kalah dalam pertandingan.
Kita perlu mawas diri saat rasa percaya diri dari satu taruhan kecil mulai menyusup ke keputusan keuangan yang jauh lebih besar.
Jangan sampai, kesenangan yang dihadirkan Piala Dunia mengantarkan kita pada jeratan utang atau bahkan kebangkrutan karena larut dalam judi dan pengambilan keputusan finansial keliru baik dalam bentuk utang, maupun dalam bentuk saham yang dibeli karena merasa sedang hoki.
Read more: Literasi keuangan syariah bisa jadi penangkal pinjol dan judol





Comments are closed.