DULU pernah punya anakan kucing, kami beri nama Beto. Masih bocah tapi badannya sudah gembul nian–doyan makan. Tiap pagi kami kasih sarapan, seringnya ikan pindang, selingannya whiskas kalengan. Lahap betul makannya. Perut kenyang, mode perilakunya segera berubah kalem. Tapi berbeda kalau lagi telat sarapan, Beto jadi galak suka teriak-teriak kayak kesurupan. Itu kucing, lalu bagaimana manusia?
Ada nasihat “hati-hati lah sama orang lapar, salah dikit senggol bacok”. Inilah kenapa celetukan “orang lapar mudah marah” menjadi populer sekarang. Situasi seperti itu lazimnya disebut “hangry” , gabungan antara “hungry” dan “angry” . Meskipun hakikatnya kombinasi antara lapar dan marah dalam diri manusia relatif lebih rumit melibatkan interaksi berbagai hal; biologis, kepribadian, dan tentu saja isyarat kealaman (situasi lingkungan).
Lalu tiba-tiba jadi teringat bentrokan kemarin di Matraman Jakarta. Pemicunya sepele. Seorang warga lapar antre nasi uduk meminta tambahan kerupuk. Tapi setelah bungkusan nasi diterima, si penjual lupa tidak menambahkannya. Si pembeli menjadi agak emosi karena harus balik lagi antre.
Di saat bersamaan ada pengendara motor lewat menggeber-geber knalpot di dekat penjual nasi uduk. Konon si pembeli yang sewot gara-gara lupa dikasih kerupuk tadi emosi kemudian menegur dengan nada tingggi, “Berisik….!” Pengendara motor tidak terima, lalu cekcok sebentar terjadi lalu pergi.
Selanjutnya yang terjadi bisa dibaca dalam banyak berita. Pengendara motor minta bantuan kawan-kawannya balik lagi mencari si pembeli nasi uduk tanpa kerupuk tadi yang sudah pergi. Walhasil, bentrokan pecah sampai merepotkan polisi. Begitulah efek dari marah. Analisisnya bisa jadi benar ada hubungan antara penyebab perilaku marah dengan lapar, tapi tentu saja sebab musababnya tidak selalu begitu. Dalam banyak kasus biasanya melibatkan interaksi banyak hal.
Kembali lagi soal hubungan marah dan lapar. Paul Currie, pakar perilaku nafsu makan dan profesor psikologi di Red College, Portland Amerika Serikat (AS) menjelaskan bahwa rasa lapar bisa mengubah seseorang menjadi galak dan sangat emosional. Ini karena rasa lapar bisa menimbulkan stres, kecemasan, serta kegelisahan yang berujung pada munculnya amarah. Sinyal lapar yang dikirim otak akan merangsang pelepasan hormon adrenalin kortisol hingga membuat manusia sulit mengendalikan emosinya ketika lapar.
Rasa lapar juga menjadi tanda bahwa tubuh kekurangan glukosa dan nutrisi, sehingga perlu segera makan. Kondisi kekurangan nutrisi ini berdampak pada menurunnya kemampuan otak mengendalikan emosi saat lapar. Studi ilmuan dari Universitas Ohio (AS) juga menemukan bahwa semakin rendah kadar gula dalam darah seseorang, maka akan semakin mudah marah dan agresif terhadap pasangan atau orang di sekitarnya.
Lalu bagaimana jika dihubungkan dengan perilaku sosial masyarakat? Tentu berkaitan. Sepanjang sejarah peradaban, ada banyak tragedi kekerasan atau kerusuhan di satu negara juga dipicu oleh kasus kelaparan akibat krisis ekonomi; ketika harga kebutuhan pokok melonjak tinggi, lapangan pekerjaan menyusut, lalu pelemahan daya beli terjadi. Di sisi lain pemerintah gagal mengatasi masalah-masalah itu. Biasanya setelah krisis ekonomi, fase berikutnya adalah krisis sosial berujung pada kerusuhan demi kerusuhan.
Pada titik situasi itulah, penyebab masyarakat marah tidak lagi hanya karena merasa lapar, tetapi juga karena merasa telah kehilangan harapan hidup kenyang. Ekspresi galak mereka merupakan akumulasi dari rasa frustrasi yang muncul dari berbagai kesulitan hidup dan kemiskinan yang kian akut.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui Relative Deprivation Theory yang dikembangkan Ted Robert Gurr (1970). Gurr berpendapat bahwa konflik dan kekerasan tidak semata-mata dipicu kemiskinan absolut, melainkan oleh perpaduan antara harapan masyarakat dengan kenyataan yang mereka alami. Semakin besar kesenjangan antara apa yang dianggap layak diperoleh dengan apa yang benar-benar diperoleh, semakin besar pula potensi munculnya kemarahan sosial.
Menurut teori ini, masyarakat akan relatif tetap tenang apabila mereka miskin tetapi memiliki harapan yang realistis. Sebaliknya, ketika masyarakat menyaksikan sebagian kelompok menikmati kemakmuran sementara mereka sendiri semakin terpuruk, rasa ketidakadilan akan tumbuh. Di era media sosial, proses ini berlangsung jauh lebih cepat karena masyarakat setiap hari disuguhi gambaran kehidupan elite, kemewahan pejabat, atau keberhasilan kelompok tertentu, sementara kondisi ekonomi mereka justru memburuk.
Perspektif lain dijelaskan dalam Strain Theory dari Robert K. Merton (1938). Merton menjelaskan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki tujuan yang sama, seperti kesejahteraan dan kehidupan lebih baik. Namun, ketika akses untuk mencapai tujuan tersebut tertutup akibat kemiskinan, rendahnya pendapatan, atau ketimpangan kesempatan, sebagian individu akan mencari cara lain untuk melampiaskan tekanan yang mereka alami.
Dari perspektif sosiologis, Neil Smelser menjelaskannya dalam Theory of Collective Behavior . Dalam situasi itu menurut dia tekanan ekonomi akan menjadi salah satu faktor struktural yang menciptakan ketegangan sosial. Ketika tekanan tersebut bertemu dengan pemicu tertentu—misalnya kenaikan harga BBM, kelangkaan bahan pokok, tuduhan ketidakadilan pemerintah, atau tindakan aparat—maka kemarahan masyarakat dapat berubah menjadi aksi massa yang sulit dikendalikan.
Kemuda bicara Indonesia, sejarah mencatat beberapa kali huru hara dan amuk masa pernah melanda negeri akibat kondisi yang semacam ini. Krisis ekonomi memicu demonstrasi besar-besaran, lalu naik ke tahap yang dipaksakan; penjarahan, serta kekerasan. Semoga kesulitan ekonomi segera teratasi, masyarakat kita kenyang, hidup tenang, dan hal-hal buruk yang traumatis itu tidak terulang lagi. AMIN




Comments are closed.